Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Amerika Serikat
Pilpres AS: Siapa Capres yang Diinginkan Menang oleh China, Iran, dan Rusia?
2020-10-01 12:16:43
 

Spanduk kedua Capres AS.(Foto: Reuters)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Apakah Kremlin akan berusaha mempertahankan Donald Trump sebagai presiden? Apakah Beijing memberikan dukungan moral kepada Joe Biden?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kalangan komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) menjelang pemilihan presiden November ini.

Penilaian seorang pejabat tinggi menyebutkan kekuatan-kekuatan asing akan menggunakan "langkah-langkah menebar pengaruh baik tersembunyi maupun terbuka" guna mempengaruhi pemilih AS. Kekuatan asing yang dia sebut secara eksplisit adalah Rusia, China dan Iran.

Tiga negara itu tidak bisa disamaratakan, karena menurut pandangan intelijen AS, masing-masing mempunyai tujuan dan kemampuan sendiri.
Penilaian itu sendiri menjadi sorotan. Seorang pembocor rahasia baru-baru ini diduga diminta untuk merendahkan ancaman dari Rusia karena "membuat presiden tampak buruk"

RUSIA

Seperti yang mungkin sudah diketahui, Rusia mencuri panggung dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 dan sesudahnya.

Singkatnya, intelijen AS meyakini Rusia berusaha mempengaruhi pemilih agar mendukung Donald Trump, merujuk pada pertemuan antara timnya dan para pejabat Rusia, serangan siber terhadap tim kampanye Hillary Clinton dalam pilpres lalu dan Demokrat, serangan terhadap database pemilih, serta upaya-upaya untuk membesar-besarkan materi bohong atau memihak di online.

Bulan lalu, panel Senat yang dikuasai kubu Republik memperkuat pandangan bahwa Rusia menginginkan Trump menang, dengan menyimpulkan kampanyenya menjadi sasaran empuk bagi pengaruh asing tetapi tidak sampai menuduh adanya konspirasi kejahatan.






Putin dan Trump, dalam gambar tahun 2017 di Vietnam



Keterangan gambar,


Intelijen AS mengatakan Rusia tidak pernah berhenti berusaha mencampuri politik Amerika Serikat.




Dalam Pilpres AS 2020, rival Trump adalah Joe Biden. Dalam ulasannya, yang ditujukan bagi publik Amerika, Kepala Pusat Keamanan dan Kontraintelijen Nasional (NCSC) William Evanina mengatakan Rusia "menggunakan berbagai langkah untuk secara khusus merendahkan mantan Wakil Presiden Biden".

Dalam pandangan Direktur FBI, Christopher Wray, Rusia tidak pernah berhenti campur tangan. Dia menyebut upaya dalam pemilihan kongres tahun 2018 sebagai "gladi bersih untuk pertunjukan besar pada tahun 2020".

Rusia secara konsisten membantah melakukan campur tangan dalam pemilu di negara-negara lain. Awal tahun ini, seorang juru bicara Kremlin menyebut tuduhan campur tangan "pengumuman paranoia" yang "tidak benar sama sekali".

Terlepas dari pertanyaan apakah Rusia menginginkan Presiden Trump tetap menjabat periode kedua atau tidak, pandangan lain yang sering diutarakan para analis adalah Rusia punya tujuan lebih luas, yaitu untuk menggoyahkan saingan-saingan Trump dengan cara menyebarkan kebingungan.

Sebagai contoh, tahun ini dokumen Uni Eropa menyebutkan ada kampanye Rusia untuk menyebarkan berita bohong tentang virus corona untuk mempersulit organisasi negara-negara Eropa tersebut mengomunikasikan responsnya. Rusia menyebut tuduhan itu tak berdasar.

Apa yang dikatakan kedua capres? Joe Biden baru-baru ini mengatakan akan ada "harga yang dibayar" jika Rusia terus melakukan campur tangan. Dia menyebut Rusia sebagai "lawan" dari Amerika Serikat.

