Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Pemilu
Lieus Sungkharisma: Apakah Polisi Melakukan Hal Yang Sama Terhadap Posko Jokowi-Ma'ruf?
2019-01-02 05:43:12
 

Lieus Sungkharisma, Tokoh Masyarakat Tionghoa.(Foto: BH /mnd)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Pelaksana Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Lieus Sungkharisma mengecam keras tindakan oknum polisi yang mendatangi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB dan merobek buku tamu yang ada di meja resepsionis.

"Saya tidak hanya menyesalkan dan mengecam keras tindakan tersebut. Tapi juga meminta Kapolri menindak bawahannya itu. Sebab, jika dibiarkan dan tidak ditindak, tindakan aparat kepolisian NTB itu seolah-olah dapat restu dari atasan," kata Lieus kepada redaksi, Selasa (1/1).

Ditambahkan Lieus, apa yang terjadi di NTB itu memberi kesan kuat bahwa aparat kepolisian tidak bersikap netral dalam Pilpres 2019.

"Apakah hal yang sama juga mereka lakukan terhadap posko pemenangan atau kantor relawan Jokowi-Ma'ruf?" cetusnya.

Menurut Lieus, kedatangan tujuh orang aparat kepolisian ke Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB yang berlokasi di depan gedung Islamic Centre NTB pada Senin (31/12) lalu, telah menimbulkan ketakutan di kalangan relawan.

"Mereka datang katanya ingin bertamu. Tapi tanpa tujuan yang jelas dan tidak dibekali surat tugas. Anehnya kedatangan mereka tanpa lebih dulu mengkonfirmasi pada tuan rumah," ujar Lieus.

Akibatnya, lanjut Lieus, para relawan yang ingin berkunjung ke Rumah Aspirasi mengurungkan niatnya karena mengira sedang ada masalah.

"Teman-teman di sana jadi tidak nyaman," kata Lieus.

Tidak hanya itu, Lieus menduga, apa yang dialami relawan Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB, semakin menguatkan dugaan banyak orang bahwa polisi memang tidak netral dalam Pemilu dan Pilpres 2019.

"Peristiwa berbau intimidasi terhadap relawan Prabowo-Sandi NTB itu, menjadi indikasi kuat ketidaknetralan tersebut," tegasnya.

Jadi, menurutnya, sangat beralasan kalau masyarakat khawatir pada Pilpres 2019 tidak akan berjalan jujur dan adil (Jurdil).

"Sebab, polisi yang seharusnya bersikap netral dan melindungi semua rakyat, justru ikut bermain dan nyata-nyata menjadi pendukung salah satu pasangan capres saja," tuturnya.

"Apa yang dialami kawan-kawan di NTB itu, jelas menunjukkan adanya upaya intimidasi. Tidak sepatutnya aparat kepolisian melakukan hal itu. Rumah Aspirasi NTB itu bukan sarang para penyamun," imbuh Lieus menambahkan.(rus/RMOL/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Pemilu
 
  DPD SPN DKI Jakarta Gelar Deklarasi Pemilu Damai 2019
  GAMPO Gelar Deklarasi Anti Money Politic Jelang Pemilu
  Paska Debat Pilpres, Ulama Minta Masyarakat Tak Terpecah Belah
  Pemilu 2019 Tak Boleh Timbulkan Luka
  Jakarta Barat Pasang 1000 Spanduk: Ciptakan Kerukunan Umat Beragama Pada Pemilu 2019
 
ads

  Berita Utama
Sandi Effect, Pembeda Pilpres 2019

Netralitas TNI dan Polri pada Pemilu Tentukan Kualitas Demokrasi

Inilah Deretan Penghargaan Diraih Pemrov DKI Jakarta Dibawah Kepemimpinan Anies Baswedan

Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar Acara Millennial Road Safety Festival 2019

 

  Berita Terkini
 
Pertama Kalinya Simulasi Keselamatan Penerbangan Garuda Indonesia, Diikuti oleh Jajaran Direksi

Soal Pembatasan Berbagi Pesan WhatsApp, Pengguna: Tidak Signifikan Jika Hanya Cegah Hoax

Peternak Ayam Petelur Ngadu Sulit Dapat Pakan Jagung

Kocak yang Berfaedah di Film Orang Kaya Baru (OKB)

Banjir Bandang Terjang Gowa, 6 Orang Dilaporkan Meninggal dan 4 Jembatan Putus

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2