Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
NASA
NASA Luncurkan Orion Versi Berawak
Saturday 06 Dec 2014 16:48:26
 

Misi Orion kali ini masih hanya akan berlangsung singkat. Lebih besar dan canggih dari misi Apollo.(Foto: twitter)
 
FLORIDA, Berita HUKUM - Orion, wahana yang nantinya diproyeksikan akan membawa manusia ke bulan atau Mars, telah diluncurkan dari pangkalan antariksa AS di Cape Canaveral, Florida. Namun penerbangan Orion kali ini hanya akan berlangsung singkat, untuk menguji teknologi pelik, seperti perisai panas dan parasut.

Roket Delta IV-Heavy menderu dari landasan pada 07.05 waktu setempat (19.05 WIB), untuk melontarkan wahana berbentuk kerucut pada ketinggian 6.000 km di atas planet bumi, dan selanjutnya melakukan perjalanan cepat kembali ke atmosfer bumi.

Uji ini akan menghasilkan suhu di kisaran 2.000 derajat C, yang memungkinkan para insinyur memastikan apakah sistem perlindungan termal Orion memenuhi spesifikasi.

Tim misi ini juga akan bisa memantau bagaimana parasut mengembang, saat mereka menurunkan kapsul dengan lembut ke perairan Pasifik di Semenanjung Baja, lepas pantai Meksiko.

Pendaratan diperkirakan terjadi pada sekitar 11.30 EST (23.30 WIB).

Pemantauan seksama

NASA menyiapkan sebuah pesawat tak berawak --drone-- di daerah itu untuk mengambil video pada saat-saat akhir pendaratan.

Penyelam Angkatan Laut AS di sebuah speedboat disiapkan untuk membawa Orion sesudah menghantam lautan.

Wahana yang mengambang itu lalu akan diseret ke dek sebuah kapal pendukung.

Orion agak mirip dengan wahana komando Apollo yang membawa manusia ke Bulan pada tahun 60-an dan 70-an, hanya lebih besar dan memiliki sistem teknologi mutakhir.

Wahana ini dikembangkan bersama roket baru yang sangat kuat yang akan mulai diluncurkan pada 2017 atau 2018.

Wahana dan roket ini diandaikan bisa akan merupakan inti dari kemampuan yang diperlukan untuk mengirim manusia lebih jauh dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Namun impian untuk kembali mendaratkan manusia di atas permukaan benda langit ini akan merupakan proses yang sangat panjang. Karena saat ini, pendanaan yang dianggarkan untuk misi ini jauh dibandingkan dengan dana yang dianggarkan untuk misi pendaratan di bulan tahun 1960-an-1970-an.

Bahkan andaikan hari ini Orion sudah berfungsi penuh, dengan roket yang berdedikasi, badan antariksa AS belum akan dapat meluncurkan suatu misi pendaratan di suatu permukaan planet lain karena teknologi untuk melaksanakan operasi untuk pendaratan itu belum lagi diproduksi, dan bisa jadi baru pada tahun 2030an misi Mars mungkin benar-benar terjadi.

Perjalanan ke Planet Merah akan memerlukan kendaraan transfer, modul huni, dan rantai pasokan dan komunikasi yang efektif.

Dan yang sangat mendasar dari seluruh usaha itu adalah solusi peluncuran dan mendaratan yang memungkinkan orang untuk turun dengan aman ke permukaan dan kemudian kembali lagi untuk melakukan perjalanan pulang.

Sejauh ini pendaratan terakhir pada sebuah benda antariksa dilakukan wahana tak berawak Rosetta, pada sebuah komet.

BEberapa waktu lalu, sebuah wahana India berhasil masuk ke orbit planet Mars, disusul sebuah wahana tak berawak AS, MAven.(BBC/bhc/sya)



 

 
   Berita Terkait > NASA
 
  Terobosan Baru, NASA Gandeng UBER Siap Sediakan Taksi Terbang Online
  NASA Luncurkan Orion Versi Berawak
  Nasa Uji Pesawat Mendarat di Mars
  Misi Maven Menuju MARS Diluncurkan NASA
  NASA Tantang Indonesia Ciptakan Aplikasi Luar Angkasa
 
ads

  Berita Utama
Polri dan Bea Cukai Membongkar Penyelundupan 600.000 Butir Pil Ekstasi

Setelah 37 Tahun Berkuasa, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe Mundur

Dipindahkan dari RSCM ke Rutan KPK, Setnov Pakai Rompi Orange dan Kursi Roda

Gubernur DKI Jakarta Gelar Apel Operasi Siaga Ibukota

 

  Berita Terkini
 
Polri dan Bea Cukai Membongkar Penyelundupan 600.000 Butir Pil Ekstasi

Program KUBE Butuh Penasihat Usaha

MKD DPR Tetap Akan Memproses Setya Novanto

Setelah 37 Tahun Berkuasa, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe Mundur

Aparat Hukum Harus Buktikan Kasus Transfer Standard Chartered Rp19 Triliun

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2