Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Pertumbuhan Ekonomi
Mengapa Pemerintah Ragu Menaikkan Harga BBM dan Listrik?
2019-09-03 01:47:16
 

Ilustrasi. Demo Tolak Kenaikan Harga BBM dan Tarif Listrik.(Foto: Istimewa)
 
Oleh: Salamuddin Daeng

ALASANNYA ADALAH masyarakat Indonesia sebagian besar relatif sudah tidak punya uang untuk belanja. Kalau harga barang publik naik masyarakat langsung mengurangi belanja. Bahayanya jika masyarakat mengurangi belanja maka pemerintahan langsung bangkrut. Mengapa ?

Selama satu dasawarsa pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi. Antara 53-57 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Kontribusi investasi, ekspor, pengeluaran pemerintah hanya sisanya.

Apa akibatnya ? pemerintah berhadapan dengan masalah besar ketika daya beli stagnan. Pertumbuhan ekonomi pun stagnan. Mengapa daya beli stagnan? Karena pendapatan masyarakat relatif tidak bertambah, kesempatan kerja tidak bertambah, upah tidak bertambah.

Sekarang praktis yang masih mendukung daya beli adalah kredit konsumsi yakni kredit perumahan/property, kredit kendaraan bermotor, kartu kredit, dan pinjaman online. Tapi jumlahnya tidak tumbuh dan telah berada pada titik jenuh.

Sementara pemerintah membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Karena pertumbuhan ekonomi itu menjadi dasar bagi laku atau tidaknya obligasi negara atau surat utang negara. Pertumbuhan ekonomi akan menjadi ukuran negara layak dapat pinjaman asing atau tidak. Pertumbuhan ekonomi adalah satu satunya cara negara dipercaya oleh investor.

Dalam siatem sekarang, Kalau ekonomi tumbuh maka APBN bisa sehat dan selamat, sebaliknya kalau ekonomi tidak tumbuh maka APBN akan tidak sehat, tidak selamat dan bahkan bangkrut.

Dulu untuk membuat ekonomi tumbuh harga barang publik seperti BBM, listrik, dll dinaikkan. Dengan demikian pengeluaran masyarakat bertambah walaupun penerimaan tidak bertambah. Utang masyarakat bertambah sangat significant. Itulah mengapa ukuran kesejahteraan ditentukan dengan indikator pengeluaran. Jadi pengeluaran besar adalah ukuran rakyat sejahtera. Sri Mulyani tau hal ini.

Namun sekarang hukum itu tak berlaku lagi. Jika harga barang publik naik, BBM, listrik, transportasi, tiket pesawat, tiket penyeberangan dll, mengalami kenaikan, yang terjadi malah rakyat mengurangi konsumsi secara significant. Akibatnya pertumbuhan ekonomi langsung lemot.

Jadi kesimpulannya jika pemerintah ingin APBN selamat dari kebangkrutan maka pemerintah harus bagi uang yang banyak kepada seluruh rakyat agar rakyat bisa berbelanja. Maka dengan demikian ekonomi akan tumbuh, dan APBN akan selamat. Bagi bagi lah, karena Itu hukum ekonomi Bro....!.

Penulis adalah Peneliti senior dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).(bh/mnd)




 
   Berita Terkait > Pertumbuhan Ekonomi
 
  Pertumbuhan Diprediksi Turun, Pemerintah Tak Perlu Salahkan Corona
  Banyak Catatan Kritis Untuk Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Maju
  Mengapa Pemerintah Ragu Menaikkan Harga BBM dan Listrik?
  Pemerintah Dinilai Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 2018
  Menko Darmin Akui Ekonomi Indonesia Kalah Efisien Dibandingkan Vietnam
 
ads1

  Berita Utama
Masa Berlaku SIM Habis, Polda Metro Jamin Tidak Akan Menilang Pengendara Sampai 30 Juni 2020

Layanan Dibuka Kembali, Polri Beri Dispensasi Waktu Perpanjangan SIM Bagi Masyarakat Sampai 29 Juni 2020

Lakukan Pembatalan Pemberangkatan Haji 2020 Sepihak, Menag dinilai 'Offside'

Polisi Sita 15,6 Gram Ganja dari Tangan Artis Berinisial DS

 

ads2

  Berita Terkini
 
FPI, GNPF-Ulama dan PA 212: Pemerintah Gagal Atasi Penistaan Agama dan TKA China

Din Syamsuddin: Narasi 'PKI Tidak Akan Bangkit' Itu Narasi Pendukung Komunis

Berprestasi, 3 Personel Ditlantas Polda Metro Jaya Raih Penghargaan dari Kapolda Nana Sudjana

Luamayan, Bisa Menonton Cara Kerja Akal Sehat di Amerika

Jack Boyd Lapian Laporkan Mantan Kliennya ke Polisi Atas Dugaan Tindak Pidana Penipuan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2