Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Reuni Akbar 212
Catatan Berharga dari Reuni Akbar 212 Tahun 2018
2018-12-02 16:00:56
 

Tampak suasana acara Reuni Akbar 212 saat akan sholat Subuh berjamah, di Monas, Minggu (2/12).(Foto: BH /sya)
 
Oleh : Dr. Fuad Bawazier

SAMPAI PUKUL 9 pagi massa yang belum sampai ke sekitar Monas masih banyak. Mereka nyangkut di stasiun KA Gondangdia, Depok, Di Taman Kota dll. Sedangkan yang sudah sampai ke lokasi acara REUNI AKBAR 212 menyatu sambung menyambung sampai ke Monas, sampai ujung Sudirman dan semua akses yang ke Monas.

Intinya, Massa Reuni 212 sampai ke Jl. Sudirman dan dari semua penjuru membludak melebihi th 2016. Jadi jelas jutaan yg hadir. Kita tunggu saja Laporan "resmi" dan atau "rahasia" atau media partisan yang biasanya isinya palsu yang akan mendeskreditkan jumlah massa yang hadir sebagai puluhan ribu atau paling seratus ribu saja. Maklum selain untuk menyenangkan bossnya, Pengecilan ini juga untuk menutupi laporan sebelumnya yang hanya memprediksi massa yang akan hadir paling 20,000an, dan kini ternyata meleset. Malu maluin.

Ini juga pelajaran berharga bagi semua pihak yang selama ini berusaha keras untuk menggagalkan acara Reuni 212 tahun 2018 ini. Macam macam cara dari yang halus sampai yang kasar, dari bujukan dan hadiah sampai tekanan, ancaman dan gangguan tranportasi, tetapi massa reuni tetap membludak.

Dan massa justru semakin solid, sabar, militan, matang dan tahu siapa2 yang ingin menggagalkan acara reuni 212. Kami melihatnya sebagai training untuk meningkatkan militansi umat. Sementara mereka yg ingin menggagalkan Reuni bukan saja menghabiskan banyak dana dan gelisah, tetapi semakin terkuak kartunya. Luar negeripun terus menyorot pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Bahkan sudah ada yang menilai atau mencemaskannya sebagai memasuki era repressif.

Ada juga yg menuduh bahwa massa yang hadir ke Reuni 212 dibayar Rp100ribu perorang. Jelas ini tuduhan ngawur dan motipnya mudah ditebak, yaitu mereka ingin ngadakan tandingannya dan akan meminta pada sang bandar yang sedang galau agar disiapkan dana sekurangnya sama Rp100ribu/orang. Projek ongkos!

Padahal ini aksi damai dan perwujudan demokrasi yang dijamin konstitusi UUD 1945. Mereka yang Reuni ini paham dan pendukung setia NKRI dan Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ikanya, serta mempraktekkannya tanpa koar koar. Peserta REUNI 212 juga tahu sejarah lahirnya NKRI, Pancasila dan menjaga kerukunan, merawat kebangsaan dan menyadari betul arti kebersihan, ketertiban dan keamanan dalam berdemo. Bahkan yang hadir ke Reuni dari semua aliran, agama dan etnis. Tidak ada yg bayaran. Yang ada kesadaran.

Catatan penting lain adalah pertanyaan siapa sebenarnya motor penggerak Aksi Damai jutaan orang yang ditaksir melebihi jamaah haji di Padang Arafah? Tentu saja para ulama yang dulu juga menggerakkan Aksi Damai 411 dan 212 tentang penodaan agama, dengan tokoh sentralnya Habib Riziek Shihab (HRS). Aksi ini sekaligus sebagai pelajaran berharga:

1. Bagi mereka yang selama ini mendholimi HRS hingga Hijra ke Makkah. Ternyata HRS justru semakin di dengar, diikuti, dan di cintai umat. Sebaliknya terhadap ulama atau tokoh yang meninggalkan semangat dan cita cita 411 dan 212, yang dicuekin.

2. Bagi pengamat atau lembaga survey yang menganggap kekuatan 212 itu tidak ada apa apanya atau kecil dibandingkan dengan ormas ormas lama dan mapan, yang belum tentu mampu menghimpun massa dalam jumlah sebesar massa 212. Massa ini datang dengan ongkos sendiri, bukan bayaran.

3. Juga bagi tokoh, ulama dan ormas yang sering mengklaim sebagai "pemilik" massa yang datang ke Reuni adalah atas himbauan, arahan atau restunya. Kini saat mereka menghimbau tidak perlu datang ke Reuni 212, justru semakin banyak massa yang hadir. Massa ini sudah menemukan pemimpin atau ulama (baru) yang istikomah, yang dapat di percaya, yang tidak mudah tergoda duniawi.

4. It goes without saying, aspirasi politik 2019 merekapun jelas kemana.
Sekarang kita tahu siapa yg harus belajar dari siapa. Siapa yang harus menyontoh dan di contoh. Sing becik ketitik Sing olo kentoro. Siapa yang bohong, siapa yang jujur. Zaman berputar dan yang menang yang sabar dan benar.

Jakarta, 2 Desember 2018

Penilis adalah Pengamat langsung Reuni 212 di lapangan Monas.(bh/mnd)



 

 
   Berita Terkait > Reuni Akbar 212
 
  Hadir Reuni 212, Cucu Hasyim Asy'ari: Tak Terasa Air Mata Saya Menetes
  Putri Cantik Habib Rizieq Shihab Hadir di Reuni Akbar 212
  Melalui Live Streaming, Ini Pidato Lengkap Habib Rizieq di Reuni Akbar 212
  Mereka Memfitnah Persatuan Umat
  Reuni Akbar Alumni 212 di Monas Berjalan dengan Damai dan Tertib
 
ads

  Berita Utama
Hakim Kabulkan Permohonan Tahanan Kota Alphad Syarif Ketua DPRD Samarinda

Polisi Tangkap 4 Tersangka Pembobol Kartu Kredit di Bandung dan Medan

Ditjen AHU Kemenkumham Raih Penghargaan Zona Integritas WBK/WBBM 2018 dari KemenPAN RB

Kasus Jurnalis Yusro Hasibuan, Lemkapi: Wartawan Harus Bisa Memilah Tugas Jurnalistik dengan Penyebaran Berita Bohong

 

  Berita Terkini
 
UU Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Perlu Direvisi

Polri Raih Penghargaan Predikat WBK dan WBBM 2018

Hakim Kabulkan Permohonan Tahanan Kota Alphad Syarif Ketua DPRD Samarinda

Kemenkumham Berikan Penghargaan 12 Anggota JDIH Terbaik

Gubernur Anies Baswedan Bangga Persija Raih Juara Liga 1

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2