Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Iran
Iran akan 'Balas' Pembunuhan Jenderal Soleimani oleh AS: Seberapa Besar Kekuatan Militer Iran?
2020-01-05 13:10:35
 

Rudal adalah salah satu komponen penting kekuatan militer Iran.(Foto: GETTY IMAGES)
 
IRAN, Berita HUKUM - Iran berjanji akan melakukan serangan balasan setelah komandan militer paling berpengaruh, Jenderal Qasem Soleimani, tewas di Baghdad, terhantam rudal yang ditembakkan oleh pesawat tanpa awak milik Angkatan Udara Amerika Serikat.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan "akan ada serangan balasan terhadap penjahat" yang melakukan serangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembunuhan Soleiman "untuk menghentikan perang, bukan untuk memulainya".

Trump juga mengatakan "kekuasaan teror Soleimani telah berakhir".

Berapa jumlah personel militer Iran?

Iran diperkirakan memiliki 523.000 personel militer aktif, menurut lembaga kajian Inggris, International Institute for Strategic Studies.

Jumlah tersebut mencakup 350.000 tentara reguler dan setidaknya 150.000 anggota Garda Revolusi.

Juga terdapat 20.000 personel Garda Revolusi yang bertugas di Angkatan Laut.

Kelompok ini antara lain melakukan operasi di Selat Hormuz, wilayah perairan yang menjadi lokasi konfrontasi dengan sejumlah kapal tanker berbendera asing pada 2019.

Anggota Garda Revolusi IranHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionGarda Revolusi memiliki angkatan laut dan angkatan udara tersendiri selain bertanggung jawab atas persenjataan strategis.

Garda Revolusi juga membawahi unit Basij, yang beranggotakan para relawan dan kadang dikerahkan untuk membantu menumpas gerakan perlawanan di dalam negeri.

Unit ini bisa memobilisasi ratusan ribu personel.

Garda Revolusi didirikan 40 tahun lalu dengan fungsi utama mempertahankan sistem Islam di Iran dan kemudian menjadi kekuatan besar di bidang militer, politik dan ekonomi.

Meski anggotanya lebih sedikit dari pasukan reguler, Garda Revolusi dianggap sebagai inti kekuatan militer Iran yang sebenarnya.

Bagaimana dengan operasi militer di luar negeri?

Pasukan elite Quds, yang dipimpin Jenderal Soleimani, melakukan operasi rahasia di luar negeri bagi Garda Revolusi dan melapor langsung ke pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Diyakini Quds punya 5.000 anggota.

Unit ini antara lain dikerahkan ke Suriah dengan tugas utama memberikan masukan ke Presiden Bashar al-Assad dan milisi Syiah di negara tersebut.

Di Irak, Quds membantu kelompok paramiliter Syiah dalam menumpas kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Amerika Serikat mengeklaim Quds punya peran lebih luas dengan menyediakan dana, pelatihan, senjata dan peralatan kepada kelompok-kelompok yang oleh Washington dikategorikan sebagai organisasi teroris di Timur Tengah.

Kelompok tersebut mencakup Hizbullah di Lebanon dan Jihad Islam di Palestina.

Patroli Garda RevolusiHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionGarda Revolusi menyita kapal tanker berbendera Inggris, Stena Impero, di Selat Hormuz pada 2019.

Masalah ekonomi dan sanksi membuat Iran tak leluasa membeli senjata.

Impor pertahanan Iran pada periode 2009-2018 sama dengan 3,5% dari total impor pertahanan Arab Saudi pada periode yang sama, menurut lembaga kajian Swedia, Stockholm International Peace Research Institute.

Sebagian besar impor pertahanan Iran berasal dari Rusia dan Cina.

Apakah Iran punya rudal?

Ya. Rudal adalah salahsatu komponen penting kekuatan militer Iran.

Kementerian Pertahanan AS menggambarkan kekuatan rudal Iran sebagai yang terbesar di Timur Tengah. Sebagian besar rudal ini adalah dari jenis jarak pendek dan menengah.

Dikatakan pula bahwa Iran tengah menguji coba teknologi ruang angkasa yang memungkinkan Iran mengembangkan rudal antarbenua.

