Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Perdata    
Kasus Investasi Pandawa
Kuasa Hukum Korban Penipuan Investasi Bodong Minta Pandawa Grup Dipailitkan
2017-05-25 19:39:21
 

Riesqi Mardiansyah,SH, (tengah) saat mendampingi kliennya korban nasabah Pandawa Grup di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (24/5).(Foto: BH /yun)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Ratusan nasabah yang menjadi korban penipuan investasi bodong Pandawa Grup memenuhi halaman Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kehadiran para nasabah itu guna melakukan verifikasi data sebagai langkah lanjutan proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Mereka semua terlihat mengantre untuk melakukan verifikasi data keuangan. Salah satu Kuasa Hukum nasabah dari downline Yusuf Paparang yaitu Riesqi Mardiansyah,SH, mengatakan bahwa, maksud kedatangan kliennya adalah untuk mengetahui kejelasan status uang mereka.

"Ini kami diundang sesuai pengumuman di koran rapat verifikasi piutang. Ada rapat verifikasi oleh pengurus PN jakarta Pusat," ujar Riesqi.

Riesqi juga menjelaskan, "korban penipuan investasi bodong dari downlinenya Yusuf Paparang kurang lebih berjumlah 200 nasabah yang akan diurus proses PKPU nya. Bahwa hari ini hari terakhir pendaftaran PKPU dan banyak nasabah yang menginginkan Pandawa Grup di pailitkan, karena mereka berfikir sudah tidak ada lagi harapan Pandawa dapat beroperasi kembali apalagi setelah pimpinannya yaitu Nuryanto sudah ditahan oleh pihak Kepolisian," jelas Riesqi, kepada para awak media yang mewawancarainya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (24/5).

Menurut Riesqi, Pandawa Group akan mengajukan proposal perdamaian pada 30 Mei mendatang. Proposal itu menentukan apakah Pandawa Grup sanggup untuk melunasi hutangnya atas kesepakatan seluruh nasabah.

"Tanggal 30 rapat pembahasan perdamaian. Kalau si debitur ini mengajukan perdamaian dalam proses PKPU sementara maka akan rapat perdamaian, kalau tidak, ya berarti dinyatakan pailit," ujarnya.

Diketahui PT Pandawa Grup diduga kuat telah melakukan kegiatan investasi bodong yang menelan kerugian bagi ribuan nasabahnya. Permasalahan ini pun diajukan gugatan ke gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Selama proses gugatan tersebut pihak Pandawa disebutkan telah mengakui memiliki utang kepada nasabahnya. Nantinya, 30 Mei mendatang pihak Pandawa akan menyampaikan proposal perdamaian untuk melunasi utang.

Proposal tersebut melampirkan opsi cara pengembalian utang perusahaan kepada nasabah, baik secara langsung atau mencicil. Proses ini disebut dengan PKPU yakni salah satu alternatif dalam penyelesaian utang untuk menghindari kepailitan. Jika mediasi tidak dapat ditempuh, maka perusahaan milik tergugat dapat dipailitkan.(bh/yun)



 

 
   Berita Terkait > Kasus Investasi Pandawa
 
  Koperasi Pandawa Group Dinyatakan Pailit oleh Majelis Hakim
  Kuasa Hukum Korban Penipuan Investasi Bodong Minta Pandawa Grup Dipailitkan
  Bos Pandawa Mantan Tukang Bubur Ayam dan 21 Tersangka Digiring di Polda Metro Jaya
 
ads

  Berita Utama
SMS Hary Tanoe, Lieus: Keresahan Tokoh terhadap Kondisi Penegakan Hukum di Tanah Air

Tempat Ahok Bukan di Mako Brimob, Namanya Juga Lapas Mana ada yang Kondusif dan Nyaman

Polisi Menangkap 7 Tersangka Kasus Perampok Modus Gembos Ban di SPBU Daan Mogot

Kronologi OTT Kasus Suap Gubernur Bengkulu dan Istri, KPK Sita Rp 1 M

 

  Berita Terkini
 
SMS Hary Tanoe, Lieus: Keresahan Tokoh terhadap Kondisi Penegakan Hukum di Tanah Air

AKBP Tatan Dirsan Layak Ditiru, Hujan Deras dan Banjir Dilalui Demi Tugas pada Malam Takbiran

Valentino Rossi Juara MotoGP Assen

Hacker Berulah, Microsoft Kebobolan Data Rahasia Besar

Haedar Nashir: Mengajak Orang untuk Menyelamatkan Bangsa Itu Musuhnya Berat

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2