Acara wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk di Pendopo Gunung Kidul tersebut, menurut Yanto," /> BeritaHUKUM.com
Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Wayang
Seperti Arjuna, Ketua PN Jakpus Dr Yanto: Raja atau Pemimpin Harus Memiliki 8 Sifat Alam
2019-09-22 15:25:18
 

Ketua PN Jakpus Dr. Yanto, SH, MH diapit dua wanita saat menjadi dalang.(Foto: Istimewa)
 
YOGYAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Dr Yanto, SH. MH sebelum melakukan acara "Road Family Gathering" menjadi dalang di acara gelar budaya pagelaran wayang kulit.

Acara wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk di Pendopo Gunung Kidul tersebut, menurut Yanto, Ia mengangkat tema, "Lakon Wahyu Sri Makutha Rama".

Sebagai Dalang, menurut Pria kelahiran Gunung Kidul pada 21 Januari 1960 ini, kisah dewata yang agung akan menurunkan Wahyu Kamulyaning Jagat, bernama Wahyu Sri Makutha Rama.

"Turunnya Wahyu melalui Panhita Tiban yang bernama Kesawasidi penjelmaan Sangyang Wisnu atau Bathara Rama yang berada di Bukit Kutharunggu atau Gunung Swelagiri," ujarnya Yanto pada Sabtu dinihari (21/9) di Pendopo Gunung Kidul.

Sejatinya menurut mantan Ketua Pengadilan Sleman dan Bali tersebut, Resi Kesawidi adalah jelmaan Sri Bathara Kresna Raja Dwarawati yang telah bersatu, sejiwa dengan Batara Rama Wijaya, mantan Raja Pancawati.

"Barang siapa yang dapat menerima wahyu tersebut kelak keturunannya akan menjadi raja di tanah Jawa," ujar Yanto seraya mengatakan berita itu diterima oleh semua titah Ngarcapada melalui wangsit, seperti Duryudana dan Arjuna.

Kemudian Prabu Duryudana mengutus Adipati Karno, dan Arjuna berangkat sendiri-sendiri untuk mencari wahyu tersebut, dengan memperbanyak bertapa, dan sayangnya Adipati Karno tidak berhasil mendapatkan wahyu. Karena dilereng Gunung Kutharunggu dia sudah dihadang oleh Hanoman dan saudara Tunggal Bayu sebagai cantrik-cantriknya Resi Kesawidi, yang menjaga pertapaan Kutharunggu atau Swelagiri.

Pertarungan pun tak dapat terhindarkan, menurut Yanto, Adipati Karno kemudian menggunakan pusaka panah Kunta Wijaya Danu namun disaut oleh Hanoman dengan maksud senjata tersebut akan diberikan kepada Resi Kesawidi dan selanjutnya diberikan kepada Arjuna.

"Kemudian diakhir pertapaanya di Kutharunggu, Hanoman menghadap Resi Kesawi dengan maksud menyerahkan Pusaka Kunta Wijaya Danu kepada Resi Kesawidi," ucap Yanto sambil memohon agar diberikan jalan kematian karena saudara-saudaranya sudah gugur dimedan perang, brubuh alengka atau jaman Ramayana sudah berakhir, tetapi dia belum mati.

"Namun oleh Resi Kesawidi Hanoman kena marah. Kenapa? karena merebut senjata Kunta Wijaya Danu bukan ditadahi dada, mungkin bisa jadi lelantaran kematian tapi tidak dilakukan oleh Hanoman," ucapnya

Selanjutnya Yanto bilang, menurut Resi Kesawidi atas kesalahan Hanoman tersebut Ia tidak akan mati, sebelum menikahkan warengnya Arjuna bernama Prabu Jayabaya dikerajaan Kediri.

"Kemudian Hanoman diperintahkan kembali untuk bertapa dan menjaga kuburannya Perabu Dasamuka di Gunung Sumowono yang berdekatan dengan Gunung Kendalisodo tempat pertapaan Hanoman".

Lalu Arjuna menghadap Resi Kesawidi dan diberikan senjata Kunta Wijaya Danu. "Awalnya Arjuna tidak mau menerimanya, tetapi akhirnya diterima juga, dan senjata Kunta Wijaya Danu dikembalikan Arjuna kepada pemiliknya yakni Adipati Karno".

Walaupun Arjuna sudah tahu kalau nantinya Adipati Karno akan menjadi musuhnya di Perang Barata Yuda. Namun karena sang Arjuna memiliki sifat baik dan terpuji itulah, yang merupakan keutamaan jiwa kesatrianya. Oleh karena itulah Arjuna diberikan wahyu Sri Makutha Rama.

"Sejatinya wahyu tersebut adalah berupa ajaran yang sangat mulia dan luhur, yaitu ajaran Hasta Brata. Artinya Hasta adalah delapan dan Brata adalah jalan atau laku," ucap Yanto sambil mengatakan bagi para Raja atau pemimpin haruslah bersifat seperti delapan alam tersebut.

Menurut Yanto sifat delapan alam itu antara lain, Surya atau Matahari, Chandra atau Bulan, Kartika atau Bintang, Bayu atau Angin, Agni atau Api, Samodra atau laut, Khisma atau Bumi dan Himantaka atau Mendung atau Awan.

"Apabila seorang Raja atau Pemimpin dapat mentauladani ke delapan sifat alam tersebut, maka bisa menjadi Raja atau Pemimpin yang berbudi baik, serta arif dan bijaksana, dalam semua hal sebagaimana dicontohkan oleh ke delapan alam ciptaan Tuhan tersebut, pungkasnya.(bh/ams)



 
   Berita Terkait > Wayang
 
  Seperti Arjuna, Ketua PN Jakpus Dr Yanto: Raja atau Pemimpin Harus Memiliki 8 Sifat Alam
  Karnaval Wayang Sedunia
  Mabes TNI Gelar Wayang Orang
 
ads1

  Berita Utama
Masa Berlaku SIM Habis, Polda Metro Jamin Tidak Akan Menilang Pengendara Sampai 30 Juni 2020

Layanan Dibuka Kembali, Polri Beri Dispensasi Waktu Perpanjangan SIM Bagi Masyarakat Sampai 29 Juni 2020

Lakukan Pembatalan Pemberangkatan Haji 2020 Sepihak, Menag dinilai 'Offside'

Polisi Sita 15,6 Gram Ganja dari Tangan Artis Berinisial DS

 

ads2

  Berita Terkini
 
Dana Haji Diperuntukkan bagi Kepentingan Jemaah Bukan untuk yang Lain

Empat Pasal Keberpihakan Bagi UMKM Diusulkan dalam RUU Cipta Kerja

Komisi III Desak Polri Selidiki Tertembaknya Dua Warga Poso

Ruslan Buton Ajukan Gugatan Praperadilan, Polri: Hak Tersangka

Seandainya George Floyd Orang Indonesia

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2