Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Cina
Mengapa Mata Uang Cina Merosot dan Apa Dampaknya Bagi Perdagangan Indonesia?
2019-08-08 05:59:01
 

Ilustrasi.(Foto: STR/AFP/GETTY IMAGES)
 
CINA, Berita HUKUM - Mata uang China kini telah mencapai titik terendah selama lebih dari satu dekade sehingga Amerika Serikat (AS) memberikan predikat kepada pemerintah Cina sebagai manipulator mata uang.

Pemberian cap itu akan menambah ketegangan antara dua raksasa ekonomi dunia.

Amerika Serikat memberikan predikat kepada China pada Senin (5/8), setelah mata uang China turun di bawah angka tujuh untuk setiap dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2008.

Beijing sebelumnya berusaha keras mencegah mata uangnya turun ke bawah tingkat simbolis.

Eskalasi perang dagang, yang dipicu oleh ancaman baru penerapan tarif oleh AS, dianggap menjadi pendorong perubahan kebijakan.

Pada Senin (05/08), Bank Rakyat China sebagai bank sentral mengatakan penurunan tajam yuan disebabkan oleh "tindakan sepihak dan proteksi perdagangan dan pemberlakuan kenaikan tarif terhadap China".

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan ia akan memberlakukan tarif 10% bagi barang-barang China senilai US$300 miliar, yang sejatinya mengenakan pajak bagi semua barang dari China yang masuk ke AS.

Bagaimana China menurunkan mata uangnya?

Yuan bukanlah mata uang yang bebas dijuarbelikan dan pemerintah Cina membatasi pergerakannya terhadap dolar AS.

Tidak seperti bank sentral pada umumnya, Bank Rakyat China tidak independen dan dilaporkan mendapat campur tangan ketika nilai mata uang yuan mengalami gejolak.

Bank Rakyat ChinaHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionBank Rakyat China mengklaim bahwa penurunan tajam yuan disebabkan oleh "tindakan sepihak dan proteksi perdagangan dan pemberlakuan kenaikan tarif terhadap China".

Ekonom senior masalah China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan dengan cara mengaitkan devaluasi yuan dengan ancaman tarif terbaru, bank sentral China "sebenarnya mempersenjatai nilai tukar, sekalipun tidak secara proaktif memperlemah mata uang melalui campur tangan langsung".

Apa dampak dari yuan yang lemah?

Yuan yang lemah membuat barang-ekspor China lebih kompetitif, atau lebih murah jika dibeli dengan mata uang asing.

Dari kaca mata Amerika Serikat, hal itu dianggap sebagai upaya untuk mengimbangi dampak dari penerapan tarif yang lebih tinggi terhadap barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat.

Meskipun tampak menguntungkan bagi konsumen di seluruh dunia - yang sekarang dapat membeli produk China dengan harga lebih murah - devaluasi menyebabkan risiko-risiko lain.

Melemahnya yuan juga akan membuat impor ke China lebih mahal, berpotensi mendongkrak inflasi dan memberikan tekanan lebih lanjut kepada ekonomi yang memang sudah melambat, dan sekaligus mendorong para pemegang mata uang untuk menggunakan uangnya membeli aset-aset lain.

Bagaimana dampaknya bagi perdagangan Indonesia?

Karena perdagangan antar regional kuat, pelemahan mata uang Cina juga diikuti oleh penurunan mata uang negara-negara mitra dagangnya, tak terkecuali rupiah, karena munculnya sentimen negatif.

Kepala Ekonom di Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mencatat dampak nyata dari penurunan mata uang China bagi Indonesia jika penurunan berlangsung lama adalah sektor perdagangan, baik dampak menguntungkan maupun merugikan.

"Kalau kita melihat dari rasio antara rupiah-yuan, rupiah-dolar yang akhirnya sebetulnya rupiah itu melemah terhadap yuan juga, sebetulnya positif bagi kita karena barang Indonesia menjadi lebih murah buat importir China," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, pada Rabu (7/8).

Kontainer di pelabuhanHak atas fotoREUTERS
Image captionPelemahan yuan diperkirakan tidak akan bermanfaat besar bagi eskpor Indonesia ke China.

