Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
White Crime    
Kasus E-KTP
Kronologis dan Curhatan Johannes Marliem Saksi Kunci Kasus E-KTP sebelum Dikabarkan Tewas
2017-08-13 12:31:17
 

Ilustrasi. Tampilan profile akun twitter Johannes Marliem @johannesmarliem.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Korban bunuh diri di sebuah rumah di Edinburgh Avenue, kawasan Beverly Grove, Los Angeles (LA) Amerika Serikat, dipastikan bernama Johannes Marliem. Sebelumnya, ia sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

Mengutip wehoville, Jumat (11/8), pihak berwenang saat ini telah mengidentifikasi korban sebagai Johannes Marliem, berusia 32 tahun. Warga West Hollywood itu ditemukan tewas akibat luka tembak yang dilakukan sendiri pada Kamis pukul 2 dini hari.

Petugas polisi Los Angeles Tony Im menceritakan, situasi mencekam terjadi sejak Rabu pukul 4.20 sore. Terjadi penyanderaan di sebuah rumah yang diketahui disewa Johannes Marliem.

Petugas kepolisian pun dipanggil ke blok 600 bagian utara Edinburgh Avenue untuk bernegosiasi menyelamatkan sandera. Saat itu, kawasan Melrose Avenue dan Crescent Heights Boulevard, sebelah selatan West Hollywood, bahkan ditutup berjam-jam sementara negosiasi berlangsung.

Tim SWAT berusaha menyelamatkan dua sandera dari tempat kejadian. Seorang perempuan dan anak akhirnya keluar dari gedung dengan selamat pada Rabu sekitar pukul 07.30 malam.

Departemen County Coroner (Forensik) LA kemudian mengidentifikasi tersangka yang tewas menembak dirinya sendiri sebagai Johannes Marliem. Namun, tidak ada informasi tambahan yang tersedia saat ini.

Marliem merupakan saksi kunci kasus dugaan korupsi KTP elektronik, yang ditengarai melibatkan sejumlah orang penting di Indonesia. Johannes merupakan provider produk automated fingerprint indentification system (AFIS) merek L-1 dari PT Biomorf Lone Indonesia, yang akan digunakan dalam proyek e-KTP.

Kematian Johannes Marliem, saksi kunci kasus korupsi e-KTP (KTP elektronik) menyisakan banyak misteri. Pria yang dikabarkan bunuh diri ditemukan dengan beberapa luka di tubuhnya, hal yang kurang lazim dalam peristiwa bunuh diri.

Beberapa waktu lalu, KONTAN sempat saling bertukar pesan dengan Marliem. Ketika itu ia sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

"Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam," ujarnya.

"Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media. Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul," imbuh Marliem mengomentari bocornya kepemilikan rekaman pembicaraan terkait pembahasan proyek e-KTP.

Berita yang Marliem maksud ialah soal terbongkarnya bukti berupa rekaman pembicaraan. Padahal, rekaman tersebut sebenarnya tak ingin ia beberkan.

"Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights, harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman," tuturnya.

Itu sebabnya, ia sempat mengungkapkan harapannya agar (jurnalis) KONTAN tidak memelintir pemberitaan soal rekaman yang ia anggap sebagai catatan tersebut. Pasalnya, dalam pemberitaan di media sebelumnya, seolah-olah dijelaskan bahwa ketua DPR RI Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka gara-gara rekaman yang ia miliki.
"Jadi tolong jangan diplintir lagi. Saya tidak ada kepentingan soal rekaman. Dan ada rekaman SN (Setya Novanto) atau tidak, saya juga tidak tahu. Namanya juga catatan saya," ucap Marliem.

Marliem juga sempat membantah soal isi surat dakwaan yang menyebut ia sempat memberikan duit US$ 200.000 kepada Sugiharto, mantan pejabat Kemendagri yang sudah divonis bersalah di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Sebagai buktinya, ia memberikan potongan rekaman pembicaraannya dengan Sugiharto. Dalam pembicaraan itu, Marliem hanya ingin memberikan teknologi yang terbaik serta bekerja demi kesuksesan program e-KTP. Harga yang ia berikan kepada konsorsium pun merupakan harga wajar dan tidak digelembungkan seenaknya.

Meskipun perusahaannya berbasis di Amerika Serikat, Marliem menggaransi data kependudukan tidak akan bocor. Pasalnya server dan storage system berada di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.

