Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
    
Tsunami
Gelombang Tinggi Disertai Tsunami Menghantam Sekitar Pantai Selat Sunda, 186 Korban Meninggal
2018-12-23 13:45:31
 

Tampak kondisi kerusakan akibat bencana Tsunami di sekitar pantai selat sunda.(Foto: twitter)
 
BANTEN, Berita HUKUM, Gelombang tinggi air laut disertai gelombang tsunami yang menghantam sejumlah kawasan di sekitar pantai Banten dan provinsi Lampung pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 21.15 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata setidaknya ada 186 korban jiwa dan 30 orang belum ditemukan, serta 745 korban luka-luka. Selain korban jiwa, bencana itu merusak ratusan rumah warga, penginapan villa dan perahu nelayan disekitar pantai selat Sunda.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, "Data dampak Tsunami sampai Minggu (23/12) pukul 13.00 Wib data sementara jumlah korban 186 orang meninggal, serta 745 korban luka-luka dan 30 orang belum ditemukan," ujarnya saat jumpa pers pada, Minggu (23/12).

Bencana Tsunami tersebut disebabkan oleh aktifitas erupsi bawah laut anak gunung Krakatau, longsor bawah laut yang juga disertai saat gelombang pasang air laut hingga menyebabkan gelombang bah air laut yang menerjang hingga ketinggian gelomban sekitar 3,5 meter.

Sementara, Wakapolda Banten Kombes Pol. Tomex Kurniawan, sebagaimana Live TVOne mengatakan, sebanyak 24 jenazah ditemukan di Villa Stephanie, Carita Kabupaten Pandeglang. Dari 24 jenazah, 22 diantaranya sudah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

"Sementara dua lagi masih kita angkat," ujar Wakapolda saat diwawancara Tv One, Minggu (23/12).

Dikatakan Wakapolda, masih ada korban tewas yang terjabak bangunan yang roboh. Sehingga pihaknya membutuhkan alat berat untuk mengevakuasi jenazah korban.

Sedankan, berdasarkan data yang dihimpun Kabar Banten dari puskesmas di Kabupaten Pandeglang, ini daerah di Pandeglang yang terkena gelombang tinggi, yang kemudian oleh BMKG dinyatakan sebagai tsunami.

Di antaranya di Kecamatan Labuan yang terdiri atas Desa Cikondang, satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya belum ditemukan. Sedangkan untuk bangunan, sebanyak 200 rumah rusak berat, dan 10 kapal perahu rusak.

Di Desa Teluk, 1 meninggal dunia, 1 belum ditemukan, 200 rumah rusak berat, 300 kapal rusak, dan 60 warung kuliner rusak.Di Desa Karanganyar 40 kapal perahu rusak.

Data korban di Puskesmas Carita, sebanyak 250 orang dirawat, 6 meninggal dunia. Di Puskesmas Cigeulis, 32 orang dirawat. Korban meninggal dunia cukup banyak di Puskesmas Panimbang dengan jumlah 12 orang meninggal dunia, dan32 orang dirawat dan di Klinik Tanjung Lesung 19 orang dirawat.

Sementara itu, Puskesmas Labuan merawat 50 orang, 2 orang meninggal dunia, 3 orang dirujuk. Puskesmas Cibaliung 70 orang dirawat, 30 luka berat, 40 luka ringan. Di Puskesmas Sumur, 6 orang meninggal dunia. Sedangkan Puskesmas Jiput, 21 orang dirawat, 1 meninggal dunia. Puskesmas menes 14 orang dirawat, 2 orang meninggal dunia.

Untuk mempermudah evakuasi korban yang tertimbun, Pemkab Pandeglang menurunkan alat berat. "Kami sudah turunkan lima loder dan lima eksapator yang dibantu Provinsi Banten," ujar Bupati Pandeglang Irna Narulita yang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turun langsung mengevakuasi korban bencana alam air laut, Minggu (23/12) pukul 12.30.

Bupati didampingi Kepala Biro Operasional Polda Banten Kombes A. Roemtaat, Kapolres Pandeglang AKBP Indra Lutrianto Amstono, Dandim 0601 Letkol Inf Fitriana Nur Heru Wibawa, Asda Pemerintahan Agus Priyadi Mustika, Kadis PUPR Girgi Jantoro, Kepala BPBD Asep Rahmat, Direktur RSUD dr. Firman.

Sementara itu, seorang korban bencana alam rob air laut asal Tanggerang Selatan, April menuturkan kejadian itu sangat cepat sekali dan terjadi dua kali gelombang. Kata dia, elombang pertama biasa saja. Namun, gelombang kedua besar sekali,

"Saya saat itu berada di Hotel Mutiara saat gelombamg pertama datang biasa saja. Pas gelombang kedua datang sangat besar, kamar hotel yang berada di bibir pantai tergusur dan sayapun terpental sambil terguling "guling seperti bayi jatuh dari pangkuan ibunya," katanya.

Menurutnya, jarak dirinya dengan gelombang kedua kurang lebih sekitar 200 meter. ,"Saya melihat ombak yang tinggi disertai buih putih yang memecahkan seluruh kaca hotel. Sungguh ngeri sekali, saya harus banyak bertaubat kepada Allah. SWT," tuturnya.

Masih kata April, dirinya bersama 38 orang para guru akan berlibur di Pantai Carita dan menginap di Hotel Mutiara., "Temen kami sepuluh orang belum ketemu," ujarnya.(dbs/AdeTaufik/kabar-banten/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Tsunami
 
  Kerugian Material Akibat Tsunami di Kawasan Tanjung Lesung Berkisar Rp150 Milliar
  Tim SAR Gabungan Terus Menemukan Korban Tsunami Selat Sunda, 373 Meninggal Dunia dan 128 Hilang
  Evakuasi Korban Tsunami Terus Dilanjutkan: 281 Meninggal, 1.016 Luka-Luka Dan 57 Hilang
  Tim Evakuasi TNI Sudah Diterjunkan di Lokasi Tsunami Selat Sunda
  Ikut Berduka, Sandiaga Uno Terjunkan Tim Bantuan ke Lokasi Terdampak Tsunami
 
ads

  Berita Utama
Polri Gelar Police Movie Festival 2019: 'Together We are Strong'

Wakil Ketua DPR Minta Kerusuhan Manokwari Ditangani Cepat dan Tepat

Polda Metro Jaya Musnahkan Sabu 71,8 Kg dan 15.326 Butir Ekstasi, Kasus Juni-Agustus 2019

AJI Jakarta Kecam Kekerasan dan Intimidasi Polisi terhadap Jurnalis Meliput Demo di DPR

 

  Berita Terkini
 
Polri Gelar Police Movie Festival 2019: 'Together We are Strong'

Jampidsus Godok Standarnisasi Penanganan Perkara Pidana Pajak

PKS: Pemindahan Ibu Kota RI untuk Pemerataan Kurang Tepat

Walikota Surabaya Tri Rismaharini: Warga Papua, Maafkan Kami

Wakil Ketua DPR Minta Kerusuhan Manokwari Ditangani Cepat dan Tepat

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2