Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Oleh : Chris Komari
Bagaimana Mengatasi Utang Indonesia?
Sunday 24 Mar 2013 03:33:14
 

Hutang Pemerintah Indonesia Menyengsarakan Rakyat.
 
Ingat, rakyat Indonesia kini di bebani utang negara, rate pembayaranya sudah mencapai $57 million dollar per hari...!!!???

Uang itu nilainya sama dengan Rp. 530 milyar per hari...!!! Coba uang segini buat beli sayur asem, bakso, sate kambing atau pecel lele...???

Terus, sekarang solusinya apa dan bagaimana?

Banyak langkah dan options yang bisa di tempuh Indonesia. Tetapi tidak ada "a single magic bullet" untuk memecahkan masalah UTANG ini.

Scara details, bisa disampaikan dalam pertemuan tertutup (one-on-one) karena the sensitivity dari options yang ada, yang memiliki dampak yang sangat luas terhadap perekonomian Indonesia dan bisa mengudang retaliasi ekonomi dari investor asing.

Yang jelas apapun yang akan ditempuh, Indonesia harus memulai dari 4 hal:

1). Dampak, Resiko dan Hambatan Utang.

Pemerintah harus mampu melihat dampak negative dan resiko stabilitas negara yang akan muncul dari banyaknya Utang ini terhadap Indonesia, dan kemampuan Indonesia untuk bisa maju ke depan dan bersaing secara global.

2). Income Revenue Vs. Expenses

Utang itu hanya akan bisa dibayar dan diperkecil, kalau Indonesia:
2a). Mau membenahi diri,
2b). Mau menutup segala kebocoran yang ada,
2c). Menutup dan mengurangi penghamburan dana APBN/APBD,
2d). Meninggkatkan penghasilan negara,
2e). Dan kemudian mengurusi dan mencari jalan dari berbagai cara dan pendekatan untuk mengurangi dan akhirnya menghapuskan Utang negara ini dari himpitan APBN.

3). Untuk bisa menjalankan point #2 diatas, maka segenap aparat pemerintah dan wakil rakyat di pemerintahan dari Executive, Legislative dan Judikative harus bisa bekerja sama dalam satu tujuan (with one united voice and goal), yakni membebaskan Indonesia dari himpitan Utang.

4). Untuk bisa menjalankan point #3 diatas, Indonesia memerlukan seorang strong democratic leadership; bukan seorang dictator maupun oligarchy, yang pragmatis dan bisa bekerja sama dengan banyak pihak.

Sekarang silahkan di bicarakan, dirembuk dan diperdebatkan point #1, #2, #3 dan #4.

Saya sudah bahas point #1, dan saya akan posting lagi, karena hal ini sangat penting untuk dipahami dan dimengerti dengan baik. Sebab tanpa memahami hal ini, jalan penyelesaian yang ditempuh bisa salah target.

Angka-angka yang perlu diperhatikan:

*) Jumlah utang Indonesia saat ini (2013) sudah mencapai Rp. 2.000 trilliun
**) Total anggaran APBN 2013 dicanangkan sebesar Rp. 1,657 trilliun.
(Utang Indonesia jauh lebih besar dari total keseluruhan anggaran APBN pemerintah pusat)

***) Total GDP/GNP Indonesia 2012 sebesar Rp. 5.000 trilliun. Kalau GDP tetap, Utang Indonesia akan mencapi 40% dari total GDP.

Perlu diketahui, GDP itu bukan asset negara atau milik negara. Dari GDP, pemerintah akan mendapatkan income revenues, asal pembayar pajak nggak ngemplang dan asal pemasukan negara tidak diembat oleh maling berdasi. Dan GDP itu bisa jadi sebagian besar milik asing.

Ada 6 masalah BESAR atau DAMPAK NEGATIVE yang dihadapi bangsa Indonesia dengan Utang yang begitu besar:

1). Utang Indonesia ini dalam bentuk Dollar, Yen dan Euro.

Kalau nilai KURS mereka menguat, dan nilai Rupiah Indonesia melemah, maka jumlah UTANG Indonesia itu akan naik dengan sendirinya, tanpa di apa-apain. Hanya perbedaan KURS saja dan jumlahnya kenaikan utang itu bisa RATUSAN MILYAR dalam sekejab.

2). Dengan kenaikan UTANG Indonesia semakin tahun semakin besar, maka OBLIGASI pembayaran tiap tahunya juga akan naik, tiap tahun TAMBAH besar. Obligasi pembayarn utang setiap tahun yang semakin besar ini, akan semakin menguras dana APBN.

3). Kalau dana APBN itu di kuras untuk membayar UTANG, maka pemerintah pusat akan TIDAK memiliki dana untuk merangsang (stipulasi) EKONOMI DALAM NEGERI. Kalau ekonomi dalam negeri tidak di urusin, sector riil dalam negeri tidak berjalan, dan Indonesia akan terus mengharapkan uang masuk atau incoming cash flow dari INVESTOR ASING. Akhirnya banyak sumber daya alam Indonesia yang di miliki dan digarap oleh investor asing.

4). Karena pemerintah pusat tidak punya dana untuk ngurusin sector ekonomi dalam negeri, sector riil macet dan lesu, akibatnya pengangguran akan semakin besar, yang miskin akan semakin mlarat dan subsidi atau public services yang disediakan oleh pemerintah akan semakin dikurangi dan dihapuskan.

Alhasil, kualitas kehidupan rakyat Indonesia akan semakin memburuk dan rakyat akan semakin tidak puas dengan kondisi kehidupan yang ada.

