Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Afghanistan
Perang Afghanistan: AS Sepakat Tarik 5.400 Pasukan pada Perjanjian dengan Taliban
2019-09-04 10:17:40
 

Penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan.(Foto: Istimewa)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Amerika Serikat akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 minggu ke depan sebagai bagian dari kesepakatan "secara prinsip" dengan kelompok milisi Taliban, kata juru runding Washington.

Zalmay Khalilzad pertama kali mengungkap perincian kesepakatan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu dalam sebuah wawancara televisi setelah memberi pengarahan kepada para pemimpin Afghanistan tentang perjanjian tersebut.

Namun ia mengatakan persetujuan akhir tetap ada di tangan Presiden AS Donald Trump.

Terjadi ledakan besar di Kabul saat wawancara tersebut ditayangkan. Taliban mengklaim berada di balik serangan itu, yang menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Mereka menyebut pasukan asing adalah sasarannya.

Bom juga menyasar kompleks perumahan warga asing dan Taliban mengatakan ada keterlibatan orang-orang bersenjata.

Serangan tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa negosiasi AS dengan Taliban tidak akan mengakhiri kekerasan sehari-hari di Afghanistan dan jatuhnya korban warga sipil.

Kelompok milisi itu kini menguasai paling banyak wilayah sejak invasi AS pada 2001 dan sejauh ini menolak untuk berbicara dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka cemooh sebagai boneka Amerika.

Kesepakatan yang dipaparkan oleh Khalilzad dalam wawancara dengan Tolo News adalah hasil dari sembilan putaran perundingan damai yang sebelumnya diadakan di Qatar.

Anggota pasukan keamanan Afghanistan berdiri di depan poster kandidat presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Kabul, Afghanistan 2 September 2019.Hak atas fotoREUTERS
Image captionPresiden Ashraf Ghani (dalam gambar) mendapat pengarahan tentang kesepakatan damai AS-Taliban pada hari Senin (02/09).

Sebagai imbalan atas penarikan pasukan AS, Taliban akan memastikan bahwa Afghanistan tidak akan pernah lagi digunakan sebagai pangkalan untuk kelompok-kelompok milisi yang berusaha menyerang AS dan sekutunya.

"Kami telah sepakat bahwa jika kondisinya berjalan sesuai dengan perjanjian, kami akan meninggalkan lima pangkalan yang kami tempati sekarang dalam waktu 135 hari," kata Khalilzad.

AS saat ini menempatkan sekitar 14.000 tentara di Afghanistan.

Seorang juru bicara Taliban mengonfirmasi lewat pesan teks kepada BBC bahwa rincian penarikan pasukan seperti yang diuraikan oleh Khalilzad benar.

Penarikan pasukan yang tersisa akan tergantung pada kondisi, termasuk dimulainya perundingan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban serta gencatan senjata, lapor wartawan BBC Lyse Doucet dari Kabul.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani akan mempelajari kesepakatan itu sebelum memberikan pendapat, kata juru bicaranya Sediq Seddiqqi pada hari Senin (02/09). Dia mengatakan pemerintah masih perlu bukti bahwa Taliban benar-benar berkomitmen pada perdamaian.

Banyak orang di Afghanistan khawatir bahwa kesepakatan AS-Taliban dapat mengikis hak-hak dan kebebasan yang telah mereka dapatkan dengan susah payah.

Kelompok milisi itu menerapkan hukum agama yang ketat dan memperlakukan perempuan secara brutal saat mereka berkuasa dari tahun 1996 hingga 2001.

Mengapa ada perang di Afghanistan?

Perang dimulai ketika AS melancarkan serangan udara satu bulan setelah insiden 11 September 2001 dan setelah Taliban menolak menyerahkan pemimpin mereka, Osama Bin Laden.

AS bergabung dengan koalisi internasional dan Taliban segera digulingkan dari kekuasaan. Namun, mereka berubah menjadi pasukan pemberontak dan terus melancarkan serangan mematikan, menggoyahkan pemerintah Afghanistan berikutnya.

Koalisi internasional mengakhiri misi tempurnya pada tahun 2014, tetap tinggal hanya untuk melatih pasukan Afghanistan. Tapi AS melanjutkan operasi tempurnya sendiri, dengan skala yang lebih kecil, termasuk serangan udara.

Namun Taliban terus mendapatkan momentum dan tahun lalu BBC mendapati bahwa mereka aktif di 70% wilayah Afghanistan.

Hampir 3.500 anggota pasukan koalisi internasional telah tewas di Afghanistan sejak invasi tahun 2001, lebih dari 2.300 di antaranya adalah orang Amerika.

Angka untuk warga sipil, militan dan pasukan pemerintah Afghanistan lebih sulit untuk dihitung.

Dalam laporan Februari 2019, PBB mengatakan bahwa lebih dari 32.000 warga sipil telah tewas. Institut Watson di Universitas Brown mengatakan 58.000 personel keamanan dan 42.000 pejuang oposisi telah tewas.(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Afghanistan
 
  Perang Afghanistan: AS Sepakat Tarik 5.400 Pasukan pada Perjanjian dengan Taliban
  Menhan AS Mundur, Presiden Trump 'Akan Tarik 7.000 Serdadu' dari Afghanistan
  Pengebom Bunuh Diri Sasar Acara Maulid Nabi Muhammad di Kabul, Puluhan Tewas
  Bom Bunuh Diri di Kantor Pendaftaran Pemilih Afghanistan, Sedikitnya 57 Tewas
  Serangan Bom Bunuh Diri di Dua Masjid Afghanistan, Sudah 60 Orang Tewas
 
ads

  Berita Utama
Ribuan Mahasiswa Kepung Gedung DPRD Kaltim Berakhir Ricuh

Harapan Tokoh Papua ke Mahasiswa yang Kuliah Diluar Papua

MPR Sepakat Perlunya Haluan Negara

Terungkap! Tanah Rencana Ibu Kota Baru RI Dikuasai Taipan Sukanto Tanoto

 

  Berita Terkini
 
Tolak Tuntutan Mahasiswa, Tagar #TurunkanJokowi Trending Topic

KPK Keras: Hei Pak Moeldoko Kami Tidak Hambat Investasi, Tapi Justru...

Negeri di Atas (Awan) Asap!

Serangan Kilang Minyak Arab Saudi: Presiden Iran Minta Pasukan Asing Menjauh

Ribuan Mahasiswa Kepung Gedung DPRD Kaltim Berakhir Ricuh

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2