Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Beras
Target Swasembada Pangan 2017 Sulit Terwujud
2016-05-15 12:03:10
 

Ilustrasi. Gubuk reot di sawah saat tanaman padi yang menghijau.(Foto: BH/rbmzd)
 
MAGELANG, Berita HUKUM - Target swasembada pangan yang digadang-gadang bakal tercapai pada 2017 oleh pemerintah benar-benar tidak realistis. Nasibnya tak akan jauh berbeda dengan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang beberapa kali gagal menargetkan swasembada pangan. Ambisi swasembada pangan terancam gagal karena pemerintah hanya memperhatikan infrastruktur, salah satunya melalui Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Jilid 4, tanpa memperhatikan sumber daya manusianya secara serius.

"Regenerasi sumber daya manusia yaitu petani yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya program swasembada pangan tak tersentuh sama sekali. Faktanya, profesi petani saat ini kurang diminati oleh generasi muda. Generasi muda saat ini lebih tertarik bekerja di bidang industri daripada bidang pertanian," terang Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Agustinus Sucipto.

Ia menambahkan gejala ini salah satunya bisa dilihat dari banyaknya generasi petani yang lebih memilih meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengais rejeki di luar negeri sebagai TKI/TKW. Selain itu, banyak anak petani usia produktif lebih memilih hijrah ke kota menjadi buruh pabrik (industri).

"Dalam budaya kita profesi petani dianggap sebagai profesi kelas dua atau bahkan menjadi pilihan terakhir. Profesi petani indentik dengan pekerjaan kasar, kotor dan menjadi masyarakat kelas rendah atau sudra. Dalam masyarakat kita ada stigma bahwa petani adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek ekonomi cerah," terang Peneliti MCI dari keluarga petani ini.

Ia pun menemukan, di banyak keluarga petani pun, orangtua berharap anak-anaknya menjadi, guru, polisi, tentara, dokter, pilot dan bidang kerja lain yang nonpertanian. Tak jarang, banyak petani yang rela menjual sawah mereka untuk biaya pendidikan anak-anak mereka agar tidak menjadi petani. Bahkan, ada yang menjual sawah mereka sebagai uang pelicin agar anak mereka bisa bekerja di sektor lain yang menurut mereka lebih terhormat.

"Profesi petani menjadi pilihan terakhir ketika mereka tidak memperoleh pekerjaan yang mereka inginkan," tegas pria yang kini konsen pada kajian masifnya pergeseran budaya agraris ke industri di Indonesia.

Ia menerangkan lahan pertanian yang semakin sempit juga menjadi ancaman serius dalam program swasembada pangan. Pandangan "banyak anak banyak rejeki" mengakibatkan penyempitan lahan setelah dibagi-bagi sebagai warisan. Selain itu, sempitnya lahan pertanian juga disebabkan oleh masifnya pembangununan pemukiman yang merengsek ke lahan pertanian produktif.

"Profesi petani yang semakin tidak diminati generasi muda petani saat ini menjadi menjadi ancaman serius bagi program swasembada pangan karena petani lah ujung tombak program swasembada pangan. Selain memperhatikan infrastruktur, pemerintah seharusnya melirik sumber daya manusia (SDM) yaitu petani dan terlebih generasi penerusnya," saran peneliti yang berprofesi sebagai pendidik ini.

Alumnus Ilmu Filsafat di STFT Widya Sasana Malang ini menjelaskan perubahan paradigma sangat dibutuhkan agar stigma profesi petani sebagai profesi rendahan atau sudra berubah baik di generasi muda petani. Salah satu pendekatannya yaitu pendekatan budaya.

Festival-festival yang bertemakan keunggulan pertanian dan pameran pertanian secara tidak langsung akan mempengaruhi pandangan masyarakat dan petani, teristimewa generasi mudanya akan merasa bahwa keberadaan petani dihargai.

"Penyuluhan pertanian yang selama ini menitikberatkan pada optimalisasi hasil pertanian, perlu digeser ke penyuluhan mental petani. Petani dan generasi mudanya hendaknya dibuat bangga akan profesi mereka yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian bangsa dan menjadi ujung tombak swasembada pangan," tegasnya.

Pendekatan melalui pendidikan juga penting untuk mengubah paradigma profesi petani. Selama ini, ketika berbicara cita-cita, para pendidik di sekolah-sekolah pedesaan jarang yang menyentuh profesi petani sebagai cita-cita yang bergengsi.

"Pemerintah juga harus serius menggarap sistem distribusi komoditas pertanian dari sentra pertanian ke pasar lebih mudah tanpa melalui tengkulak dan membuat standar harga komoditas pertanian agar kesejahteraan ekonomi petani meningkat. Dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi petani, pelan-pelan mindset generasi muda akan profesi petani berubah," pungkasnya.

Tentang Merapi Cultural Institute (MCI)

Merapi Cultural Institute (MCI) adalah lembaga studi yang khusus menggeluti kajian dan penelitian literasi. Secara khusus MCI membumikan dan mengkontekstualisasikan Cultural Studies pada isu-isu konkret di masyarakat. MCI bernaung di Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) yang terletak di lereng Gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah. MCI memiliki visi mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. MCI beranggotakan praktisi dan akademisi desa yang menghayati motto "Dari Desa Mencerahkan Dunia".(mci/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads

  Berita Utama
Polri Diminta Usut Aksi Respresif Polisi di Bengkulu dan Medan

Bawaslu: KPU Tidak Professional Gelar Deklarasi Kampanye Damai

SBY dan Zulkifli Hasan Kecewa dan WO Acara Deklarasi Damai karena Pendukung Jokowi-Ma'ruf Langgar Aturan

KPU Sebarkan 'Virus' Kampanye Damai, Aman, Tertib

 

  Berita Terkini
 
Program 'Satu Juta Umat Mandiri', AXA Mandiri Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah

Implementasi Ilmu Forensik dalam Proses Penegakan Hukum

Aparat Pelaku Persekusi Harus Dilaporkan

Salah Satu Tahanan Kabur Polsek Kepulauan Seribu Kembali Diciduk Polisi

Harga Diri Bangsa Indonesia di Kancah Internasional Terus Meningkat

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2