Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Ukraina
Mengapa Indonesia Abstain Saat Rusia Dikeluarkan dari Dewan HAM PBB?
2022-04-10 14:30:16
 

Presiden Zelensky dalam pidato di Dewan Keamanan PBB.(Foto: Istimewa)
 
NEW YORK, Berita HUKUM - Delegasi Indonesia memutuskan abstain dalam pemungutan suara di Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa mengenai pembekuan Rusia dari keanggotaan Dewan Hak Asasi Manusia.

Hasil voting dalam Sidang Darurat Khusus di Majelis Umum PBB di New York pada Kamis malam (7/4) memutuskan untuk menangguhkan Rusia dari Dewan HAM PBB. Sebanyak 93 negara mendukung, 24 menolak, dan 58 abstain. Di antara yang abstain adalah Indonesia.

Pembekuan keanggotaan Rusia dari Dewan HAM PBB memerlukan setidaknya dua pertiga suara dari anggota PBB

Terkait sikap abstain itu, Kementerian Luar Negeri RI memberikan penjelasan bahwa "Majelis Umum PBB perlu bersikap hati-hati dan tidak mencabut hak sah anggotanya sebelum memiliki seluruh fakta yang ada.

Kemlu juga menjelaskan dalam explanation of vote di sidang Majelis Umum, Wakil Tetap RI untuk PBB Armanatha Christiawan Nasir menegaskan bahwa pihak yang bertanggungjawab atas pelanggaran HAM di Ukraina harus dimintai pertanggungjawaban dan dibawa ke pengadilan.

Oleh karena itu, pihak Indonesia meyakini bahwa Komisi Penyelidikan Internasional Independen yang telah dibentuk perlu diberi kesempatan untuk bekerja secara obyektif dan transparan serta melaporkan hasil temuannya.

Lalu Dewan HAM di Jenewa perlu diberi akses untuk bekerja secara transparan dan melaporkan hasil temuannya. Indonesia juga mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan sekuat mungkin mengupayakan adanya perdamaian melalui dialog dan diplomasi.

Rusia menyayangkan sikap PBB

Majelis Umum PBB memutuskan untuk membekukan keanggotaan Rusia dari Dewan HAM menyusul laporan-laporan tentang dugaan "pelanggaran hak asasi manusia berat dan sistematis" yang dilakukan oleh pasukan Rusia di Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia menyayangkan langkah itu dan akan terus membela kepentingannya dengan "menggunakan segala cara yang sah ".

Rusia tercatat sebagai negara kedua yang dikeluarkan dari Dewan HAM. Negara pertama yang dikeluarkan adalah Libya pada 2011.

Pada Selasa (05/04) Presiden Ukraina Volodymr Zelensky mengatakan dalam pidato di Dewan Keamanan PBB bahwa kejadian mengerikan seperti yang terjadi di Bucha - dengan mayat-mayat bergeletakan - terjadi juga di tempat-tempat lain di negara itu.

Dalam pidato melalui video dan penterjemah, Zelensky mengatakan di kota Bucha, pasukan Rusia menembak orang di jalan, di rumah mereka, dilempar ke sumur dan ditindas dengan tank-tank di jalan "untuk kesenangan" tentara Rusia.

Presiden Ukraina itu juga menunjukkan video sekitar satu menit yang menunjukkan jenazah warga Ukraina, sebagian terbakar dan badan-badan yang tidak utuh.

Dame Barbara Woodward - perwakilan Inggris yang saat ini menjabat sebagai presiden DK PBB - menyebut video itu "mengerikan".

Perwakilan Rusia di DK PBB,, Vasily Nebenzya, mengulang bahwa pemerintah Ukraina yang dipimpin Zelensky - seorang keturunan Yahudi - adalah Nazi.

Ia mengklaim bahwa mayat-mayat yang ditemukan wartawan di Bucha tak ada di situ saat pasukan Rusia ditarik dan menurutnya hal itu dipastikan dengan sejumlah video.