Presiden Trump seringkali meremehkan tuduhan campur tangan Rusia, yang membuatnya berseberangan dengan para ahli intelijennya sendiri.

Setelah KTT tahun 2018 dengan Vladimir Putin, dia ditanya apakah dirinya lebih mempercayai komunitas intelijen AS atau presiden Rusia tentang tuduhan campur tangan Rusia.

Trump mengatakan: "Presiden Putin mengatakan pelakunya bukan Rusia. Saya tak melihat alasan mengapa harus Rusia." Ia kemudian membuat klarifikasi bahwa ia salah berbicara.

CHINA

Sosok-sosok penting di pemerintahan Trump berpendapat bahwa sebenarnya China, bukan Rusia, yang menjadi ancaman utama tahun ini.

"Saya sudah melihat data intelijen. Itulah yang saya simpulkan," kata Jaksa Agung William Barr. Politikus Demokrat Adam Schiff, yang mengetuai Komite Intelijen DPR, menuduh Barr "sepenuhnya berbohong".


Dalam penilaiannya, Evanina mengatakan intelijen AS meyakini "China lebih senang jika Presiden Trump - yang dianggap oleh Beijing sebagai sosok yang tak dapat ditebak - tidak menang lagi dalam pemilihan".







Presiden Xi Jinping



Keterangan gambar,


Presiden China Xi Jinping. Pemerintah AS di bawah Presiden Trump menganggap China sebagai ancaman terbesar dalam Pilpres AS.




"China memperluas pengaruhnya untuk membentuk lingkungan kebijakan di Amerika Serikat, menekan sosok-sosok di panggung politik yang dipandang menentang kepentingan China, dan menyerang balik kritik terhadap China," katanya.

Penggunakan kata "pengaruh" patut dicatat. Meskipun China mempunyai cara canggih mempengaruhi opini, tidak jelas seberapa jauh China siap melangkah.

"China akan tetap menimbang risiko dan keuntungan dari tindakan agresif," jelas Kepala Pusat Keamanan dan Kontraintelijen Nasional (NCSC) William Evanina.

Tujuannya mungkin lebih diarahkan untuk mempromosikan pandangan China kepada dunia.

Facebook baru-baru ini menutup jaringan akun yang berkaitan dengan China, sebagian besar kontennya mendukung negara China, seperti kepentingan negara itu di Laut China Selatan yang disengketakan.

China membantah tegas tudingan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara-negara lain, dengan mengatakan "tak tertarik atau tak bersedia melakukannya".


Apa yang dikatakan kedua capres? Bulan ini, Presiden Trump dengan rasa setuju mencuit ulang tulisan di situs Breitbart yang condong ke Trump. Judul artikel itu adalah "China tampaknya 'condong ke Joe Biden' dalam pemilihan presiden".

"Tentu mereka menginginkan Biden. Saya sudah mengambil miliaran dollar dari China dan memberikannya kepada petani kita dan Departemen Keuangan. China akan menguasai AS jika Biden & Hunter masuk!" Tulis Trump, merujuk pada putra Joe Biden, Hunter.

Hubungan antara China dan Amerika Serikat berada di titik rendah, yang diwarnai berbagai sengketa mulai dari virus corona hingga penerapan undang-undang keamanan kontroversial di Hong Kong oleh China.

Joe Biden berusaha menangkis tuduhan-tuduhan dari Presiden Trump bahwa ia bersikap lunak terhadap China, berjanji untuk "bersikap tegas" terhadap hak asasi manusia dan masalah-masalah lain.

Namun Demokrat menganggap, setidaknya menyangkut pemilihan, Rusia lah yang paling agresif.

Dalam pernyataannya, Evanina mengatakan Teheran menentang periode kedua Presiden Trump, yang diyakini akan membuat "tekanan terus menerus AS terhadap Iran dalam upaya menggerakkan perubahan rezim".

Dikatakan, upaya Iran akan dipusatkan pada "pengaruh online, misalnya menyebarkan informasi keliru di media sosial dan menyirkulasikan konten anti-AS".

