Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
G20
Pertemuan Tatap Muka Pertama antara Presiden Trump dan Presiden Putin di G20
2017-07-08 18:43:21
 

Pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.(Foto: Istimewa)
 
JERMAN, Berita HUKUM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sudah bertemu untuk pertama kalinya di sela-sela pertemuan puncak G20 di Hamburg, Jerman.

Keduanya awalnya berjabat tangan saat acara pembukan resmi, Jumat (7/7) dan setelah itu menggelar pertemuan bilateral, yang disebut ingin memulihkan hubungan yang terganggu dengan dugaan Rusia campur tangan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu.

Presiden Trump mengatakan adalah kehormatan baginya untuk bertemu dengan Presiden Putin, yang pada gilirannya menyatakan gembira bisa bertemu secara langsung dengan Trump.

"Kami melakukan pembicaraa yang amat, amat baik. Kami berbicara sekarang dan jelas akan terus berlangsung. Kami menanti banyak hal positif yang terjadi untuk Rusia, Amerika Serikat, dan semua yang berkepentingan," jelas Presiden Trump.

Kedua pemimpin negara ini mengatakan ingin memperbaiki hubungan, yang dirusak dengan krisis Suriah dan Ukraina, dan juga dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS.

Menjelang G20, 76 polisi terluka dalam bentrokan dengan pemrotes. Pawai besar juga diperkirakan akan dilakukan Jumat (7/7) ini.

Dalam pertemuan ini, para pemimpin memiliki perbedaan pandangan terhadap perubahan iklim dan perdagangan.

Media Rusia melaporkan bahwa pertemuan akan terjadi sekitar satu jam, tetapi kemudian memperkirakan hanya 30 menit saja.

Dua presiden ini diperkirakan akan membahas masalah Suriah dan Ukraina.

Pada Kamis (6/7), Trump menyampaikan sebuah pidato di Ibu kota Polandia untuk meminta Rusia untuk berhenti "mendestablilisasi" Ukraina dan negara lain.

Moskow harus menghentikan dukungan untuk "rezim yang berseteru" seperti di Suriah dan Iran serta "bergabung dengan komunitas negara-negara yang bertanggung jawab", kata dia.

Presiden Trump mendesak Rusia untuk bergabung "berperang melawan musuh bersama dan mempertahankan perabadan itu sendiri".

Kremlin telah membantah komentar Trump.

Rusia menganeksasi bagian selatan semenanjung Krimea, Ukraina pada 2014, dan dituduh mengirimkan pasukan dan senjata untuk separatis di bagian Timur Ukraina.

Moskow membantah tuduhan itu, tetapi mengakui bahawa Rusia "secara sukarela" berperang bersama pemberontak.

Di Suriah, Washington mendukung sejumlah kelompok oposisi bersenjata, sementara Moskow merupakan sekutu utama Presiden Bashar al-Assad.

Kremlin telah menekankan pentingnya untuk mencari kesamaan pandangan, tetapi pilihan kata-kata dalam pidato Trump terhadap Rusia di Warsawa menunjukkan dia memahami bahwa politik dengan terlihat terlalu dekat dengan Putin dan dia telah berupaya untuk melakukan sejumlah serangan, seperti dilaporkan wartawan BBC James Robbins.

Dan masih harus dilihat apakah isu tuduhan campur tangan Rusia terhadap pemilihan presiden AS pada 2016 akan dibahas dalam pertemuan Trump dengan Putin.

Jalan menuju puncak kekuasaan

Perbedaan besar antara kedua pemimpin negara adi daya ini adalah pada masa lalu sebelum menjabat presiden.

Vladimir Putin menghabiskan waktunya sebagai mata-mata di masa perang dingin dan sedang bertugas sebagai agen di Jerman Timur ketika negara komunis tersebut ambruk.

Putin, RusiaHak atas fotoAFP
Image captionPutin menghabiskan banyak karier di dunia mata-mata sebelum menjadi presiden, perdana menteri, dan kembali menjadi presiden lagi.

Dia biasanya beroperasi di balik panggung dan tetap tidak tampil besar-besaran ketika menjabat wali kota St Petersburg tahun 1990-an, sebelum memimpin badan intelijen FSB dan menjadi presiden, perdana menteri, serta kembai lagi ke kursi presiden.

Praktis berkuasa sejak tahun 2000, Putin memiliki reputasi sebagai 'pejuang jalanan' yang bisa dilacak ke masa ketika ia besar di blok perumahan komunal di Leningrad.

Dia mengatakan bahwa tahun-tahun itu mengajarkannya 'jika perkelahian tak bisa dihindari, Anda harus melepas pukulan pertama'.

Sebagai perbandingan kontras, Trump lahir dari keluarga berada sebagai putra dari taipan properti di New York.

Dia berhasil bebas dari dinas wajib militer pada masa Perang Vietnam dan memulai bisnis sendiri dengan pinjaman US$1 juta dari ayahnya dengan membangun kerajaan properti, hotel, dan hiburan.

Trump, Amerika SerikatHak atas fotoAFP
Image captionTrump menggunakan popularitas The Apprentice sebagai batu loncatan untuk menjadi calon presiden dari Partai Republik.

Selalu berupaya menarik perhatian, populartas Trump meroket ketika menjadi pembawa acara TV terkenal, The Apprentice.