Namun analisis gambar satelit dari perusahaan Amerika Maxar dan telah diverifikasi BBC menunjukkan adanya jenazah-jenazah di jalan kota Bucha pada 19 Maret. Pasukan Rusia menarik diri pada akhir Maret.

Zelensky mengulang klaimnya bahwa tindakan Rusia mirip seperti kelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS dan bahwa Presiden Putin ingin "mengekspor" kebenciannya ke negara-negara lain di luar Ukraina.

"Di mana keamanan yang harus dijamin oleh Dewan Keamanan," tanya Zelensky. "Di mana perdamaian? Di mana jaminan yang harus diberikan oleh PBB?"

Ia juga mengatakan dunia belum melihat kejahatan perang lebih lanjut yang dilakukan militer Rusia di bagian lain Ukraina selain Bucha.

"Secara geografis mungkin berbeda, namun kekejamannya sama, kejahatannya sama dan pertanggung jawaban tidak bisa dihindari," katanya.

Ia menuntut "pertanggung jawaban" Rusia dan mengatakan negara itu harus dibawa ke mahkamah kejahatan internasional seperti yang dilaksanakan di Nuremberg setelah Perang Dunia Kedua.

"Pembantaian" di Bucha adalah satu dari banyak contoh yang dilakukan Rusia dalam 41 hari terakhir, kata Zelensky.

Zelensky juga mempertanyakan peranan Rusia di PBB dengan mengatakan invasi "merongrong" struktur keamanan global.

Foto dan video mengerikan menunjukkan mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan di kota Bucha dan menimbulkan kecaman di seluruh dunia.

Para pejabat intelijen Ukraina mengatakan unit Rusia yang melakukan kekejaman itu akan dikerahkan lagi ke Ukraina timur.

Brigade 64 yang dituduh melakukan tindak kekejaman di Bucha - akan kembali dikerahkan ke daerah konflik dalam beberapa minggu, kemungkinan ke Kharkiv, kata mereka.

Rusia menyanggah membunuh warga sipil dan mereka mengatakan Ukraina sendiri yang menyebabkan kekejaman itu, tuduhan tanpa bukti.

Pemerintah Ukraina memulai investigasi kejahatan perang setelah mereka mengatakan menemukan 410 jenazah warga sipil di seputar Kyiv.

Pihak berwenang Ukraina menemukan banyak jenazah di Bucha dan kota-kota maupun desa di sekitarnya yang ditinggalkan pasukan Rusia. Ini.

Temuan mengerikan di Bucha

Jenazah lima warga sipil ditemukan dengan tangan terikat di sebuah desa di sebelah barat Kiev, termasuk mayat wali kota, suami dan putranya.

Polisi menunjukkan empat mayat kepada wartawan AFP, termasuk jenazah seorang wali kota, setengah terkubur di sebuah kuburan di hutan pinus yang berbatasan dengan rumahnya di Motyzhyn.

Jenazah kelima ditemukan di sebuah sumur kecil di taman.

Para korban tewas, termasuk dua pria yang bukan bagian dari keluarga wali kota, dalam keadaan tangan mereka diikat ke belakang.

Kepala desa bernama Olha Sukhenko yang berusia 50 tahun bersama suami dan putranya diculik oleh pasukan Rusia pada 24 Maret, kata polisi.

Warga mengatakan perempuan itu dan suaminya telah menolak untuk bekerja sama dengan pasukan Rusia yang menyerbu.

Harapan Rusia mengepung Kyiv kandas?

Apa yang terjadi di daerah pinggiran, kota Bucha menjadi salah satu tanda kandasnya harapan Rusia untuk mengepung dan memasuki ibu kota Kyiv dan menggulingkan Presiden Volodymyr Zelensky.