Namun, program pengembangan rudal jarak jauh ini terhenti pada 2015, menyusul kesepakatan nuklir Iran dengan sejumlah negara.

Lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI) mengatakan ada kemungkinan program ini berlanjut setelah perjanjian nuklir mengalami ketidakpastian.

Terdapat bukti bahwa sekutu Iran di kawasan menggunakan rudal dan sistem panduan dari Iran untuk menyasar Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Pada Mei tahun lalu, militer AS mengerahkan sistem pertahanan antirudal Patriot ke Timur Tengah setelah ketegangan dengan Iran meningkat.

Keputusan ini mengisyaratkan AS mengantisipasi rudal balistik, rudal penjelajah, dan pesawat canggih dari pihak musuh.

Apakah Iran punya senjata nonkonvensional?

Meski terkena sanksi selama bertahun-tahun, Iran tetap mampu mengembangkan kemampuan drone atau pesawat tanpa awak.

Drone-drone Iran dipakai di Irak sejak 2016 untuk bertempur melawan ISIS.

Lembaga kajian RUSI mengatakan drone bersenjata yang dioperasikan Iran di Suriah bisa masuk ke wilayah udara Israel.

Pada Juni 2019, Iran menembak jatuh drone pengintai milik militer AS dengan alasan drone ini sudah memasuki wilayah Iran di Selat Hormuz.

Drone yang dikatakan milik Iran dan dipakai oleh pemberontak HouthiHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionAS menuduh Iran memasok drone untuk kelompok pemberontak Houthi.

Aspek lain dari program drone Iran adalah Iran bersedia menjual atau mentransfer teknologi drone ke sekutu dan kelompok dukungan mereka di kawasan, kata wartawan bidang pertahanan BBC, Jonathan Marcus.

Pada 2019, serangan rudal dan drone merusak dua fasilitas minyak yang penting milik Saudi.

AS dan Saudi mengaitkan serangan ini ke Iran, namun pemerintah Iran menolak dan menyatakan serangan dilakukan oleh kelompok pemberontak di Yaman.

Apakah Iran punya kemampuan siber?

Setelah serangan siber terhadap fasilitas nuklir pada 2010, Iran membenahi bidang ini.

Diyakini Garda Revolusi memiliki pusat komando siber tersendiri, dengan tugas melakukan mata-mata, baik untuk kepentingan militer maupun ekonomi.

Laporan militer AS pada 2019 menyebutkan, Iran melancarkan operasi siber secara global, dengan sasaran perusahaan aeronautika, kontraktor pertahanan, perusahaan energi dan pertambahan, serta perusahaan telekomunikasi.

Juga pada 2019, raksasa perangkat lunak Microsoft mengatakan satu kelomok peretas "dari Iran dan punya hubungan dengan pemerintah Iran" mencoba membobol akun-akun milik pejabat AS.

Sementara, Jenderal Soleimani dikenal sebagai tokoh kunci dalam pemerintah Iran.

Dia memimpin operasi Timur Tengah Iran sebagai komandan Pasukan Quds.

Iran telah berjanji akan melakukan "balas dendam kejam" bagi mereka yang bertanggungjawab atas kematian Soleimani.

Pembunuhan ini menandai eskalasi besar ketegangan antara kedua negara.

Para pejabat AS mengatakan 3.000 tentara tambahan akan dikirim ke Timur Tengah sebagai tindakan pencegahan.

Sementara itu, televisi pemerintah Irak mengatakan ada serangan udara lain di negara itu, 24 jam setelah serangan yang membunuh Soleimani.

Namun, belum ada komentar tentang hal ini dari Washington.

Seorang sumber di militer Irak mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa enam orang telah tewas dalam serangan itu, yang menghantam rombongan milisi Irak pada Sabtu (04/01) dini hari.

Burning debris outside Baghdad International AirportHak atas fotoREUTERS
Image captionSisa dari serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad.

Apa yang dikatakan Presiden Trump?

Berbicara dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, Trump mengatakan tentang serangan udara AS di Irak: "Militer Amerika Serikat melakukan serangan tepat sasaran tanpa cacat yang menewaskan teroris nomor satu di dunia Qasem Soleimani."

Dia menambahkan, "Soleimani merencanakan serangan yang kejam terhadap diplomat Amerika dan personel militer, tetapi kami menangkapnya dalam tindakan itu dan menghentikannya."

