Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Pemanasan Global
Makna Mundurnya AS dari Kesepakan Paris Bagi Dunia
2017-06-03 04:36:02
 

Kesepakatan Iklim Paris 2015 ingin mempertahankan peningkatan temperatur global jauh di bawah 2'C.(Foto: Istimewa)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Presiden Donald Trump sudah mengumumkan Amerika Serikat akan mundur dari Kesepakatan Iklim Paris 2015 yang ingin mengendalikan peningkatan suhu global.

Langkah yang disesalkan sejumlah pihak namun apa makna mundurnya AS tersebut bagi dunia?

Akan menghambat kesepakatan

Tidak diragukan lagi bahwa mundurnya Amerika Serikat akan membuat dunia semakin sulit untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh Kesepakan Iklim Paris, yaitu mempertahankan penurunan temperatur global jauh di bawah 2'C.

Amerika Serikat menyumbang sekitar 15% emisi karbon global namun juga pada saat bersamaan merupakan sumber penting keuangan dan teknologi untuk negara-negara berkembang dalam upaya mengatasi peningkatan suhu.


 


Tenaga anginHak atas fotoREUTERS
Image captionSumber energi yang terbarukan meningkat semakin pesat.

Selain itu ada juga pertanyaan tentang kepemimpinan moral karena dengan keluarnya AS maka akan memiliki konsekuensi atas upaya-upaya diplomasi lainnya.

Michael Bruen dari kelompok peiat lingkungan AS, Sierra Club, berpendapat penarikan mundur itu sebagai 'kesalahan sejarah' yang akan membuat keturunan mendatang akan melihat ke belakang dengan penuh keheranan atas para pemimpin dunia yang berjarak dari kenyataan dan moralitas.

Masalah Amerika, peluang Cina

Hubungan yang menjadi kunci dalam mencapai kesepakatan Paris adalah antara Amerika Serikat dan Cina. Presiden Barack Obama dan Presiden Xi Jin Ping berhasil menemukan pijakan bersama yang cukup untuk yang disebut sebagai 'koalisi berambisi tinggi' bersama negara-negara pulau kecil dan Uni Eropa.

Trump, cuaca, iklimHak atas fotoEPA/MARISCAL
Image captionUnjuk rasa menentang keputusan Trump berlangsung di beberapa kota dunia, antara lain di Madrid, Spanyol.

Cina dengan cepat menegaskan kembali komitmennya atas Kesepakatan Iklim Paris 2015 dan akan mengeluarkan pernyataan dengan Uni Eropa untuk tekad kerja sama yang lebih besar dalam mengurangi karbon.

"Seharusnya tidak ada satupun yang ditinggal di belakang, namun Uni Eropa dan Cina sudah memutuskan untuk melangkah maju," tegas Komisaris Ikilm UE, Miguel Arias Caņete. Hampir bisa dipastikan Kanada dan Meksiko akan menjadi pemain penting dari kawasan Amerika dalam perang melawan peningkatan suhu.

Para pemimpin bisnis dunia akan kecewa

Salah satu suara lantang yang ingin agar AS tetap bergabung dengan kesepakatan Paris berasal dari perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat. Para pemimpin Google, Apple, dan ratusan perusahaan lain -termasuk perusahaan minyak fosil seperti ExxonMobil- mendesak Presiden Trump untuk tetap ikut kesepakatan iklim tersebut.

Fracking, InggrisHak atas fotoPA
Image captionTeknologi 'fracking' untuk mengambil gas dari bebatuan masih memicu kontroversi di Inggris.

Pimpinan puncak ExxonMobil, Darren Woods, menulis surat pribadi kepada Presiden Trump yang antara lain mengatakan AS 'berada dalam posisi yang baik untuk bersaing' dengan menerapkan kesepakatan iklim dan tetap bersamanya berarti 'satu kursi di meja perundingan guna menjamin medan permainan yang adil'.

Kecil kemungkinan batu bara muncul lagi

Peralihan di Amerika Serikat yang menjauh dari batu bara tercermin juga di negara-negara berkembang. Inggris akan menghentikan batu bara sebagai sumber listrik pada tahun 2025 sementara di Amerika Serikat jumlah lapangan kerja di industri batu bara kini hanya setengah dari sektor energi surya.

Negara-negara berkembang kemungkinan masih akan tergantung pada batu bara sebagai sumber utama energi dalam beberapa dekade, namun dampaknya atas kualitas air dan kemarahan umum atas polusi yang ditimbulkan akan menjadi faktor pembatas.

Tenaga surya
Image captionJumlah lapangan kerja di industri batu bara Amerika Serikat kini hanya setengah dari sektor energi surya.

Menurunnya harga energi yang terbarukan juga mendorong negara-negara perekenomian baru untuk melompat ke sumber-sumber energi yang lebih hijau. Dalam lelang di India baru-baru ini, misalnya, harga energi surya 18% lebih murah dibanding dengan harga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit batu bara.

Emisi AS tetap akan turun

Walau Presiden Trump mundur dari kesepakatan iklim, emisi karbon Amerika Serikat akan tetap terus menurun. Perkiraannya adalah penurunan sampai setengah, seperti yang direncanakan Presiden Obama. Hal tersebut karena produksi energi di negara itu lebih banyak berasal dari gas dibanding batu bara.

Revolusi fracking atau pengeboran dengan tekanan tinggi untuk mengeluarkan gas dari bebatuan- memperlihatkan peningkatan produksi gas yang sekaligus menyebabkan penurunan harga gas alam. Di beberapa negara, seperti di Inggris, teknologi fracking masih memicu kontroversi.

Namun jelas produsen energi lebih suka gas karena fleksibel dan bisa terintegrasi lebih baik dengan sumber-sumber energi yang terbarukan, yang juga berkembang pesat.(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads

  Berita Utama
Panglima TNI Gagas Doa Bersama 17 17 17 Serentak dari Sabang-Meuroke

Wakil Ketua DPR RI Nilai Pidato Presiden Tidak Sesuai Realita

Pemimpin Korut Kim Jong-un Putuskan Memantau Dulu 'Para Yankee Dungu' Amerika

Jadi Korban First Travel? Hubungi Posko 'Hotline' Ini jika Butuh Informasi!

 

  Berita Terkini
 
Rahmawati Soekarnoputri Pertanyakan Kemerdekaan Indonesia

Polisi Tetapkan Kiki Adik Bos First Travel Jadi Tersangka

72 Tahun Indonesia Kerja Bersama Wujudkan Kemakmuran Rakyat

Jusuf Kalla: UUD Boleh Berubah, Tetapi Tidak Merubah Visi Para Pendiri Bangsa

Ketua MPR: Yang Merasa Paling Pancasila Harus Belajar Lagi Sejarah Pancasila

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2