Namun sayangnya ada faktor yang tidak mendukung analogi tersebut sebab sebagian besar ekspor Indonesia ke China berupa komoditas.

"Karena harga komoditas sekarang sedang turun. Jadi katakanlah nilai rupiah melemah terhadap yuan atau terhadap dolar Amerika, tetapi harga juga turun di saat yang sama, nettonya di mana?

"Ketika harga turunnya lebih besar daripada depresiasi rupiah maka kita tidak diuntungkan," terang Lana Soelistianingsih.

Di antara komoditas Indonesia yang dikirim ke China adalah batu bara, tembaga dan minyak kelapa sawit.

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat dampak negatif dari penurunan mata uang China terhadap perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan, meskipun untuk jangka pendek patut diwaspadai.

"Devaluasi yuan akan membawa efek rombongan bagi mata uang regional, terutama di Asia, yang mana cenderung lebih menekan atau terdepresiasi. Jadi rupiah juga akan terbawa arus itu," kata Fithra Faisal Hastiadi.

Apakah penurunan yuan seperti ini pernah terjadi?

Ya. Pada tahun 2015, bank sentral China merendahkan nilai mata uangnya ke tingkat terendah terhadap dolar AS dalam tempo tiga tahun, antara lain untuk menekan laju pertumbuhan ekonomi. Bank sentral mengatakan tindakan itu diambil untuk mendukung reformasi pasar.

Pelabuhan barang di ChinaHak atas fotoAFP
Image captionBulan lalu, data menunjukkan pertumbuhan ekonomi China merupakan yang terlambat sejak 1990-an selama kuartal kedua.

Yuan terakhir kali diperdagangkan pada angka tujuh terhadap dolar AS adalah ketika terjadi krisis keuangan global.

Ekonom di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan China telah lama berpendirian bahwa 'level tujuh yuan per satu dolar AS' merupakan ambang batas semaunya, "tetapi sebelumnya turun tangan untuk mencegah mata uang merosot di bawah ambang batas".

Mengapa penurunan yuan membuat AS gusar?

Membuat harga barang-barang China lebih kompetitif menyerang inti masalah perang dagang AS-China yang dikobarkan oleh Presiden Trump.

Presiden AS itu telah lama menuduh China menurunkan mata uangnya untuk mendorong ekspor, tetapi Beijing menepisnya.

Uang kertas yuan di tempat penukaran valas di ShanghaiHak atas fotoAFP
Image captionPresident Trump mengkaim tindakan China adalah "pelanggaran besar yang pada suatu waktu akan memperlemah China!"

Meskipun mengaitkan kemerosotan terbaru yuan dengan perang dagang, China terus menyatakan tidak akan melibatkan diri dalam "devaluasi kompetitif".

Gubernur Bank Rakyat China, Yi Gang mengatakan pada Senin bahwa China akan "menahan diri dari devaluasi kompetitif, dan tidak akan menggunakan nilai tukar demi mencapai tujuan kompetitif".(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Cina
 
  China Ancam Amerika Serikat karena Jual Pesawat Tempur ke Taiwan
  Mengapa Mata Uang Cina Merosot dan Apa Dampaknya Bagi Perdagangan Indonesia?
  Pemerintah Cina Pisahkan Anak-anak Muslim di Xinjiang dengan Keluarga Mereka
  Cina Mencatat Laju Ekonomi Paling Lambat, Indonesia 'Perlu Waspada'
  Populasi Cina 'Memuncak' pada 2029 dengan 1,44 Miliar Penduduk
 
ads

  Berita Utama
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR

Wakil Ketua DPR: UU Otsus Papua Perlu Direvisi

DPR RI Pilih Firli Bahuri sebagai Ketua KPK Baru Periode 2019-2023

BJ Habibie Wafat, Pemerintah Ajak Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang

 

  Berita Terkini
 
DPR dan Pemerintah Sepakat Revisi UU MD3

RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR

Festival Budaya Bahari Internasional Bakal Digelar di Pulau Tidung

Gubernur Anies Gowes Sepeda Temui Anak Yatim di Ancol

Biro Kepegawaian Kejaksaan Optimalkan Pola IT Menuju Zona Integritas

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2