Tuduhan intelijen disokong Microsoft. Perusahaan teknologi informasi raksasa itu mengatakan para peretas yang punya hubungan dengan Rusia, China, dan Iran berupaya memata-matai sosok-sosok kunci dalam pemilu AS.

Soal Iran, perusahaan tersebut mengatakan sebuah kelompok Iran yang dikenal dengan sebutan Phosphorus gagal menembus akun-akun milik para pejabat Gedung Putih dan tim kampanye Trump antara Mei dan Juni tahun ini.







Hassan Rouhani





Keterangan gambar,


Iran, di bawah pemerintahan Presiden Hassan Rouhani, menepis tuduhan bahwa mereka menginginkan capres tertentu menang dalam Pilpres AS.





Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut laporan Microsoft "absurd". "Iran tidak merisaukan siapa yang akan menduduki kursi kepresidenan di Gedung Putih," kata jubir Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh.

Sebuah laporan mengenai upaya Iran dalam menebar pengaruh awal tahun ini dari the Atlantic Council menyebut Iran fokus menggolkan agenda nasional, seperti meraih supremasi di kawasan Timur Tengah.

"Hampir semua konten yang disebarkan Iran secara digital berkaitan langsung dengan pandangannya terhadap dunia atau tujuan kebijakan luar negeri yang spesifik. Konsekuensinya, mudah untuk mengidentifikasi operasi-operasi Iran ketimbang aktor-aktor lain seperti Rusia yang kontennya kemungkinan besar agnostik secara politik."<

Apa yang dikatakan kedua capres? Iran tidak tampil terpandang dalam pemilu AS, seperti Rusia atau China, baik dalam konteks kemungkinan menebar pengaruh atau kebijakan.

Presiden Trump punya kebijakan agresif terhadap Iran, menarik mundur dari kesepakatan nuklir, serta memerintahkan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani.

Joe Biden mengatakan kebijakan ini gagal. Dalam tulisan editorial untuk CNN, dia mengatakan ada "cara yang cerdas untuk tegas pada Iran". Dia berikrar untuk menekan "aktivitas-aktivitas yang mendestabilisasi" sekaligus menawarkan "jalur menuju diplomasi".(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Amerika Serikat
 
  Pilpres AS: Siapa Capres yang Diinginkan Menang oleh China, Iran, dan Rusia?
  Siapa Remaja 17 Tahun yang Diduga Menembaki Demonstran Menyusul Kematian Jacob Blake di Wisconsin?
  Jacob Blake, Pria Kulit Hitam AS Ditembak 'Tujuh Kali' oleh Polisi Hingga 'Lumpuh', Picu Kerusuhan
  Mungkinkah Joe Biden Kalahkan Donald Trump dan Jadi Presiden AS Berikutnya?
  Tensi AS-China Meninggi, Washington Perintahkan Tutup Konsulat China di Houston
 
ads1

  Berita Utama
Libur Panjang Oktober 2020, Ditlantas Polda Metro Siagakan 749 Polantas di Lokasi Arus Lalu Lintas dan Tempat Wisata

Pakar Usulkan Vaksin Covid-19 Disuntikkan Dulu ke Pejabat

749 Personel Polda Metro Jaya Siap Kawal dan Amankan Lalu Lintas Selama Libur Panjang

Rocky Gerung Sebut Pihak Asing Bisa Lihat Presiden Jokowi Penuh dengan Kontradiksi

 

ads2

  Berita Terkini
 
Polisi: Dari CCTV, Terduga Pelaku Pembegalan Anggota Marinir Ada 4 Orang

Seminar Sosialisasi PP No.39/2020: 'Akomodasi yang Layak Bagi Disabilitas dalam Proses Peradilan'

Wahai Pemuda, Jangan Jadi Pecundang

Dede Yusuf: Pembelajaran Jarak Jauh Belum Efektif

Redaksi Suara Papua dan AJI Perbaiki Permohonan Uji UU ITE

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2