Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Pilpres
Demokrat Minta Koalisi Bubar? Bubar Aja Sendiri!
2019-06-11 03:56:47
 

 
Oleh: Nasrudin Joha

GAGAGAGAGAGA, SUPER lebai partai yang satu ini. Setelah 'baper' dengan pernyataan Prabowo soal Ani Yudhoyono, ngarep.com ke istana tak kunjung diterima, sekarang Demokrat usulin bubar koalisi. Eh, bukan hanya koalisi 02, tapi juga koalisi 01.

Ini ibarat anak kecil main petak umpet, udah berkali kali ngumpet kagak ada yang nyari, udah berusaha menjaga benteng umpetan juga tidak ada yang menegur. Eh akhirnya ngambek, minta permainan dibubarin.

Padahal, kalau Demokrat mau bubar bubar aja sendiri ? Toh, 'petak umpet politik' tetap seru tanpa Demokrat. Lagipula, kok kayak Ga tahu batasan dan posisi diri meminta 02 dibubarin, juga minta bubarkan koalisi 01 atas dalih persatuan, menghindari keterbelahan. Memangnya patron politik Koalisi - Oposisi baru kali ini ? Memangnya, zaman SBY berkuasa tidak ada Koalisi - Oposisi ? Memangnya NKRI ini bubar hanya karena ada posisi Koalisi - Oposisi ?

Apa iya, mempertahankan koalisi berarti mempertahankan perkubuan di akar rumput ? Apa iya ini maknanya mengawetkan permusuhan dan memelihara potensi benturan dalam masyarakat ?

Yang benar, Demokrat sudah kartu mati. Baik di kubu 01 maupun 02 Demokrat tidak diterima. Meminang posisi di kubu 01 tak jua mengunduh hasil. Bertahan di 02 sudah kehilangan muka karena banyak 'menikam' dari belakang.

Dengan lunturnya polaritas partai, Demokrat berharap dapat menyelam diantara dua arus, sambil minumair kekuasaan sampai kenyang.

Lantas, kalau koalisi kubu 01 dan 02 bubar, Demokrat bisa menari lagi ? Bisa kartu hidup lagi ? Ya nggak lah. Masih ada rakyat yang mengawasi. Harusnya, Demokrat berkoalisi dengan rakyat, itu jika Demokrat memang tulus konsentrasi berkhidmat kepada rakyat, bukan berebut jatah kekuasaan.

Nampaknya, sindrom kekuasaan SBY yang pernah berkuasa dua periode belum sepenuhnya hilang. Demokrat, masih menganggap partai-partai lain masih bisa dikendalikan.

Di kubu 01 itu ada Golkar, ada PKB, PPP, Nasdem, bahkan ada PBB dan Hanura. Semua partai pendukung Jokowi termasuk dua partai gurem yang tidak lolos PT ini, jelas akan ikut terusik jika Demokrat merapat ke kubu 01. Semua partai juga tahu, tidak ada komitmen berkoalisi yang gratis. Semua pasti ada kompensasi.

Demokrat saat ini memang sedang celaka 12. Dikubu 02 tak diakui, merapat ke kubu 01 tak dihargai, meminta koalisi bubar diketawai. Nasib nasib ya nasib.

Pelajaran berharga dalam politik era now, konsistensi itu mata uang yang sangat berharga baik dimata rakyat juga dimata mitra koalisi partai. Politik era now, tak mampu dibungkus topeng apapun.

Rakyat mampu melihat secara kasat mata, apa yang partai lakukan. Sekali partai dianggap berkhianat, selamanya rakyat akan ingat. Apalagi di era sosmed, inkonsistensi itu mudah di kulit.i Kliping berita era now, cukup di searching via Google. Tak perlu menumpuk koran bekas.

Semestinya, Demokrat belajar banyak dari hukuman politik yang sudah diterima banyak partai yang tak konsisten. Bermanuver untuk menyembunyikan maksud sesungguhnya, itu tak berlaku di era sosmed. Yang dibutuhkan rakyat itu kejujuran dan ketulusan berjuang untuk rakyat. Bukan politik basa basi.

Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik di Indonesia.(dbs/bh/sya)




 

 
   Berita Terkait > Pilpres
 
  Harus Diakui Kehebatan Mereka dalam Fabrikasi Pengalihan Isu
  Demi Keutuhan NKRI, Jokowi-Titiek Soeharto Jadi Rekonsiliasi Politik Damai
  PKS: Lebih Baik Prabowo Nyatakan sebagai Oposisi ke Jokowi
  Rekonsiliasi dan Konstalasi Politik Pasca MRT
  Rekonsiliasi Trah Jokowi-Titiek, Mungkinkah Jadi Solusi Cegah Perpecahan Bangsa?
 
ads

  Berita Utama
Polda Metro Jaya Bekuk Pengedar Narkoba Jaringan Malaysia-Batam-Jakarta

Willem Wandik: Usai Pulkam, Mahasiswa Harus Kembali Kuliah

Indonesia Darurat Asap, Presiden Segeralah Bertindak!

Jokowi Tolak Penyadapan KPK Seizin Pihak Eksternal, Padahal Memang Tak Ada di Draf Revisi UU KPK

 

  Berita Terkini
 
Hakim Kayat Didakwa Jaksa KPK Menerima Suap Rp 99 Juta

Presiden Jokowi Ditantang Keluarkan Perppu Mengoreksi Revisi UU KPK seperti SBY

KPK Tetapkan Menpora Imam Nahrawi dan Asistennya sebagai Tersangka

Ridwan Hisjam: Golkar Perlu Reformasi Jilid II

Badiklat Kejaksaan Gembleng Ratusan CPNS Menuju SDM Unggul

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2