Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Legislatif    
Islam
HNW: Islam Justru Korban Teroris Terbesar Sepanjang Sejarah
2018-06-10 06:38:50
 

Wakil Ketua MPR Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid.(Foto: Istimewa)
 
YOGYAKARTA, Berita HUKUM - Menghadapi tuduhan terorisme atau radikalisme terhadap agama Islam tidak perlu dihadapi dengan sikap reaktif dan main hakim sendiri. Kalau perlu kita ajak mereka berdiskusi, kita paparkan fakta dan data-data bahwa umat Islam itu bukan teroris, dan kepada mereka kita jelaskan bahwa Islam bukan seperti Anda katakan.

Adalah Wakil Ketua MPR Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid menyatakan hal itu dalam ceramahnya pada acara Kajian Ramadan UNY 1439 H di Masjid Al-Mujahidin Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis sore (7/6) kemarin. Hadir dalam acara itu Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., dan para jamaah masjid Al-Mujahidin UNY.

Hidayat Nur Wahid menyatakan hal itu menjawab keprihatinan seorang jamaah muslimah bahwa dari banyak agama di Indonesia, hanya Islam yang sering dituduh teroris. Contohnya, memakai cadar saja sudah diindikasi terorisme.

Bukan hanya cadar, tapi orang berjenggot panjang, meneriakkan Allahu Akbar, dan menyatakan solidaritas terhadap Palestina juga dituduh sebagai tanda terorisme atau radikalisme. "Simbol-simbol itu tidak ada kaitannya dengan terorisme Karena bersumber dari nilai Islam," jelas Hidayat Nur Wahid seraya memaparkan bahwa tuduhan itu tidak beralasan.

Cadar misalnya, dituduh terorisme karena ada pelaku teror memakai cadar. Padahal istri seorang anggota polisi di Polda Riau yang korban teror beberapa waktu lalu ternyata juga bercadar. Kemudian soal jenggot panjang adalah Kiai Agus Salim, seorang pejuang dan pendiri bangsa juga berjenggot. "Apakah Agus Salim termasuk terorisme, tentu saja tidak," katanya.

Contoh lainnya soal solidaritas Palestina. Justru Presiden RI Bung Karno yang pertama kali menunjukkan solidaritas terhadap rakyat dan bangsa Palestina. Buktinya BK menolak Israel menjadi peserta KTT Asia Afrika di Bandung, 1955, dengan alasan Israel menjajah Palestina. "Selama Israel menjajah Palestina maka selama itu pula Indonesia tak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel."

Bukan itu saja, Bung Karno juga pernah melarang tim sepakbola Indonesia bertanding dengan kesebelasan Israel dengan alasan yang sama. Bung Karno memegang prinsip lebih baik tidak ikut Piala Dunia daripada bertanding dengan Israel. Jadi tidak alasan menyebut solidaritas terhadap Palestina sebagai tanda radikalisme atau terorisme.

"Kalau mau jujur pelaku teror terbesar di dunia itu bukan karena agama dan bukan pula pengikut agama," ungkap Hidayat Nur Wahid. Dia menunjuk contoh peristiwa yang terjadi di berbagai tempat dunia ini, seperti dalam Perang Dunia I dan II dimana jutaan orang meninggal dunia, termasuk juga kudeta yang dilakukan oleh komunis.

"Teror tidak mendatangkan keuntungan bagi agama apa pun," jelas Hidayat dalam ceramahnya berjudul: 'Menumbuhkan rasa cinta Tanah Air sebagai Implementasi dalam Menjalankan Syariat Islam'. Dan, "Kalau mau jujur justru umat Islamlah yang menjadi korban teror terbesar sepanjang sejarah," ungkap Hidayat Nur Wahid.

Oleh karena itu, menurut Hidayat Nur Wahid, tuduhan terhadap Islam sebagai radikalisme atau terorisme tak perlu ditanggapi dengan melakukan penghakiman jalanan. "Tapi kita perlu mengajak mereka berdiskusi, kita ajukan fakta atau data bahwa Islam bukan teroris, bukan radikalis, dan Islam tidak seperti mereka bayangkan."

Artinya, kita mengomunikasikan atau berdialog dengan mereka yang melakukan fitnah terhadap Islam dan umat Islam. Tentunya, Hidayat Nur Wahid berharap, umat Islam perlu memiliki wawasan yang lebih hebat atau lebih bagus. "Sehingga kita bisa menjawab dan mengalahkan argumentasi mereka, dan mereka bisa terkoreksi," katanya.

Dalam menyelesaikan masalah kita perlu mencontoh Rasulullah. Bahwa sikap dasar Rasulullah adalah tidak menghadirkan konflik, tidak menghadirkan permusuhan, tidak membunuh, dan tidak pula melakukan teror, walau Rasulullah sendiri mendapat teror luar biasa.(MPR/bh/sya)




 

 
   Berita Terkait > Islam
 
  Jadi Tersangka, Ustadz Gus Nuril: Banser dan Ansor Hancur karena Ulahnya Sendiri
  Inilah Tradisi Perayaan Tahun Baru Islam di Lima Negara Lainnya
  Komisi VIII Soroti Penurunan Anggaran Pendidikan Islam
  Lomba Kartun Nabi Muhammad di Belanda Dibatalkan Setelah Dikecam Indonesia dan Pakistan
  Rencana Pembongkaran Masjid di Cina oleh Aparat 'Mengancam Perdamaian'
 
ads

  Berita Utama
Gerindra Minta Pemerintah Setop Klaim Divestasi Saham Freeport

Belum Ada Se-Rupiah pun Pembayaran Pembelian Saham PT Freeport

Sukseskan Pemilu Damai 2019, PB HMI: Strategi Jitu Tangkal Isu Hoax, Intoleransi dan Radikalisme

Ini Do'a Titiek Soeharto untuk Ulang Tahun Prabowo Subianto

 

  Berita Terkini
 
Gerindra Minta Pemerintah Setop Klaim Divestasi Saham Freeport

Komisi VII Sesalkan Dampak Lingkungan PLTU PT Indo Bharat Rayon

Tim Pemenangan DPW Partai Berkarya DKI Jakarta Beri Motivasi Kader dan Caleg DPD untuk Serap Aspirasi Warga

BPJS Kesehatan Defisit Anggaran Sudah Kewajiban Presiden Mengkoordisanikan Para Pembantunya, Jangan Cuci Tangan

Bukti Persidangan Kasus Korupsi di Bakamla, Tersangka Mengaku Dikenalkan Keluarga Jokowi

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2