Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Qatar
4 Negara Arab Hentikan Hubungan Diplomatik dengan Qatar
2017-06-07 13:17:18
 

Dewan Kerjasama Teluk (GCC).(Foto: Istimewa)
 
ARAB SAUDI, Berita HUKUM - Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yang dituduh mendukung dan mendanai terorisme bersama Iran.

Perselisihan Qatar dengan negara-negara Teluk telah berlangsung sejak dua dekade silam. Namun pidato Emir Tamim bin Hamad al-Thani pada Mei 2017 yang secara terang-terangan menyatakan dukungan terhadap Iran, Hamas dan Ikhwanul Muslimin menutup pintu rekonsiliasi antara lima negara minyak di Teluk Persia.

Empat negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar Senin pagi (5/6), memicu ketegangan diplomatik baru di Timur Tengah. Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir menyatakan Qatar mendukung gerakan terorisme bersama-sama dengan Iran.

Negara-negara tersebut mengusir diplomat Qatar dari wilayah mereka dan menyatakan akan menghentikan hubungan darat, laut dan udara dengan Qatar. Pemerintah Qatar di bawah pimpinan Sheik Tamim bin Hamad Al-Thani (foto artikel) sejauh ini belum menanggapi terputusnya hubungan diplomatik, meski sebelumnya membantah telah mendanai kelompok-kelompok ekstremis.

Arab Saudi mengatakan pihaknya juga akan menutup perbatasan daratnya dengan Qatar, yang berarti Qatar secara efektif akan terpotong dari wilayah Semenanjung Arab.

Arab Saudi, Bahrain dan Abu Dhabi juga melarang warganya berkunjung ke Qatar sekaligus meminta warganya yang berada di Qatar meninggalkan negara itu. Maskapai penerbangan Etihad Airways dari Abu Dhabi, menyatakan akan menunda semua penerbangan ke Qatar "sampai ada pemberitahuan lebih lanjut."

Tidak jelas bagaimana pemutusan hubungan diplomatik itu akan mempengaruhi penerbangan Qatar Airways, yang secara rutin terbang melalui wilayah udara Saudi. Maskapai ini hingga kini belum menanggapi kebijakan baru itu.

Qatar adalah salah satu lokasi Komando Pusat militer Amerika Serikat dengan sekitar 10.000 tentara di Pangkalan Udara al-Udeid. Belum jelas apakah keputusan ke-empat negara Arab itu akan mempengaruhi operasi militer Amerika Serikat.

Arab Saudi mengatakan keputusan drastis untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar diambil karena "dukungan terhadap berbagai kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan untuk mengacaukan wilayah" termasuk Ikhwanul Muslimin, al-Qaida, dan kelompok-kelompok militan Islam yang didukung oleh Iran. Sementara Kementerian Luar Negeri Mesir menuduh Qatar terus mendukung kelompok teroris dan"semua upaya untuk menghentikannya mendukung kelompok teroris telah gagal."

Bahrain menuduh Qatar melakukan "hasutan lewat media serta mendukung kegiatan dan pendanaan teroris bersenjata yang terkait dengan kelompok-kelompok Iran untuk melakukan sabotase dan menyebarkan kekacauan di Bahrain".

Di Sydney, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan dia tidak percaya bahwa krisis diplomatik akan mempengaruhi perang melawan ISIS di Irak dan Suriah.

"Saya pikir, yang kita saksikan saat ini adalah daftar ketidakpercayaan yang terus berlanjut di negara-negara itu untuk beberapa waktu, dan mereka geram untuk mengambil tindakan agar hal itu segera ditangani," kata Tillerson. "Kami tentu akan mendorong para pihak untuk duduk bersama dan mengatasi perbedaan ini," tandasnya.

Ketegangan diplomatik baru di Timur Tengah ini memicu naiknya minyak global sebanyak 1,24 persen menjadi $ 50,57 per barel pada awal perdagangan di bursa-bursa Asia.

Ketegangan Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir mencapai titik puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah keempat negara itu memutuskan hubungan diplomatik.

Dalam sebuah langkah yang dirancang sebagai tekanan pada pemerintahan di Doha, negara-negara tetangga Qatar di Teluk Arab juga menutup perbatasan mereka dengan negara kaya tersebut. Sementara Mesir menutup wilayah udara dan pelabuhan untuk semua bentuk angkutan Qatar.

Wartawan BBC Arab, Amir Rawash memaparkan empat alasan utama di balik krisis diplomatik ini.

Ikhwanul Muslimin

Qatar dan negara-negara tetangganya di Dewan Kerjasama Teluk mendukung pihak-pihak yang berbeda dalam perubahan politik menyusul apa yang disebut musim semi Arab (Arab spring).

Doha dianggap sebagai pendukung kelompok Islamis garis keras yang di beberapa negara berhasil mendapatkan keunggulan politik.

