Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Pilpres
Pengamat: Rusuh 22 Mei Diharapkan Jadi Momen Perubahan Budaya Politik
2019-05-25 14:12:57
 

Arya Wishnuardi (paling kiri) dalam diskusi publik oleh LSPI bertema 'Legitimasi Pemilu 2019: Antara People Power dan Rekonsiliasi' di D Hotel, Jakarta Selatan.(Foto: BH /mos)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Sejumlah pihak menyayangkan aksi demonstrasi berujung kerusuhan di sekitar kantor Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI). Apalagi, peristiwa pada 21-22 Mei dalam rangka menyikapi hasil Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 oleh kubu calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu, menelan korban jiwa.

Hal itu disampaikan pengamat ekonomi politik Arya Wishnuardi dalam diskusi publik oleh Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) bertema 'Legitimasi Pemilu 2019: Antara People Power dan Rekonsiliasi' di D Hotel, Jakarta Selatan, kemarin.

"Sudah selayaknya kita prihatin dengan kejadian tersebut. Keprihatinan ini karena ada anak-anak di bawah umur sampai meninggal dunia," ujar Arya, Jumat (24/5).

Pria yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Serikat Peternakan Rakyat Indonesia (SPRI) ini menyebutkan kejadian tersebut, sudah sepatutnya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak. Terutama untuk merubah kultur politik bangsa Indonesia.

"Peristiwa ini harus menjadi edukasi politik kita, yang memberikan kesadaran untuk kita semua apapun kontestasi politik di Indonesia, jangan dibangun dengan budaya kekerasan," jelasnya.

Arya memuji langkah Prabowo yang akhirnya menempuh langkah konstitusional. Gugatan kubu mantan Danjen Kopassus ke Mahkamah Konstitusi (MK), dinilai mampu meredakan suhu politik terlebih paska kericuhan.

"Kita apresiasi juga Pak Prabowo yang membawa sengketa Pilpres ke MK, secara konstitusional. Menurut saya ini merupakan masukan positif, yang bagus, menurunkan tensi di lapangan," tuturnya.

Arya percaya, hasil dari keputusan MK akan menjadi solusi terbaik bagi kedua kubu. Sebab putusan MK merupakan puncak dari upaya mencari keadilan, sehingga setelahnya dasar bagi kedua pihak untuk bersatu kembali membangun bangsa, menjadi lebih kuat.

"Semua pihak mencari proses yang legitimate dan fair. Rekonsiliasi itu perlu framework yang kuat. Dalam proses di MK, semoga semua pihak yang bersengkata adu data secara terbuka. Siapapun yang nanti dinyatakan sebagai pemenang, publik dapat melihat ini sebagai proses yang fair dan transparan," pungkasnya.(bh/mos)



 

 
   Berita Terkait > Pilpres
 
  Kubu Jokowi Maruf Menghina Wibawa dan Martabat 9 Hakim MK dan Lakukan Pembangkangan pada Peradilan
  Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Bisa Didiskualifikasi, Eks Penasehat KPK Sebut Alasannya
  Di Sidang MK, Denny Indrayana Ungkap Sebab ILC TVOne Tak Tayang Lagi karena Ada Tekanan
  Pertarungan 'Moral' Di Mahkamah Konstitusi
  Wakil Ketua DPR: Kredibilitas KPU Hancur Di Sidang MK
 
ads

  Berita Utama
Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Bisa Didiskualifikasi, Eks Penasehat KPK Sebut Alasannya

Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T

Wakil Ketua DPR: Kredibilitas KPU Hancur Di Sidang MK

Respon KontraS atas Siaran Pers Polri Terkait Peristiwa 21-22 Mei 2019

 

  Berita Terkini
 
Resmob PMJ Menangkap Pelaku Pencurian Dolar di Brangkas Mantan Teman Kantornya

Selama Pemerintahan Jokowi, Pertumbuhan Berkutat Hanya 5 Persen

DPR Harus Diberi Ruang Untuk Kritis

Pemerintah Harus Sadar Pentingnya Independensi DPR

Kubu Jokowi Maruf Menghina Wibawa dan Martabat 9 Hakim MK dan Lakukan Pembangkangan pada Peradilan

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2