Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Rupiah
Pelemahan Rupiah Bahayakan Industri Ekspor Nasional
2018-03-20 11:56:46
 

Ilustrasi.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan cukup signifikan dalam dua bulan terakhir. Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan beranggapan, pelemahan nilai tukar rupiah berbahaya bagi industri berorientasi ekspor yang masih mengandalkan bahan baku impor. Sebab, para pengusaha atau industri harus membeli bahan baku dengan biaya yang tinggi.

"Ini menjadi simalakama bagi pengusaha. Mau menaikkan harga jual, atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan untuk memangkas biaya produksi. Persoalan ini harus diantisipasi, agar tidak menimbulkan permasalahan baru," tandas Taufik dalam keterangan persnya kepada Parlementaria, Senin (19/3).

Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan ini meminta Pemerintah mewaspadai pelemahan rupiah agar tidak tembus Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Awal Januari 2018, rupiah masih bertengger di level Rp13.300 per dolar AS. Namun, awal Maret 2018, nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga Rp13.800 per dolar AS.

Sebelumnya, Senior Director Corporate Ratings Standard and Poor's (S&P) Xavier Jean mengatakan, rupiah perlu diawasi agar tidak terus anjlok. Menurutnya, depresiasi bisa berlangsung cepat, seperti pelemahan nilai tukar rupiah pada 2015. Saat itu, rupiah melemah dari Rp12.000 ke Rp15.000 hanya dalam hitungan beberapa bulan.

Taufik pun mendorong adanya langkah strategis agar rupiah tidak semakin melemah dan fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat. Misalnya, Pemerintah kembali mengevaluasi pelaksaan paket kebijakan ekonomi yang pernah dikeluarkan.

Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan Taufik Kurniawan meminta Pemerintah mewaspadai pelemahan rupiah agar tidak tembus Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Di awal Januari 2018, rupiah masih bertengger di level Rp 13.300 per dolar AS. Namun, awal Maret 2018, nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga Rp 13.800 per dolar AS.

"Pelemahan ini harus diwaspadai banyak pihak. Tak dipungkiri, pengaruh global, khususnya kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, sangat besar. Tapi, situasi ini juga menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tidak terlalu kuat," ujar Taufik.

Politisi Fraksi PAN ini mendorong adanya langkah strategis agar rupiah tidak semakin melemah dan fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat. Misalnya, Pemerintah kembali mengevaluasi pelaksaan paket kebijakan ekonomi yang pernah dikeluarkan.

Dia menyarankan, Pemerintah perlu memberi stimulan kepada dunia usaha untuk menarik investasi ke Tanah Air. Kemudahan investasi dan kelonggaran pajak perlu diberikan agar para pengusaha terdorong mengembangkan usahanya. Dengan begitu, secara sendirinya rupiah akan menguat.

Dia juga meminta Pemerintah memperbesar bantuan sosial untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan daya beli akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, rupiah akan terdorong menguat. "Daya beli harus diperkuat melalui berbagai bantuan sosial," papar Taufik(eko/sf/DPR/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Rupiah
 
  Dampak Perang Dagang AS-China, Rupiah Makin Terdepresiasi
  Faisal Basri: Rupiah Rusak Karena Pemerintah Ambisius
  Rupiah Ambles ke Level Rp 14.370 per Dollar AS, Terlemah Sejak Oktober 2015
  Diskusi KAHMI Jaya Soroti Nilai Rupiah Anjlok dan Hutang Luar Negeri
  Rizal Ramli Yakin Rupiah Bisa Tembus Rp 17 Ribu per Dolar
 
ads

  Berita Utama
Mediasi Gagal, SPRI dan PPWI Meja-hijaukan Dewan Pers

SMPN 35 Kaur Boarding School Jadi Rebutan Murid Baru

Tiba di Tanah Air, Juara Lari Muhammad Zohri Disambut Haru

Gerakan HMS Berikan Data BCA Milik Rakyat, Imbas BLBI, Namun Ditolak KPK

 

  Berita Terkini
 
Pemda Kaur Lakukan Kerjasama Masalah Sanitasi Lingkungan Perumahan

Dewan Pers Mangkir Sidang Ke-7 PMH, Wilson: Dewan Pers Tidak Beradab

Dampak Perang Dagang AS-China, Rupiah Makin Terdepresiasi

Fahri Hamzah Pertanyakan Data BPS Mengenai Angka Garis Kemiskinan

Mediasi Gagal, SPRI dan PPWI Meja-hijaukan Dewan Pers

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2