Dia kemudian menggunakan popularitasnya sebagai batu loncatan untuk mencalonkan diri sebagai presiden dari Partai Republik.

Walau gayanya di depan umum amat berbeda dengan Putin, yang tampak dingin dan mengendalikan diri, Trump juga sebenarnya tak malu-malu untuk siap berkelahi.

Memulihkan masa kejayaan

Baik Trump maupun Putin sama-sama memiliki ambisi untuk memulihkan perasaan hilangnya kejayaan dari masing-masing negara.

Putin menyebut bubarnya Uni Soviet sebagai 'bencana geopolitik terbesar pada Abad ke-20'.

Dia masuk ke Ukraina dan juga terlibat dalam perang di Suriah, yang dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kekuatan maupun pengaruh Rusia pada saat bersamaan memukul ekspansi NATO ke kawasan Eropa timur.

Sementara Presiden Trump berambisi dengan slogannya 'Membuat Amerika Hebat Kembali', yang antara lain berarti meningkatkan anggaran militer Amerika Serikat dan menekan sekutunya untuk menyediakan anggaran lebih besar untuk pertahanan masing-masing.

Rusia, Putin, Merkel, JermanHak atas fotoAFP
Image captionPutin membiarkan anjing labrador-nya ikut pertemuan dengan Angela Merkel, yang takut dengan anjing.

Selain itu, Trump juga mundur dari kesepakatan iklim dunia untuk melindungi lapangan kerja di industri dalam negeri, antara lain di industri batu bara.

Kedua pemimpin pria ini juga sama-sama punya sikap 'jantan' yang juga diperlihatkan saat bertemu dengan para pemimpin dunia lain.

Trump menolak bersalaman dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, dalam acara foto bersama pada bulan Maret tahun ini dan menggeser perdana menteri Montenegro dalam pertemuan puncak NATO, Mei lalu, untuk mendapat tempat di depan dan di tengah.

Sementara Vladimir Putin menggunakan cara-cara yang diatur untuk mengintimidasi pemimpin lain, seperti membiarkan anjing labrador-nya ikut dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang takut anjing.

Urusan keluarga

Gedung Putih di bawah Trump sepertinya menjadi urusan keluarga, yang jelas amat berbeda dengan cara Putin memimpin di Kremlin.

Putri Presiden Trump, Ivanka, mendapat kantor di West Wing dan menjadi penasihat ayahnya walau tanpa bayaran.

Trump, Kushner, IvankaHak atas fotoAFP
Image captionIvanka Trump dan suaminya, Jared Kushner, berperan penting di Gedung Putih.

Suami Ivanka, Jared Kushner, ditunjuk sebagai penasihat senior presiden, sebuah posisi penting di Gedung Putih, dengan tanggung jawab dalam masalah Timur Tengah dan Cina serta reformasi pengadilan dan hubungan dengan Meksiko.

Namun Putin tampaknya amat menutup keluarganya dari perhatian umum.

Dia dan Lyudmila -istrinya selama 30 tahun- mengumumkan perceraian tahun 2013 dan kedua putri mereka tidak banyak diketahui masrayakat umum.

Katerina, PutinHak atas fotoREUTERS
Image captionPutri bungsu Putin, Katerina Tikhonova, juga merupakan penari akrobat rock 'n' roll.

Tahun 2015, laporan media menyebutkan putri bungsunya, Katerina, tinggal di Moskow dengan menggunakan nama yang lain dan mendapat posisi senior di Universitas Moskow. Dia juga merupakan seorang penari akrobat 'rock 'n' roll'.

Sedangkan putri sulungnya, Maria, merupakan seorang ilmuwan yang mendalami endocrinology atau ilmu tentang kelenjar dan hormon.

Putin, beberapa waktu lalu, tidak mau menyebutkan nama dan usia dari kedua cucunya.(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > G20
 
  Pertemuan Tatap Muka Pertama antara Presiden Trump dan Presiden Putin di G20
  Di KTT G20, Barat Peringatkan Rusia Soal Ukraina
  Obama Memperingatkan Adanya 'Intimidasi di Asia'
  Pasca Pertemuan G20, Pemerintah Akan Terus Kelola Pemulihan Perekonomian Nasional
  Putin: Negara G20 Tolak Aksi Militer Suriah
 
ads

  Berita Utama
Dipindahkan dari RSCM ke Rutan KPK, Setnov Pakai Rompi Orange dan Kursi Roda

Gubernur DKI Jakarta Gelar Apel Operasi Siaga Ibukota

Kasau: Indonesia Jaya Expo 2017 Kenalkan TNI AU Lebih Dekat dengan Masyarakat

Forum Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia Tolak Reklamasi Selamanya

 

  Berita Terkini
 
Polda Metro Jaya dan APPI Menggelar Sarasehan dan Dialog UU No 42/1999 Jaminan Fidusia

Faisal Haris Siap Somasi Pelaku Rekam & Sebarkan Video Shafa Labrak Jennifer Dunn

Bakamla RI Luncurkan Kapal Baru KN Tanjung Datu 1101

TNI dan ADF Gelar Latihan Bersama Garuda Kookaburra 2017

Usulan KEK Meikarta Berpotensi Merugikan Keuangan Negara

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2