Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Kerusakan Lingkungan
Terungkap! HSBC Ada di Balik Krisis Deforestasi Indonesia
2017-01-22 07:17:11
 

Tampak Bulldozer yang didanai HSBC sedang menghancurkan hutan Indonesia.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Laporan Greenpeace Internasional mengungkapkan bahwa HSBC - salah satu bank terbesar di dunia - adalah dalang dibalik pendanaan untuk perusahaan kelapa sawit yang melakukan perusakan hutan. Saat ini nasabahnya mulai tersadar bahwa kartu bank yang ada di saku mereka memiliki andil dalam perusakan hutan yang juga menyebabkan Orangutan terancam punah.

Dalam video yang direkam diam-diam ini, terlihat bulldozers milik Salim Group - perusahaan kelapa sawit yang meminjam dana miliaran dollar dari HSBC - sedang melakukan pengrusakan di hutan hujan Indonesia. Saksikan langsung dengan mata kepalamu sendiri.

Ini bukan hanya tentang perusakan yang dilakukan perusahaan sawit kotor, tapi juga bagaiman HSBC mendanai perusahaan sawit tersebut. Kebanyakan dari kita pasti belum pernah mendengar tentang perusahaan sawit kotor ini - tapi di kalangan industrinya mereka memang terkenal sebagai perusahaan perusak hutan hujan, jadi HSBC tahu betul apa yang mereka lakukan dengan mendanai perusahaan kelapa sawit tersebut.

Pada April 2016, sebuah kelompok aktivis lingkungan yang berpengaruh meluncurkan pernyataan bahwa HSBC meminjamkan uang kepada perusahaan perusak hutan bernama Noble Group. Hal ini tentunya memudarkan janji keberlanjutan yang diikrarkan HSBC. Namun HSBC tetap menandatangani kesepakatan dengan Noble hanya beberapa minggu setelahnya, HSBC secara terang-terangan mengabaikan bukti yang ada di lapangan.

Untuk bank yang mengklaim, "Keberlanjutan adalah strategi prioritas kami untuk memenuhi tujuan kami", mendanaii perusahaan sawit seperti Noble adalah pilihan yang aneh!

Penghancuran hutan yang kamu lihat di video yang direkam diam-diam ini menciptakan krisis untuk manusia dan Bumi, terima kasih HSBC.

Kebakaran akibat perusakan hutan menciptakan kabut asap beracun di Asia Tenggara. Asap ini menyebabkan berjatuhannya ribuan korban jiwa.

Kebakaran hutan juga berkontribusi untuk perubahan iklim - emisi CO2 perhari yang dihasilkan saat kebakaran tahun 2015 melebihi emisi perhari yang dihasilkan seluruh wilayah Amerika Serikat.

Selama bertahun-tahun, Noble menciptakan konflik sosial dengan masyarakat adat. Masyarakat adat menuding Noble mengeksploitasi dan menipu mereka demi mendapatkan akses ke tanah mereka.

Keadaan menjadi lebih buruk dengan diklasifikasikannya Orangutan dalam kondisi kritis. Terancam punahnya Orangutan dan habitatnya adalah salah satu alasan kuat untuk segera menghentikan ini. Video yang beru dirilis ini mengungkapkan bagaimana perusahaan kelapa sawit yang didanai oleh HSBC menghancurkan rumah Orangutan dan mendorong makhluk-makhluk ini mendekati kepunahan.

Demi manusia, Bumi, dan Orangutan, HSBC harus segera menghentikan pendanaan untuk perusahaan sawit seperti Salim dan Noble. Kami yakin kami bisa melakukannya karena kami pernah melakukannya. Tahun 2015 supporter Greenpeace mendesak bank Spanyol Santander untuk menghentikan pendanaan pada perusahaan kertas yang menghilangkan hutan hujan indonesia.

Di website HSBC tertera, "Mempertimbangkan keberlanjutan ketika kami membuat keputusan membantu melindungi reputasi kami" - mari kita tunjukan pada HSBC bagaiamana seharusnya mereka berkomitmen pada pernyataan ini.

Semakin HSBC merasa skandal ini terungkap, semakin mereka akan merasa biaya iklan mereka semua sia-sia. Jika kita bisa membuat suara kita didengar, kita dapat memastikan bahwa mereka akan memperbaiki tindakan mereka.

Simak ringkasan laporan Bankir Kotor dan katakan pada HSBC agar segera menghentikan pendanaan perusakan hutan Indonesia.

Demikian yang ditulis Annisa Rahmawati, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia sebagaimana yang dilansir situs greenpeace.org/seasia/id pada, Rabu (18/1).(gp/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Kemiskinan Jateng Meningkat, Pengamat: PDIP Harusnya Tegur Ganjar

3 Anak di Jakarta Meninggal karena Hapatitis Akut yang Masih 'Misterius'

HNW Mengajak Bangsa Indonesia Konsisten Menjalankan Konstitusi

Wakil Ketua MPR, Syarief Hasan: Fakta Big Data, Pembangunan Era Pres SBY Lebih Baik Dibanding Era Pres Jokowi

 

ads2

  Berita Terkini
 
Vespa World Days 2022 Siap Digelar Juni di Bali

Wakil Ketua MPR investasi Telkomsel ke GOTO berpotensi pidana

Benny Rhamdani Minta Kemnaker Tindak Tegas dan Cabut Izin P3MI Pemalsu Dokumen Penempatan PMI

Pimpinan BAKN Berikan Catatan Publikasi BPS tentang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2022

Rugikan Petani Sawit, Larangan Ekspor CPO Harus Segera Dicabut

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2