Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Qatar
Setahun Diboikot Negara-negara Teluk, Qatar 'Tidak Juga Tumbang'
2018-06-07 05:10:42
 

Qatar sekarang punya peternakan sapi yang canggih yang mampu memenuhi kebutuhan susu di dalam negeri.(Foto: twitter)
 
QATAR, Berita HUKUM - Jauh di pedalaman gurun di Qatar, di peternakan Baladna yang dilengkapi alat pendingin, seekor sapi berjalan masuk ke korsel canggih, siap untuk diambil susunya

Setahun lalu Qatar tak punya peternakan. Kebutuhan susu dibeli dari negara tetangga, Arab Saudi.

Sekarang, peternakan Baladna memiliki 10.000 ekor sapi, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.

'Rombongan' pertama sapi-sapi ini didatangkan dengan pesawat Qatar Airways, satu bulan setelah krisis Teluk, ketika Qatar diblokade oleh beberapa negara tetangganya.

Sapi sekarang menjadi kebanggaan nasional karena dianggap melambangkan gerakan kemandirian.

"Semua orang mengatakan kami pasti gagal ... kenyataannya kami berhasil membangun peternakan," ujar Peter Weltevreden, manajer peternakan Baladna.

"Janji kami ketika itu adalah, satu tahun setelah blokade kami bisa mencukupi kebutuhan susu dalam negeri," imbuhnya.

Pada 5 Juni tahun lalu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir semuanya memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar.

Negara-negara ini menuduh Qatar mendukung terorisme, memicu gangguan stabilitas kawasan dan berupaya meningkatkan hubungan dengan Iran.

Qatar menolak klaim tersebut dan menyatakan tidak bersedia mematuhi desakan negara-negara tetangganya, termasuk tuntutan menutup jaringan berita Al Jazeera.

Sejak blokade ini, Qatar menggunakan cadangan devisa yang berlimpah dari ekspor gas untuk bertahan dari blokade ekonomi. Mereka juga menganggap boikot sebagai upaya untuk melemahkan kedaulatan.

"Salah satu tujuan negara-negara yang menerapkan blokade adalah konsolidasi kekuasaan di kawasan," kata Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, menteri luar negeri Qatar.

"Mereka menyebut pihak-pihak yang tidak setuju dengan mereka adalah teroris."

Akar persoalan

Qatar mengatakan penyebab utama blokade negara-negara Teluk adalah serangan siber terhadap kantor berita nasional yang berdampak dengan penerbitan artikel yang seolah-olah mengutip penguasa Qatar.

Peta Qatar

Dalam artikel ini penguasa Qatar digambarkan bersimpati dengan kelompok militan Lebanon Hizbullah dan kelompok Hamas di Gaza. Dikutip pula pernyataan bahwa Donald Trump tak akan bertahan lama sebagai presiden Amerika Serikat.

Tapi, para analis mengatakan akar persoalannya lebih dari itu.

"Akar permasalahannya ditutup-tutupi selama 20 tahun dan baru dibuka tahun lalu," kata Ali Shihabi, pendiri lembaga Arabia Foundation di Washington, AS.

Ia mengacu pada rekaman yang beredar setelah tumbangnya pemimpin Libia Muammar Gaddafi pada 2011 yang memperlihatkan ayah emir Qatar merencanakan penggulingan kekuasaan terhadap kerajaan Saudi.

Shihabi mengatakan Qatar melanggar perjanjian dengan terus memberi dukungan finansial kepada para pembangkang di Timur Tengah dan juga mendukung Al Jazeera.

Ia menyatakan melalui Al Jazeera, Qatar bisa menjangkau 22 juta orang di Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir. Padahal penduduk Qatar cuma 300.000 jiwa.

"Qatar adalah adik dan sebagai adik ia tak sepantasnya memainkan peran lebih besar dari kakak-kakaknya karena itu hanya akan memicu masalah," kata Shihabi memberi perumpamaan.

Untuk sementara ini Qatar bisa mengatasi blokade.

Mereka membuka pelabuhan baru senilai US$7 miliar atau sekitar Rp97 triliun lebih cepat dari rencana. Pelabuhan di Teluk ini sangat efektif mengatasi sanksi ekonomi yang diterapkan negara-negara tetangga.

Pelabuhan antara lain dimanfaatkan sebagai pintu masuk barang dan material untuk pembangunan stadion dan berbagai fasilitas penunjang pelaksanaan Piala Dunia 2022 di negara tersebut.

Lebih dekat ke Iran

Tapi isolasi negara-negara Teluk juga mendorong Qatar untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Iran. Qatar memiliki batas maritim dengan Iran dan sekarang menggantungkan pada wilayah udara Iran.

Menlu QatarHak atas fotoAFP
Image captionMenlu Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan pihaknya harus bekerja sama dengan Iran.

"Iran adalah tetangga. Kami harus bekerja sama dan berkomunikasi dengan mereka," kata Menlu al-Thani.

"Kami memiliki pandangan yang berbeda tentang kebijakan di kawasan tapi perbedaan tak bisa diatasi dengan konfrontasi."

Amerika, yang awalnya mendukung Saudi dan kawan-kawan dalam sengketa dengan Qatar, belum lama ini meminta agar negara-negara di Teluk ini bersatu.

Amerika sedang mengupayakan sanksi baru terhadap Iran dan punya pangkalan militer besar di Qatar.

Di pasar bersejarah Souq Waqif, warga Qatar berharap blokade ini segera berakhir.

"Negara-negara Teluk semuanya dihubungan dengan perkawinan," kata seorang laki-laki yang memiliki istri dari Riyadh, Saudi. "Menyakitkan rasanya kalau keluarga harus terpisah."

Yang lain tak terlalu mempermasalahkan dan bahkan menganggap blokade sebagai medium untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

Saad Al-Jassim, laki-laki berusia 84 tahun yang dulu bekerja sebagai pencari mutiara, mengatakan Qatar harus berdiri tegak mengatasi segala tantangan.

"Kami sekarang jauh lebih baik. Dulu kami membeli, sekarang kami bisa memproduksi sendiri ... ini negara saya dan saya cinta negara saya," katanya.(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Qatar
 
  Setahun Diboikot Negara-negara Teluk, Qatar 'Tidak Juga Tumbang'
  Qatar Diberi Tenggat 48 Jam Penuhi Tuntutan 4 Negara Arab
  Inilah 13 Tuntutan dan Ultimatum Arab Saudi pada Qatar
  Pengasingan Qatar, kata Erdogan, 'Berlawanan dengan Nilai-Nilai Islami'
  Qatar Membuka Jalur Laut Langsung dengan Oman
 
ads

  Berita Utama
Keabsahan dan Eksistensi Anggota Dewan Pers Dituding Cacat Hukum

Rizal Ramli Minta Undang-Undang BPJS Segera Direvisi

Mendikbud Resmikan Peluncuran 10 Seri Buku Berjudul 'Karya Lengkap Bung Hatta''

Kombes Hengki: Polisi Menangkap 23 Preman pada 2 Lokasi di Kalideres

 

  Berita Terkini
 
PRM Akan Beri Masukan ke DPR Terkait RUU Pesantren dan Pendidikan Agama

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis Meresmikan Portal Baru PMJNEWS.com

Amnesty International Cabut Penghargaan untuk Aung San Suu Kyi

Keabsahan dan Eksistensi Anggota Dewan Pers Dituding Cacat Hukum

Empat Maskapai Sudah Kantongi Izin Rute Penerbangan Bandara APT Pranoto Samarinda

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2