Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Afghanistan
Menhan AS Mundur, Presiden Trump 'Akan Tarik 7.000 Serdadu' dari Afghanistan
2018-12-22 12:17:09
 

Pasukan AS di Afghanistan merupakan bagian dari misi NATO untuk melatih dan mendampingi militer Afghan.(Foto: AFP)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Pemerintah Amerika Serikat berencana menarik ribuan serdadu dari Afghanistan, sebut sejumlah laporan media di AS.

Beberapa pejabat yang identitasnya tidak disebutkan, mengatakan sekitar 7.000 serdadu-setengah dari seluruh tentara AS di Afghanistan-akan dipulangkan dalam beberapa bulan mendatang. Namun, sampai sejauh ini belum ada pejabat Kementerian Pertahanan AS yang secara terang-terangan mengonfirmasinya.

Laporan itu muncul sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan mundur pasukan AS dari Suriah.

Pada Kamis (20/12), Menteri Pertahanan Jim Mattis mengumumkan pengunduran dirinya. Dia menyebut bahwa dirinya berbeda pandangan dengan presiden, namun tidak secara gamblang menyatakan penarikan pasukan sebagai alasannya mundur.

Jim MattisHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionJenderal Mattis akan meletakkan jabatannya pada Februari mendatang.

Rekam jejak pasukan AS di Afghanistan

Pasukan AS telah ditempatkan di Afghanistan sejak 2001.

Hal ini bermula ketika Taliban-yang saat itu menguasai Afghanistan-menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan 11 September.

Presiden George W Bush kemudian melancarkan operasi militer untuk menemukan Bin Laden sekaligus menjungkalkan Taliban dari kekuasaan.

Pasukan khusus AS menemukan dan membunuh Bin Laden di Pakistan pada 2011 dan operasi tempur AS di Afghanistan resmi berakhir pada 2014.

Namun, setelah 2014, Taliban kembali berkuasa sehingga sejumlah pasukan AS dipertahankan untuk menjaga keamanan di Afghanistan.

Pada September 2017, Trump mengumumkan bahwa AS akan mengirim 3.000 serdadu tambahan ke sana, yang jelas berbeda dari janjinya untuk mempertahankan pasukan AS sampai batas waktu tak tertentu.

osamaHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES
Image captionKeberadaan pasukan AS di Afghanistan sejak 2001 terkait dengan Osama bin Laden.

Bagaimana reaksi terhadap rencana Trump?

Rencana Trump untuk mengurangi jumlah pasukan ditentang sejumlah pihak, sebagaimana dilaporkan harian Washington Post.

Di antara pihak yang menolak adalah Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly, dan penasihat keamanan nasional, John Bolton.

Senator Republik, Lindsay Graham, merilis cuitan yang menyebut penarikan mundur pasukan merupakan "strategi berisiko tinggi" yang membalikkan kemajuan AS di kawasan tersebut sekaligus menyediakan jalan bagi terciptanya "9/11 kedua".

Sebelumnya, dia juga menentang penarikan mundur pasukan dari Suriah yang disebutnya "kesalahan besar seperti yang dibuat Obama".

Akun medsios twitter Donald J. Trump yang ter Verified account
@realDonaldTrump menulis, "So hard to believe that Lindsey Graham would be against saving soldier lives & billions of $$$. Why are we fighting for our enemy, Syria, by staying & killing ISIS for them, Russia, Iran & other locals? Time to focus on our Country & bring our youth back home where they belong!".

Beberapa kalangan mengingatkan bahwa penarikan mundur pasukan AS akan menciptakan celah sehingga kelompok seperti Negara Islam (ISIS) bisa bangkit kembali.

Sementara, sebelumnya Menteri Pertahanan (Menhan) AS Jim Mattis mundur dari jabatannya, sehari setelah Presiden mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah.

Dalam surat pengunduran dirinya, Jenderal Mattis mengatakan presiden memilih hak untuk memilih menteri pertahanan yang pandangannya selaras dengan kebijakannya.

"Dan saya yakin ini waktu yang tepat untuk mundur," tulis Jenderal Mattis dalam suratnya.

