Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Virus Corona
WHO Peringatkan Pandemi Covid-19 'Masih Jauh' dari Berakhir, Setelah Penambahan Kasus Harian Rekor Tertinggi
2020-05-23 13:29:12
 

Seorang perempuan menggunakan pakaian pelindung lengkap sedang melintas di pemakaman Parque Taruma, 19 Mei 2020 di Manaus, Brasil.(ANDRE COELHO/GETTY)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pada hari Rabu bahwa pandemi virus corona masih jauh dari berakhir, setelah penambahan harian kasus virus corona di dunia mencapai angka tertinggi.

WHO mengatakan 106.000 kasus baru telah dilaporkan dalam 24 jam terakhir.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus secara khusus menyatakan keprihatinan akan meningkatnya infeksi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Peringatan itu muncul seiring jumlah total kasus mendekati lima juta.

Tonggak yang suram itu tampaknya akan dicapai dalam waktu kurang dari dua pekan setelah dunia melewati angka empat juta.

Pemakaman pasien Covid-19Hak atas fotoAFP
Image captionLebih dari 326,000 diketahui telah meninggal dunia dengan virus corona

Para ahli memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya dari infeksi kemungkinan jauh lebih tinggi, karena tingkat pengujian yang rendah di banyak negara memiringkan datanya.

Lebih dari 326.000 orang diketahui telah meninggal dengan virus corona di seluruh dunia, menurut penelusuran Universitas Johns Hopkins.

AS masih menjadi negara yang paling terdampak, dengan lebih dari 1,5 juta kasus dan 92.000 kematian sejauh ini.

Apa kata WHO?

"Dalam 24 jam terakhir, ada 106.000 kasus dilaporkan ke WHO - yang terbanyak dalam satu hari sejak wabah dimulai," kata dr. Tedros dalam konferensi pers pada hari Rabu.

"Hampir dua pertiga dari kasus ini dilaporkan hanya di empat negara," tambahnya.

Dr. Tedros kemudian memperingatkan bahwa dunia masih menghadapi "jalan panjang untuk dilalui dalam pandemi ini".

Peringatan itu ia sampaikan ketika sejumlah negara, termasuk AS, mulai melonggarkan pembatasan karantina wilayah.

Kepala WHO dr. Tedros Adhanom GhebreyesusHak atas fotoAFP
Image captionDr. Tedros juga menegaskan komitmen WHO pada penelahaan terhadap langkah penanganan pandemi.

Pada temu media terbaru, dr. Mike Ryan, direktur kedaruratan WHO, juga menentang penggunaan obat malaria kloroquin dan hidroksikloroquin sehubungan dengan Covid-19.

Hal itu ia lakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah meminum obat tersebut dalam upaya menangkal virus, meskipun pejabat kesehatan publiknya sendiri memperingatkan tentang penggunaannya.

"Pada tahap ini, (baik) hidroksikloroquin atau kloroquin belum terbukti efektif dalam pengobatan Covid-19, atau dalam profilaksis (pencegahan) untuk tidak terserang penyakit ini," kata Dr Ryan.

"Sebenarnya, kebalikannya, dalam hal itu peringatan telah dikeluarkan oleh banyak pihak berwenang mengenai potensi efek samping dari obat tersebut."

PerempuanHak atas fotoTOLGA AKMEN/GETTY
Image captionSeorang perempuan yang mengenakan masker berdiri tidak jauh dari seorang petugas polisi berkuda yang sedang berpatroli di kota London, 18 Mei 2020.

Terlepas dari kekhawatiran ini, kementerian kesehatan Brasil mengeluarkan pedoman baru pada hari Rabu yang menyetujui penggunaan yang lebih luas kedua obat tersebut dalam kasus virus corona dengan gejala ringan.

Brasil saat ini dipimpin menteri kesehatan ketiganya dalam beberapa pekan, setelah dua menteri terakhir berselisih dengan Presiden Jair Bolsonaro atas penanganannya terhadap wabah virus.

Negara tersebut kini mencatat lebih dari 270.000 infeksi Covid-19 yang terkonfirmasi, terbanyak ketiga di dunia, dengan tambahan hampir 20.000 kasus pada hari Rabu saja.

NepalHak atas fotoPRABIN RANABHAT/GETTY
Image captionSejumlah petugas medis membawa pasien meninggal akibat Covid-19 di sebuah rumah di Kathmandu, Nepal, 16 Mei 2020

Dengan peringatan para ahli bahwa negara ini masih beberapa minggu lagi sebelum mencapai puncaknya, ada kekhawatiran khusus tentang penyebaran virus yang cepat di daerah-daerah miskin dan masyarakat adat.

Dalam perkembangan lain:

Menteri Kesehatan Bolivia ditahan atas dugaan korupsi terkait pembelian ventilator mahal untuk pasien virus corona

Angin topan super telah menghantam India timur dan Bangladesh, namun pembatasan virus corona membuat evakuasi dan upaya bantuan menjadi sulit

Swedia mengumumkan peninjauan nasional terhadap panti jompo atas kekhawatiran beberapa panti tidak menyediakan oksigen yang cukup untuk pasien

Para pejabat di Yunani mengatakan mereka berharap bisa memulai musim pariwisata mereka bulan depan meskipun pandemi global belum berakhir

Spanyol mengubah peraturan yang mewajibkan masker di tempat jarak sosial tidak dimungkinkan mulai hari Kamis.(BBC/bh/sya)




 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Ternyata Sebelum Ruslan Buton, Khoe Seng Seng Juga Sudah Lebih Dulu Minta Jokowi Mundur

Inilah Pernyataan Pers PP Muhammadiyah Tentang Pemberlakuan New Normal

Polri Siap Masifkan Protokol New Normal

Anies: Perpanjangan PSBB Jakarta Jadi Penentu Transisi Memulai 'New Normal'

 

ads2

  Berita Terkini
 
Sosialisasi Jamu Herbal Kenkona di Depok, Ketum HMS Centre Yakin Tak Sampai 5 Persen Terpapar Covid19 di Indonesia

Kabaharkam Serahkan Ribuan APD Covid-19 Bantuan Kapolri untuk RS Bhayangkara Polda Jawa Timur

Kasus Kondensat BP Migas - TPPI, Terdakwa: Pemberian Kondensat Kepada PT TPPI Berdasarkan Kebijakan Pemerintah

Dekan FH UII: Guru Besar Hukum Tata Negara Kami Diteror!

Lindungi Warga DKI, Anies Pasang Badan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2