Bagaimana reaksi Iran dan Irak?

Dalam sebuah pernyataan setelah kematian Soleimani, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, "Kepergiannya tidak mengakhiri jalannya atau misinya, tetapi pembalasan dendam yang kuat menunggu para penjahat yang membunuhnya dan para martir lainnya semalam dengan tangan mereka."

Qasem SoleimaniHak atas fotoAFP/GETTY
Image captionPentagon mengkonfirmasi bahwa pasukan AS telah membunuh Jenderal Soleimani.

Parlemen Irak akan mengadakan pertemuan darurat pada hari Minggu.

Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi menyebut serangan rudal itu sebagai "pelanggaran kedaulatan Irak dan serangan terang-terangan terhadap martabat bangsa".

Pemimpin milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis juga tewas dalam serangan itu.

Dia memerintahkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang dituding Washington melakukan serangan roket yang menewaskan seorang kontraktor sipil AS di Irak utara, Jumat lalu.

Departemen Luar Negeri AS telah memperingatkan warga Amerika di Irak untuk "segera" meninggalkan negara tersebut.

Image shows Abu Mahdi al-Muhandis (centre)Hak atas fotoREUTERS
Image captionPemimpin milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis (tengah) juga terbunuh dalam serangan udara itu.

Siapa Qasem Soleimani?

Pria berusia 62 tahun ini secara luas dipandang sebagai sosok paling kuat kedua di Iran, di belakang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Pasukan Quds, sebuah unit elit Garda Revolusi Iran, melapor langsung kepada pemimpin tertinggi dan Soleimani dipuji sebagai tokoh nasional yang heroik.

Dibawah kepemimpinannya selama 21 tahun di Pasukan Quds, Iran mendukung Hizbullah dan kelompok militar pro-Iran lain di Lebanon; memperluas kehadiran militer Iran di Irak dan Suriah; dan mengatur serangan Suriah terhadap kelompok pemberontak dalam perang saudara yang panjang di negara itu.

Bagaimana serangan itu terjadi dan siapa yang terbunuh?

Soleimani dan pejabat milisi yang didukung Iran meninggalkan bandara di Baghdad dengan dua mobil ketika mereka diserang beberapa rudal dari pesawat tak berawak AS di dekat area kargo bandara.

Soleimani dilaporkan baru saja mendarat dari Lebanon atau Suriah.

Garda Revolusi Iran mengatakan 10 orang tewas, termasuk lima anggotanya dan pemimpin milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Iran
 
  Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei Bela Angkatan Bersenjata
  Konflik AS-Iran Memanas, Pemimpin MPR Minta Pemerintah Indonesia Segera Ambil Sikap
  Iran Gempur 2 Pangkalan Udara AS, Harga Minyak Naik
  Iran akan 'Balas' Pembunuhan Jenderal Soleimani oleh AS: Seberapa Besar Kekuatan Militer Iran?
  Militer Iran Sita Kapal Tanker Inggris, Menlu Inggris Peringatkan 'Konsekuensi Serius'
 
ads1

  Berita Utama
Masa Berlaku SIM Habis, Polda Metro Jamin Tidak Akan Menilang Pengendara Sampai 30 Juni 2020

Layanan Dibuka Kembali, Polri Beri Dispensasi Waktu Perpanjangan SIM Bagi Masyarakat Sampai 29 Juni 2020

Lakukan Pembatalan Pemberangkatan Haji 2020 Sepihak, Menag dinilai 'Offside'

Polisi Sita 15,6 Gram Ganja dari Tangan Artis Berinisial DS

 

ads2

  Berita Terkini
 
Berprestasi, 3 Personel Ditlantas Polda Metro Jaya Raih Penghargaan dari Kapolda Nana Sudjana

Luamayan, Bisa Menonton Cara Kerja Akal Sehat di Amerika

Jack Boyd Lapian Laporkan Mantan Kliennya ke Polisi Atas Dugaan Tindak Pidana Penipuan

KPK Dorong Pemprov Jawa Timur Mutakhirkan Data Orang Miskin

Kasus George Floyd: Trump 'Mencoba Memecah Belah Kita', Kata Mantan Menteri Pertahanan AS

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2