Sementara, Presiden Trump, pada Kamis (20/12) waktu setempat, mengatakan Mattis akan pensiun akhir Februari nanti "karena ada perbedaan".

Dalam cuitannya, Trump menulis bahwa Mattis merupakan sosok yang "berperan besar membantunya merangkul negara-negara sekutu AS dan negara-negara lain" terkait kerja sama militer.

Tentara AS di SuriahHak atas fotoDELIL SOULEIMAN/AFP/GETTY IMAGES
Image captionSalah-seorang tentara AS sedang melakukan penjagaan di salah-satu sudut kota Tabqa, 29 Juni 2017.

Keputusan Mattis mundur dari jabatannya terjadi sehari setelah Presiden Trump mengeluarkan pengumuman kontroversial untuk menarik sekiitar 2.000 personel militer AS dari Suriah.

Menurut Trump, pasukan AS ditarik dari Suriah karena kelompok Negara Islam atau ISIS berhasil dikalahkan di wilayah tersebut.

Para politikus Amerika dan sekutu-sekutu negara itu menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan Trump tersebut.

Keputusan Trump itu disambut dengan kritik keras, dan sangat bertentangan dengan posisi Mattis, yang telah memperingatkan bahwa penarikan pasukan AS dari Suriah merupakan "kesalahan strategi".

MattisHak atas fotoMARK WILSON/GETTY IMAGES
Image captionKeputusan Trump itu disambut dengan kritik keras, dan sangat bertentangan dengan posisi Mattis, yang telah memperingatkan bahwa penarikan pasukan AS dari Suriah merupakan "kesalahan strategi".

Senada dengan Mattis, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat, Bob Corker, mengatakan kepada BBC bahwa keputusan Presiden Trump tersebut merupakan kesalahan besar.

"Untuk mundur dari sana sekarang, penarikan seperti ini merupakan kesalahan besar dan menunjukkan kita tidak dapat diandalkan oleh mitra-mitra kita yang bekerja sama selama bertahun-tahun dalam perang ini," kata Bob Coker.

"Jadi kami berharap presiden menyadarinya dan membatalkan keputusannya, meskipun kita menerima email dari medan tempur di Suriah yang menggambarkan betapa besarnya dampak negatif yang sudah terjadi," jelasnya.

Sebagian kalangan khawatir penarikan pasukan AS dari Suriah akan menyerahkan pengaruh di negara itu kepada Moskow dan Teheran.

Bagaimanapun, Presiden Trump membela keputusannya untuk menarik mundur pasukan Amerika Serikat dari Suriah, tempat di mana mereka memerangi kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dikatakannya ISIS merupakan hal yang disebutnya sebagai musuh lokal Suriah, Iran dan Rusia dan negara-negara itu harus melawannya.

Ditambahkannya Amerika tidak ingin menjadi polisi Timur Tengah.(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Afghanistan
 
  Menhan AS Mundur, Presiden Trump 'Akan Tarik 7.000 Serdadu' dari Afghanistan
  Pengebom Bunuh Diri Sasar Acara Maulid Nabi Muhammad di Kabul, Puluhan Tewas
  Bom Bunuh Diri di Kantor Pendaftaran Pemilih Afghanistan, Sedikitnya 57 Tewas
  Serangan Bom Bunuh Diri di Dua Masjid Afghanistan, Sudah 60 Orang Tewas
  Sekilas tentang pemimpin Taliban Hibatullah Akhundzada
 
ads

  Berita Utama
Nanoteknologi untuk Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Arsip Statis Presiden Soeharto Diserahkan Mbak Tutut ke ANRI

Pertemuan Prabowo - Jokowi, Amien Rais: Jangan Pernah Sangka Prabowo Gadaikan Prinsip!

Kemnaker: Pentingnya Memaknai Perkembangan Revolusi Industri 4.0

 

  Berita Terkini
 
Harus Ada Langkah Preventif Atasi Karhutla

Presiden Jokowi Diharapkan Angkat Jaksa Agung dari Jaksa Karier

Nanoteknologi untuk Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Agustus - September MPR Menggelar Acara Kebangsaan

Parpol Belum Maksimal Melakukan Pendidikan Politik

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2