Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Kriminal    
Pencemaran Nama Baik
Wartawan Senior Asyari Usman Ditangkap, DPR: Parpol Jangan Anti Kritik!
2018-02-11 18:03:08
 

Ilustrasi. Wartawan Senior Asyari Usman.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Tepat di Hari Pers Nasional 2018, pada Jumat 9 Februari 2018 pukul 08.30 Wib, Wartawan Senior Asyari Usman dijemput paksa Bareskrim Polri karena tulisannya, ia diperiksa sebagai Tersangka oleh Kepolisian Republik Indonesia setelah dilaporkan oleh kuasa hukum Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan pimpinan (PPP) Romahurmuzy, Jumat (9/2).

Asyari yang juga mantan wartawan senior BBC London ini kemudian diperiksa Kepolisian di Bareskrim Polri, Jakarta. Kasus penangkapan itu menuai kritikan dan sorotan tajam, termasuk dari Anggota Komisi III DPR Muhammad Nasir Djamil.

Asyari ditangkap atas tuduhan menghina Romahurmuzy melalui tulisannya di sebuah media daring. Nasir meminta kepolisian maupun partai politik bersangkutan tidak berlebihan dalam menghadapi kritikan Asyari yang dituding sebagai hinaan tersebut.

"Kita meminta polisi dan partai jangan lebai dalam menghadapi tulisan bernada kritikan, sebab kritikan masyarakat apapun bahasanya itu dimaksud untuk mengoreksi kebijakan atau sikap dari partai," ujar Nasir dalam pernyataannya, Sabtu (10/2).

Untuk kepolisian, kata dia, penanganan kasus yang berawal dari sebuah karya tulis itu jangan bersikap seolah-olah yang bersangkutan mau makar. "Sebab, harus diingat ini hanya persoalan sebuah argumentasi," jelasnya.

Polisi diminta hati-hati, polisi itu pengayom pelindung dan pelayan. Kalau menghadapi masalah ini fungsi pengayomlah yang dikedepankan.

"Kepada semua partai politik, juga kita meminta agar sebuah kritikan yang disusun dalam argumentasi yang terkesan menyudutkan seharusnya disikapi dengan argumentasi juga dan diajak diskusi," ungkapnya.

"Jangan sedikit-sedikit main lapor, jangan anti kritik," tambahnya menegaskan.

"Sebagai mantan wartawan, saya mengajak seluruh mantan wartawan dan wartawan untuk menyikapi persoalan ini dengan serius," pungkas politisi PKS asal Aceh ini.

Sebelumnya diketahui, Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safrudin menyebut Asyari dianggap mencemarkan nama baik lewat tulisannya yang diunggah pada sebuah media daring (online).

Ansyari antara lain menulis di media teropongsenayan.com berjudul "Dukung Djarot-Sitorus: Ketum PPP Menjadi 'Politisex Vendor'". Ansyari menyebut Ketum PPP Romahurmuziy (Romi) sebagai sosok diktaktor dan oportunis karena mengusung pasangan Djarot dan Sihar Sitorus dalam Pilkada Sumatera Utara.

"Ketua Umum PPP kini menjadi langganan "Om-om Politik" yang menjanjikan macam-macam kepada Dik Romi," demikian bunyi salah satu kalimat yang ditulis Ansyari.

Sementara, Asyari Usman menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik atas pelaporan PPP memberikan komentar bahwa, "Pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus yang disebut sebagai penghinaan, pencemaran nama baik dengan pelapor kuasa hukum Romahurmuziy, Syamsul Bahri. Ada tiga (tulisan) yang ditunjukkan kepada saya tadi, saya lupa nanti tanya penyidik saja," sambungnya.

Dia mengaku menulis soal PPP karena kecewa dengan posisi politik PPP saat ini. Asyari menyebut tulisannya bukan pencemaran nama baik tapi sindiran.

"Sebagai seorang simpatisan PPP, saya merasa bahwa apa yang saya sampaikan itu adalah bentuk dari keinginan saya untuk ikut memperbaiki dan menurut pikiran saya telah jauh menyimpang apa yang dilakukan pimpinan PPP dalam mempraktikkan politik sehari-hari mereka," ujarnya.

"Jadi saya tidak melihat itu sebagai pencemaran nama baik tapi sindiran seperti itu perlu disampaikan, perlu dikemukakan kepada masyarakat bahwa kenyataannya seperti itu. Kalau saya mengatakan kalau saya pakai istilah politisi seks vendor ya memang terjadi. Menurut pendapat saya memang terjadi pelacuran politik yang dilakukan oleh pimpinan PPP. Artinya, menjual partai ini dengan murah kepada orang yang membutuhkannya," papar Asyari.

Terkait kasus ini, Asyari mengaku akan tetap berkoordinasi dengan tim hukum. Koordinasi juga dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Asyari diperiksa sejak pukul 13.30 WIB hingga pukul 22.55 WIB. "Saya lihat dulu perkembangan yang ada, saya akan terus berkonsultasi dengan tim hukum yang siap memberi advice. Saya sudah tandatangani BAP, bagi saya bola tidak lagi di tangan saya, tentu di tangan penyidik barang kali," jelasnya.

Penyidik Bareskrim Polri tidak menahan mantan jurnalis BBC Asyari Usman usai diperiksa di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (9/2) malam.

Pantauan pada akun media sosial twitter Pengacara Asyari Usman yakni Mahendradatta @mahendradatta menulis, "Alhamdulillah setelah ditangkap di Medan&dibawa keJkt,Asyari Usman seorg mantan Wartawan Senior&Tsk atas tulisannya tdk dilakukan penahanan.Semoga kasusnya dpt selesai dgn baik tanpa hrs rame2".

Asyari Usman diancam hukuman pidana di bawah 5 tahun. Asyari disangkakan melanggar pidana pada Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 (3) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 310 / 311 KUHPidana tentang Penghinaan/Pencemaran Nama Baik.(hidayatullah/detik/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Pencemaran Nama Baik
 
  Presiden PKS Sohibul Iman Kembali Penuhi Panggilan sebagai Saksi Terlapor
  Presiden PKS Sohibul Iman Memenuhi Panggilan Penyidik Subdit Cyber Crime
  Chandri Widharta Melapor Balik LPAI ke Polisi terkait Pencemaran Nama Baik
  Fahri Hamzah Penuhi Undangan Penyidik Polda Metro Jaya terkait Laporannya
  Wartawan Senior Asyari Usman Ditangkap, DPR: Parpol Jangan Anti Kritik!
 
ads

  Berita Utama
Fadli Zon: Pemerintah Indonesia Istimewakan Tenaga Kerja Asing

Dewan Pers Digugat ke Pengadilan atas Perbuatan Melawan Hukum

Banyak Proyek Infrastruktur Runtuh, Jokowi Pura-Pura Tidak Tahu

Fahri Hamzah: Pemerintah Harus Segera Mencabut Perpres TKA

 

  Berita Terkini
 
Irjen Idam Azis Memimpin Serijab 6 Pejabat Utama dan Kapolres di Polda Metro Jaya

Ketua DPR Minta Semua Ormas Aktif Jaga Stabilitas Politik

3 Milisi AS Dinyatakan Bersalah Berencana Ngebom Masjid di Amerika

Polda Metro Jaya Gelar Hasil Razia Miras Oplosan di 147 TKP

PSI Urutan Teratas Partai yang tak Akan Dipilih

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2