Misalnya, setelah mantan presiden Mesir Mohamed Morsi - pemimpin Ikhwanul Muslimin - digulingkan pada tahun 2013, Qatar menyediakan suatu platform untuk para anggota kelompok yang dilarang oleh pemerintah Mesir itu.

Arab Saudi dan UEA juga menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi 'teroris.'

DohaHak atas fotoSTRINGER/AFP/GETTY IMAGES
Image captionDoha: Seberapa jauh Qatar akan terguncang oleh pemutusan hubungan diplomatik ini?

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di lembaga pemberitaan Saudi, SPA, Qatar dituduh "mendukung berbagai kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan untuk mengacaukan wilayah tersebut, termasuk Kelompok Ikhwanul Muslimin, Daesh (ISIS) dan Al-Qaida."

Namun, Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan dalam sebuah pernyataan, langkah pemutusan hubungan oleh Riyadh, Abu Dhabi dan Manama itu "tidak dapat dibenarkan dan didasarkan pada tuduhan yang tak terbukti dan tak berdasar."

Pernyataan tersebut menekankan bahwa Qatar 'berkomitmen' pada Piagam Dewan Kerjasama Teluk dan "menjalankan tugasnya dalam memerangi terorisme dan ekstremisme".

Pendekatan ke Iran

Krisis saat ini dipicu oleh sebuah laporan yang mengutip ucapan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengkritik 'sikap bermusuhan AS' terhadap Iran.

Qatar mengatakan bahwa itu pernyataan palsu ulah dari suatu komplotan peretas 'yang tercela.'

Arab Saudi, saingan utama Republik Islam Iran, telah lama mencemaskan ambisi regional Teheran.

Saudi bahkan dalam pernyataannya menuduh Doha "mendukung kegiatan kelompok teroris yang didukung Iran di kawasan Qatif," sebuah wilayah Syiah di timur Arab Saudi. Qatar juga dituduh mendukung pemberontak Houthi di Yaman.

Doha, yang ambil bagian dalam koalisi pimpinan Saudi di Yaman, menekankan bahwa mereka "menghormati kedaulatan negara lain, tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka."

Emir of Qatar Thamim Bin al-Thani with US President Donald Trump in Saudi Arabia last monthHak atas fotoREUTERS
Image captionEmir Qatar Thamim Bin al-Thani bersama Presiden AS Donald Trump di Saudi Arabia, bulan lalu.


Konflik Libya

Libya jatuh dalam kekacauan sejak mantan pemimpin Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pada tahun 2011.

Orang kuat di militer Libya, Khalifa Haftar, yang didukung Mesir dan UEA, menuduh Qatar mendukung 'kelompok-kelompok teroris.'

Haftar bergabung dengan pemerintah yang berbasis di Tobruk, di timur Libya. Sementara Qatar mendukung pemerintah tandingan yang berbasis di Tripoli.

Manuver media

Dalam pernyataan hari Senin, Arab Saudi menuding Qatar 'menggunakan media untuk menghasut.'

Media Qatar menyediakan ruang bersuara bagi para anggota Ikhwanul Muslimin.

Namun, Qatar mengatakan bahwa telah terjadi "suatu kampanye hasutan berdasarkan tuduhan yang sepenuhnya merupakan rekayasa."

"Kampanye media (melawan Qatar) gagal meyakinkan opini publik di wilayah ini dan di negara-negara Teluk khususnya, yang menjadi sebab terus meningkatnya ketegangan," kata kementerian luar negeri Qatar dalam sebuah pernyataan.(dw/BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Qatar
 
  Qatar Diberi Tenggat 48 Jam Penuhi Tuntutan 4 Negara Arab
  Inilah 13 Tuntutan dan Ultimatum Arab Saudi pada Qatar
  Pengasingan Qatar, kata Erdogan, 'Berlawanan dengan Nilai-Nilai Islami'
  Qatar Membuka Jalur Laut Langsung dengan Oman
  AS Minta Negara-negara Teluk Longgarkan Blokade terhadap Qatar
 
ads

  Berita Utama
4 Tersangka Narkoba Ditangkap dan 1 Pelaku Tewas Melawan Polisi

Polda Metro Jaya dan Perum Bulog Melakukan Operasi Pasar di Jabodetabek

Majelis Hakim Vonis Bebas Terdakwa Kasus Pungli Abun dan Elly

Mengenal Kang Ajat Cagub Jabar yang Resmi Diusung Gerindra

 

  Berita Terkini
 
Pemprov DKI akan Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Sunter

Sesko TNI Harus Menjadi Pusat Keunggulan Berkelas Dunia

4 Tersangka Narkoba Ditangkap dan 1 Pelaku Tewas Melawan Polisi

Polda Metro Jaya dan Perum Bulog Melakukan Operasi Pasar di Jabodetabek

Panglima TNI: APIP Wajib Tingkatkan Kemampuan Profesionalisme

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2