Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Pertanian
Lahan Pertanian yang Kekeringan Capai 95 Ribu Hektare
Monday 19 Sep 2011 23:32:25
 

Seorang petani memandangi sawahnya yang kekeringan (Foto: Istimewa)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menyatakan lahan yang mengalami kekeringan mencapai 95.851 hektare per Agustus 2011. "Tapi (lahan) yang mengalami puso sebesar 3.713 hektar," ujarnya di Jakarta, Senin (19/9).

Menurutnya, jumlah lahan yang puso masih lebih rendah daripada 2010. Selama lima tahun terakhir lahan yang terkena dampak kekeringan rata-rata mencapai 228.095 hektare. Dan yang terkena puso rata-rata lima tahun terakhir 50.068 hektar. "Di tahun 2010, yang terkena kekeringan mencapai 96.721 hektare, tapi yang puso hanya 20.856 hektar," jelasnya.

Kaitannya dengan puso, terang Suswono, penyebabnya bukan hanya kekeringan, tapi juga karena banjir. "Kalau kita lihat untuk yang banjir sampai Agustus (2011), yang kena ini 115.851. Sedangkan yang puso, 16.471," imbuh dia.

Suswono menjelaskan, lahan yang terkena hama penyakit sampai Agustus 2011 mencapai 577.015 hektare. Sementara laha tersebut yang terkena puso sebesar 35.454 hektar. "Kalau tadi dilihat angka puso dijumlahkan, itu mencapai 53 ribuan (hektare). Jadi rata-rata nasional puso itu sekitar 100 ribuan hektare untuk lima tahun ke belakang," jelasnya.

Pada bagian lain, Mentan juga mengungkapkan, pemerintah berencana mengurangi konsumsi beras dalam rangka mencapai target surplus beras 10 juta ton di 2014. "Ini strategi yang dilakukan. Diharapkan ada penurunan konsumsi (beras), mengingat Indonesia termasuk besar konsumsi berasnya," ujar dia.

Langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras, lanjutnya, adalah dengan diversifikasi pangan dan olahan. "Dan daerah yang punya potensi sumber daya karbohidrat lokal memadai dari raskin bisa jadi pangkin (pangan untuk miskin)," imbuhnya.

Adapun strategi lain untuk mencapai target surplus beras 10 juta ton adalah dengan perluasan areal lahan dan pengolahan lahan dan peningkatan produktivitas melalui intensifikasi, teknik budidaya, varietas unggul, iklim, dan penerapan kalender tanam. Strategi terakhir adalah penyempurnaan manajemen, deregulasi, data dan informasi.

Seperti diketahui, untuk mencapai target tersebut Menteri Pertania meminta tambahan anggaran sebesar Rp3 triliun. "Anggaran itu memang akan dimanfaatkan secara optimal agar road map sampai 2014 bisa terwujud," tandasnya.(inc/ind)



 

 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads

  Berita Utama
Divestasi Saham Freeport Bukan Jawaban bagi Keselamatan Rakyat dan Lingkungan

Kejari Eksekusi Gafar Terpidana 12 Tahun Kasus Mega Pungli Komura Samarinda

Komisi IX Sepakat Bentuk Panja Kasus Susu Kental Manis

Ketua Komisi I DPR: Tugas Jurnalistik Wartawan Harus Dilindungi

 

  Berita Terkini
 
Bimmas Polsek Senen Ungkap Kasus Curanmor Kurang dari 45 Menit

Panglima TNI Hadiri Jamuan Makan Malam di Istana Bandar Seri Begawan

Divestasi Saham Freeport Bukan Jawaban bagi Keselamatan Rakyat dan Lingkungan

DPR Sepakati RAPBN dan Rencana Kerja Pemerintah 2019

Kuliah Umum di RSIS, AHY: 'Generasi Muda Siap, Indonesia Siap!'

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2