Lantaran perusahaannya berasal dari negeri Paman Sam itu pula yang menjadi alasan dia tidak bisa main suap-menyuap. "Saya sudah pahit-pahit ngomong di depan, bahwa kami ini perusahaan Amerika. Tidak bisa cawe-cawe. Kami tidak bisa mengeluarkan uang dari perusahaan untuk kepentingan tidak jelas," tuturnya.

Pasalnya, jika melanggar, perusahaanya akan dijerat dengan FCPA (Foreign Corrup Practice Act) dan harus membayar denda besar jika terbukti menyuap. Penerapan aturan ini serupa dengan pidana korporasi yang mulai digunakan KPK akhir-akhir ini.

Dalam kesempatan itu, Marliem juga sempat berkomentar soal kartu-kartu yang dikeluarkan pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, BPJS dan sebaginya. Baginya, kartu tersebut hanya pemborosan anggaran karena hanya plastik yang berisi tulisan. Sementara, e-KTP berisi data biometrik yang sangat valid. Dengan e-KTP, pemerintah bisa memastikan jumlah anggota keluarga, berapa anak yang harus disubsidi.

"KTP-el saat ini sudah siap, mau dijadikan e-Toll bisa, jadi e-money juga bisa. Tapi, karena di sektor-sektor itu sudah dikuasai mafia jadi pemerintah tidak berani ambil keputusan politis," katanya.

Sementara dari pantauan pemberitaan, hingga detik ini tidak ada media mainstream di Amerika yang memberitakan terkait tewasnya Johannes Marliem. Johannes Marliem, teryata merupakan salah satu donatur terbesar dalam pesta inaugurasi kedua Presiden Barack Obama.

Johannes diketahui memiliki firma marketing bernama Marliem Consulting yang berbasis di Minneapollis, Minnesota.

Saat inaugurasi ke-dua Obama, Johannes menyumbang dana sebesar US$255 ribu atau hanya selisih US$25 ribu dari korporasi multinasional ExxonMobil.

Sumbangan Johannes itu bernilai dua kali lipat uang yang diberikan Alida Messinger, mantan istri Gubernur Minnesota, Mark Dayton, pada Partai Demokrat.

Pada 2013, Star Tribune melaporkan Johannes memberi dua kali sumbangan pada Komite Inaugurasi Presiden sebesar US$100 ribu dan US$125 ribu.

Sebelumnya, Johhanes juga pernah berkontribusi memberikan dana sebesar US$2500 pada tim kampanye Obama saat pilpres 2012 dan sukses mengumpulkan donasi hingga US$70 ribu bagi kampanye Obama.(dbs/kontan/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Kasus E-KTP
 
  Hakim Tunggal Praperadilan: Penetapan Tersangka Setya Novanto oleh KPK Tidak Sah
  Kronologis dan Curhatan Johannes Marliem Saksi Kunci Kasus E-KTP sebelum Dikabarkan Tewas
  Pasca Penetapan Tersangka, Setya Novanto Siap Ikuti Proses Hukum
  KPK Katakan Penetapan Setnov Tersangka Tidak terkait Pansus
  Komunitas Politik Guntur 49: Tuntut KPK Segera Tuntaskan Mega Korupsi E-KTP !
 
ads

  Berita Utama
Pidato Anies Baswedan, Luhut Binsar Panjaitan dan Nasib Reklamasi

Polri dan Ditjen Bea Cukai Menangkap 4 Anggota Sindikat Sabu Jaringan Malaysia - Aceh - Medan

Anies-Sandi Resmi Menjabat, Lulung Berharap Anies-Sandi Sukses Jalin Komunikasi dengan DPRD

Yunahar: Tidak Boleh Menyebarkan Berita Bohong Walau Niatnya Baik

 

  Berita Terkini
 
Menko Perekonomian Akui Realisasi Penerimaan Pajak Belum Sesuai Harapan

Pidato Anies Baswedan, Luhut Binsar Panjaitan dan Nasib Reklamasi

Uni Eropa Dijadwalkan Siap Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Korea Utara

Perppu Ormas Bertentangan dengan Prinsip Demokrasi

Pimpinan DPR dan Presiden Diminta Cari Solusi terkait Menteri BUMN

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2