Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Cyber Crime    
Hacker
Buru Hacker DarkSide, AS Tawarkan Hadiah Setara Ratusan Miliar Rupiah Bagi Pemberi Informasi
2021-11-07 08:57:52
 

Ilustrasi. Amerika Serikat mengumumkan hadiah $ 10 juta pada hari Kamis untuk membantu menemukan pemimpin geng ransomware terkenal DarkSide.(Foto: Istimewa)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Departemen Luar Negeri AS umumkan akan beri hadiah untuk informasi terkait pemimpin kelompok kejahatan dunia maya, DarkSide, yang pada Mei lalu lumpuhkan pipa minyak utama AS.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (4/11) mengumumkan akan memberi hadiah sebesar $10 juta atau senilai lebih dari Rp143 miliar untuk informasi yang membantu mereka menemukan pemimpin grup yang menyandera data dengan meminta uang tebusan di dunia maya atau ransomware, DarkSide.

Ini adalah upaya terbaru negara itu untuk menghentikan serangan pemerasan di dunia maya oleh DarkSide. Washington menuding mereka sebagai dalang di balik terhentinya operasional jaringan pipa minyak utama negara itu pada Mei 2021.

Wakil Jaksa Agung, Lisa Monaco, mengatakan bahwa "dalam beberapa hari dan minggu mendatang, Anda akan melihat lebih banyak penangkapan," lebih banyak penyitaan uang tebusan dari peretas dan tambahan operasi penegakan hukum.

''Jika Anda menargetkan kami, kami akan menargetkan Anda,'' ujar Monaco dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AP minggu ini. Dia menolak untuk mengatakan secara spesifik siapa saja yang kemungkinan akan menghadapi penuntutan. Posisi Lisa Monaco saat ini telah menjadikannya sebagai pemain kunci dalam upaya pemerintah AS melawan ransomware.

Ada hadiah tambahan

Selain hadiah untuk informasi yang bisa menangkap para pemimpin kelompok peretas, Departemen Luar Negeri juga menawarkan hingga $5 juta (kurang lebih Rp71,7 miliar) untuk informasi yang dapat mengarah ke penangkapan atau penjatuhan hukuman kepada siapa pun, di negara mana pun, yang mencoba berpartisipasi dalam insiden ransomware DarkSide.

"Dengan menawarkan hadiah ini, Amerika Serikat menunjukkan komitmennya untuk melindungi korban ransomware di seluruh dunia dari eksploitasi oleh penjahat dunia maya," kata Departemen Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

FBI mengatakan DarkSide bermarkas di Rusia dan bertanggung jawab atas serangan siber pada bulan Mei yang sempat melumpuhkan jaringan pipa minyak dan gas Colonial Pipeline. Tidak beroperasinya jaringan pipa tersebut mengakibatkan penutupan tempat pengisian bahan bakar selama berhari-hari di AS dan menyebabkan kenaikan harga gas dan kekurangan bahan bakar di beberapa bagian.

Terlepas dari besarnya jumlah hadiah yang cukup menggoda, tidak semua pakar keamanan siber yakin bahwa imbalan ini akan efektif dalam mengungkap peretas.

Kejahatan dunia maya meningkat

Colonial Pipeline mengatakan telah membayar hampir $5 juta dalam bentuk Bitcoin kepada para peretas untuk bisa kembali mendapatkan akses ke sistem mereka. Pada bulan Juni, Departemen Kehakiman AS berhasil mengembalikan sekitar $2,3 juta (kurang lebih senilai Rp32,9 miliar) dari uang tebusan itu.

Sebelumnya, perusahaan pengolah daging terbesar di dunia yakni JBS pada bulan Juni mengatakan bahwa mereka telah membayar uang sebesar $11 juta setelah diretas oleh kelompok Rusia yang dikenal dengan nama REvil.

Data paling anyar yang dikeluarkan bulan ini menunjukkan bahwa otoritas AS menerima laporan adanya pembayaran terkait ransomeware dengan nilai sekitar $590 juta atau (Rp8,5 triliun) pada paruh pertama 2021.

Angka itu 42% lebih tinggi dari jumlah keseluruhan pembayaran yang diungkapkan sepanjang tahun 2020, kata laporan Departemen Keuangan AS. Diyakini bahwa biaya sebenarnya bisa mencapai miliaran dolar AS.

Pemerasan dunia maya dilakukan oleh peretas dengan melibatkan pembobolan jaringan perusahaan atau institusi, sering kali melalui phishing atau penipuan lainnya.

Para penjahat siber mengenkripsi data penting perusahaan dan meminta uang tebusan yang dibayarkan lewat mata uang kripto dengan imbalan kunci digital bagi perusahaan untuk kembali bisa mengakses data mereka.

Perusahaan dan institusi sering menghadapi dilema dan tekanan dari para peretas untuk membayar uang agar data mereka bisa kembali dibuka. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi para klien dan otoritas setempat yang sering kali marah dan mengeluarkan peringatan keras agar mereka tidak membayar peretas.(ae/vlz (AFP, AP, Reuters)DW/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
KPK Tetapkan Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan 9 Orang sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap Perkara di MA

Heboh Video! Antrian Panjang di SPBU Kota Manna Bengkulu Selatan, BBM Langka?

Tarif Ojol Naik, Wakil Ketua MPR: Pemerintah Tidak Memahami Kesulitan Hidup Rakyat

Pemerintah Umumkan Harga BBM Pertalite Naik dari Rp 7.650 Menjadi Rp 10.000

 

ads2

  Berita Terkini
 
Firli Bahuri: Bahaya Laten Korupsi Harus Diberantas Sampai ke Akarnya

Di P20, DPR Siap Tunjukkan Komitmen Indonesia Kurangi Emisi Lewat Konsep Go Green

Satgas BLBI Harus Tagih Dana BLBI Rp110,4 Triliun

Willem Wandik Sampaikan Sakit Hati Masyarakat Papua atas Pernyataan Menko Polhukam

Putri Candrawathi, Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J Akhirnya Ditahan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2