Kedua, nilai KURS rupiah akan semakin MEROSOT, karena kalah bersaing dengan Negara-negara lain, dimana para pengusaha dalam negerinya banyak mendapatkan bantuan dan SUBSIDI dari pemerintah untuk bisa bersaing secara global.

Kondisi ini akan semakin memperburuk nilai KURS Rupiah dan merosot nilainya terhadap nilai Dollar, Yen dan Euro!

5). Kondisi ini akan semakin diperburuk, karena pemerintah pusat tidak akan punya dana untuk memperbaiki infra structures yang sudah rusak berat dan public services yang sangat dibutuhklan rakyat miskin, seperti air bersih, kesehatan, jalan, jembatan, llistrik dan minyak.

Untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan rakyat ini, maka pemrintah pusat tidak ada pilihan lain, kecuali PINJAM UANG alias ngutang lagi dan ngutang lagi ke mana...???

The Americans, The Jews, The Rothschild's Banks, The Rockefeller's Banks, the IMF, The World Bank, the ADB, The JBIC, The Capitalists and the Neo-Liberalist yang kalian benci!!!
The circle of the devil alias lingkaran setan!!!

Kalau UTANG Indonesia yang sudah besar itu, akan terus ditumpuk dengan utang-utang baru, yang lebih besar lagi, terus mau dikemanain Indonesia...???

6). Kondisi ini sangat mengerikan, karena memberikan false perceptions dan false hopes terhadap rakyat Indonesia, tak ubahnya seperti a combustion chamber. Hanya dengan a very little tiny spark, akan meledak dan membakar semua yang ada dalam ruang chamber. Hal itu telah kita lihat ditahun 1997/1998.

Dengan UTANG yang begitu besar dan kondisi seperti itu menjadikan Indonesia susceptible atau kondusif terhadap INTERNAL dan EXTERNAL SHOCK! Rakyat begitu tidak puas dan muak dengan kondisi yang ada. Makanya sedikit berselisih, yang muncul perang, kekerasan dan bunuh membunuh.

Masak kondisi seperti ini akan terus dibiarkan dan dipertahankan?
Soal "pemborosan dan kebocoran" di tingkat pusat dan dipemerintah pusat.
Coba lihat fakta ini dengan baik:
1). Negara maju, sangat maju seperti U.S.A, memiliki luas territory sebesar 9.826.630 Km2. Sementara itu Indonesia luas territory nya sebesar 1,919,440 Km2.

* Jadi secara territory U.S.A itu 9x lebih besar dari Indonesia.
2). Dari sudut GDP, U.S.A memiliki GDP sebesar $15 trilliun. Sementara itu, total GDP Indonesia hanya Rp. 5.000 trillun ruopiah atau sekitar $537.6 billion dollar. Masih kurang dari $1 trilliun U.S Dollar.

* Jadi secara GDP, USA itu memiliki GDP 15.5x lebih besar dari Indonesia.
3). Dari jumlah penduduk, USA pun masih memiliki jumlah penduduk yang lebih besar dari Indonesia (313 juta jiwa di USA vs. 248 juta jiwa di Indonesia).

Di USA, jumlah anggota U.S. Congress hanya 535, dan itu sudah termasuk 100 Senator dari 50 negara bagian.
Di Indonesia, anggota DPR berapa? 692 orang (560 DPR+132 DPD). Ada 157 orang lebih banyak dari anggota U.S Congress.

Jumlah anggota setingkat Kabinet Menteri di U.S.A ada berapa? 22 orang (+/-)
Di Indonesia, jumlah Menterinya berapa? 40 orang
Belum lagi ditambah WAKIL MENTERI, berapa orang? 17 0rang

Belum lagi wakil Menterinya punya wakil lagi, dan wakilnya punya assistant lagi...yang semuanya perlu gaji, tunjangan, perumahan, transportasi, kantor yang biaya operasinya dari APBN.

Di Indonesia ada badan, lembaga, department, komite dan komisi yang jumlahnya tuh lebih dari 105. Semuanya budget driven, meaning biaya operasinya dari APBN.

What is wrong with this picture?

Menurut perhitungan tim ekonomi Chairman Gerindra Prabowo Subianto, Indonesia tiap tahunya kebocoran keluar negeri sebanyak Rp. 200 trilliun.

Yang diembat pegawai pajak, yang ngemplang pajak, yang diembat orang-orang partai, anggota DPR, dan Executive?
Now go figure!!!
There is a will, there is a way!

Terlalu banyak cara dan options yang bisa ditempuh untuk mengurangi dan akhirnya menghapuskan utang Indonesia.



 
   Berita Terkait > Oleh : Chris Komari
 
  Bagaimana Mengatasi Utang Indonesia?
 
ads1

  Berita Utama
AHY Tempuh Jalur Hukum Terkait Penyelengaraan KLB Deliserdang

Varian Baru Covid-19 Masuk Indonesia, Pimpinan DPR Minta Pengawasan Ketat Bandara

Cetak Sejarah, Akhirnya Kyai Said Aqil PBNU Dapat Jatah Komisaris BUMN

Pembukaan Investasi Miras Ancam Kehidupan Rumah Tangga Keluarga Indonesia

 

ads2

  Berita Terkini
 
Suap Pajak Saat Pandemi, Anis: Rapor Merah dan Kerja Berat Pemerintah

Deteksi Dini Kejahatan Siber, Baintelkam Polri - XL Axiata Tingkatkan Sinergitas

PKS: Pak Jokowi Katanya Benci Produk Asing, Kok Impor Beras 1.5 Juta Ton?

Komisi III Dukung Pemerintah Segera Sahkan RUU KUHP

KY Gandeng KPK untuk Seleksi Calon Hakim Agung

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2