Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Virus Corona
Virus Corona: Mengapa Proses Penamaan Virus Menyita Waktu Begitu Lama?
2020-02-08 13:30:43
 

Para relawan menyemprotkan disinfektan di sebuah staisun kereta api di Provinsi Hunan, China.(Foto: REUTERS)
 
CINA, Berita HUKUM - Virus ini telah menginfeksi ribuan orang, menyebabkan penutupan perbatasan, serta mengakibatkan sebagian wilayah China terkunci. Namun virus penyebab berjangkitnya penyakit ini belum memiliki nama yang tepat.

Disebut sebagai virus corona, tapi itu sebetulnya merujuk pada sebutan kelompok virus yang melingkupinya.

Virus ini juga telah diberi sebutan sementara 2019-nCoV. Tetapi sebutan itu dikatakan terlalu rumit.

Sekelompok ilmuwan sedang bergulat untuk menemukan istilah yang tepat. Saat ini mereka mengatakan kepada BBC bahwa mereka segera mengumumkan nama yang tepat bagi virus itu.

Jadi, mengapa proses penamaan itu menyita waktu lama?

"Penamaan virus baru acapkali tertunda dan fokusnya sampai sekarang adalah pada respon otoritas kesehatan, yang kira-kira lebih gampang dipahami," kata Crystal Watson, asisten profesor di Johns Hopkins Center for Health Security.

"Tapi ada berbagai alasan bahwa penamaan itu harus menjadi prioritas," tambahnya.

Untuk mencoba membedakan virus khusus ini, para ilmuwan telah menyebutnya novel atau virus baru corona. Nama Virus corona digunakan karena bentuknya menyerupai mahkota dengan ujung-ujungnya berpaku ketika dilihat melalui mikroskop.

An illustration of the structure of coronaviruses such as the one behind the outbreak of illness in ChinaHak atas fotoSMITH COLLECTION/GADO
Image captionIlustrasi struktur virus corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan nama sementara, yakni 2019-nCoV, yang merujuk pada tahun ditemukannya, dan huruf "n" untuk merujuk pada new (baru) atau novel, serta "CoV" untuk coronavirus atau virus corona. Tapi istilah itu belum benar-benar pasti.

"Nama yang dimilikinya sekarang tidak mudah digunakan dan media serta masyarakat menggunakan nama lain untuk virus tersebut," kata Dr Watson.

"Menjadi berbahaya saat Anda tidak memiliki nama resmi, di mana masyarakat mulai menggunakan istilah-istilah seperti virus China, dan hal itu dapat memancing reaksi negatif terhadap populasi tertentu," paparnya.

Dengan keberadaan media sosial, nama tidak resmi tersebut akan cepat menyebar dan bertahan lama dan sulit untuk ditarik kembali, katanya.














 






Editor kesehatan BBC menjelaskan tentang virus corona.

Tugas mendesak penamaan virus secara resmi merupakan tanggung jawab Komite Internasional tentang Taksonomi Virus (International Committee on Taxonomy of Viruses, ICTV).

Berbagai wabah sebelumnya memberikan berbagai kisah yang menjadi peringatan bagi ICTV. Virus H1N1 pada tahun 2009 dijuluki "flu babi". Hal ini menyebabkan Mesir menyembelih semua hewan babi di negara itu, walaupun virus itu disebarkan oleh masyarakat, bukan babi.

Nama resmi juga terbukti bermasalah. WHO mengkritik nama Mers (Middle East Respiratory Syndrome) pada 2015.

"Kami melihat nama-nama penyakit tertentu telah memprovokasi adanya reaksi terhadap anggota komunitas agama atau etnis tertentu, menciptakan hambatan yang tidak dapat dibenarkan untuk melakukan perjalanan, perdagangan dan kegiatan komersial, dan memicu pembantaian hewan ternak yang tidak perlu," katanya dalam sebuah pernyataan.

Karena itulah, ICTV kemudian mengeluarkan sebuah pedoman. Dalam pedoman itu disebutkan bahwa nama resmi untuk virus corona seharusnya tidak termasuk:

Lokasi geografis

Nama orang

Nama binatang atau sejenis makanan

Referensi pada budaya atau industri tertentu

Dikatakan pula bahwa namanya harus pendek dan deskriptif - seperti Sars (Severe Acute Respiratory Syndrome.

Namun demikian, nama resmi itu tetap perlu sebuah kaitan, kata Benjamin Neuman, profesor virologi, yang bersama 10 orang lainnya, duduk di kelompok studi ICTV yang telah mempertimbangkan nama baru tersebut.

Tim ICTV mulai membahas sebuah nama sekitar dua minggu lalu dan butuh dua hari untuk menyelesaikannya, kata Prof Neuman, yang juga ketua Ilmu Biologi di Texas A&M University-Texarkana, AS.














 






Suasana di dalam laboratorium AS yang sedang mengembangkan vaksin di tengah merebaknya virus corona.

Mereka sekarang mengirimkan nama itu kepada sebuah jurnal ilmiah untuk diterbitkan dan berharap mereka untuk mengumumkannya dalam beberapa hari ke depan.

Selain membantu masyarakat memahami virus, ICTV berharap penamaan virus itu akan memungkinkan para peneliti untuk fokus melawannya dengan menghemat waktu dan menjawab segala kebingungan.

"Kita akan melihatnya di masa depan apakah kita sudah benar," kata Prof Neuman.

"Untuk seseorang seperti saya, dengan membantu memberi nama sebuah virus mungkin akan bertahan lebih lama dan lebih bermanfaat ketimbang sebuah karir pekerjaan. Ini adalah tanggung jawab besar," katanya.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Virus Corona
 
  Komisi IV DPR Kritisi Soal Kalung Anti Corona Kementan
  Travelling pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Ini Pesan untuk Traveller
  Ditlantas Polda Metro Gratiskan Biaya Buat SIM 214 Petugas Medis Wisma Atlet Kemayoran
  Capai Miliaran PT EKI Keluhkan Belum Menerima Pembayaran Lelang APD COVID-19
  Rapid Test Berbayar, Gus Jazuli: Jangan Tambah Lagi Beban Masyarakat
 
ads1

  Berita Utama
Bupati Kutai Timur Ismunandar Beserta Istri Yang Menjabat Ketua DPRD Kena OTT dan Jadi Tersangka KPK

Pembakaran Bendera PDIP Dibawa Ke Jalur Hukum, Edy Mulyadi: Silakan, Loe Jual Gue Borong!

Hadiri Pemusnahan Barang Bukti, Kapolri: Kita Bukan Tempat Transit Perdagangan Narkoba

Presiden PKS: Pak Jokowi Mestinya Marah Dari Dulu, Bukan Sekarang

 

ads2

  Berita Terkini
 
Komisi IV DPR Kritisi Soal Kalung Anti Corona Kementan

Cadangan Emas Menipis, RI Sempat Impor dari Singapura

Travelling pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Ini Pesan untuk Traveller

Grab Didenda Puluhan Miliar, Pengamat Hukum: Investor Asing Tidak Boleh Rugikan Pengusaha Lokal

Pertamina dan Dinas LH DKI Jakarta Gelar Uji Emisi Gratis

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2