Momentum ini terjadi dua atau tiga hari setelah pasukan Rusia masuk ke Ukraina pada 24 Februari. Saat itu pasukan Ukraina menghancurkan tank-tank Rusia dan kendaraan lapis baja yang bergerak masuk ke Bucha dalam perjalanan menuju ke Kyiv.

Konvoi itu dihancurkan dalam salah satu dari banyak perlawanan pasukan Ukraina yang mencoba menghentikan gerak laju pasukan Rusia.

Tim BBC berhasil masuk ke Bucha pada Jumat lalu (01/04), setelah pasukan terakhir Rusia ditarik, dan Kremlin memusatkan pada perang di timur Ukraina.

Moskow mengatakan - tanpa bukti - bahwa perang di Ukraina tengah telah selesai dan misi itu tidak termasuk menguasai Kyiv.

Perlawanan kuat Ukraina

Faktanya adalah perlawanan Ukraina yang terorganisir ketat berhasil menghalau langkah pasukan Rusia menuju ibu kota. Bukti di lapangan termasuk tank-tank Rusia yang hancur dan terbakar di jalan-jalan di daerah luar kota itu.

Dua atau tiga minggu setelah invasi, Rusia kehilangan momentum. Buktinya dapat terlihat di jalan-jalan di kota Bucha.

Pasukan elit dari angkatan udara Rusia menyerbu kota itu dengan kendaraan lapis baja yang diangkut dengan pesawat. Mereka datang dari bandara Hosomel, beberapa kilometer dari Bucha, yang sebelumnya telah diserang dan dikuasai oleh pasukan para Rusia yang menyerbu pada hari pertama invasi.

Saat itu pun, mereka menghadapi perlawanan keras dari pasukan Ukraina.

Menyerang konvoi Ukraina

Ketika kendaraan lapis baja itu masuk ke Bucha dalam perjalanan menuju Kyiv, mereka menghadapi fakta di lapangan yang mengejutkan.

Jalan di kota itu sempit dan lurus, tempat yang mudah untuk diserang. Para saksi mata mengatakan pasukan Ukraina menyerang konvoi itu dengan serangan drone Bayraktar dari Turki. Saksi mata lain mengatakan tenaga sukarela Ukraina juga berada di kawasan itu.

Apapun yang dilakukan pasukan Rusia, kendaraan yang berada di garis depan dan dibelakang diserang. Puing-puing yang ada di lapangan belum disentuh. Selongsong meriam sebesar 30mm tergeletak di rumput dan banyak senjata lain yang berserakan.

Anak muda yang masuk dalam wajib militer menyelamatkan diri dan meminta penduduk setempat agar tidak diserahkan kepada pasukan pertahanan teritorial.

Seorang kakek berusia sekitar 70 yang biasa dipanggil "paman Hrysha" mengatakan, "Saya kasihan dengan mereka. Mereka sangat muda berusia sekitar 18-20 tahun."

Setidaknya 20 mayat pria tergeletak di jalan ketika pasukan Ukraina memasuki kota itu. Sebagian dari mereka dengan tangan diikat ke belakang. Wali kota Bucha mengatakan mereka memakamkan 280 orang di pemakaman massal.

Sejumlah warga sipil yang masih bertahan di kota itu ketika Rusia menyerang. Mereka membuat perapian dari kayu di luar apartemen mereka, masak di luar karena gas dan listrik serta air terputus.

Para sukarelawan membawa pasokan dari Lviv di Ukraina barat dan dari negara-negara tetangga serta negara lain yang cukup jauh.

"Ini adalah roti pertama yang saya makan dalam 38 hari," kata seorang perempuan bernama Maria, membawa kantung plastik berusia roti. Anaknya Larysa menunjukkan saya bangunan partemen yang dibangun pada zaman Soviet.

Banyak warga yang meninggalkan kota itu mengunci apartemen mereka dengan gerendel besi. Namun pasukan Rusia menerobos dengan menghancurkan tembok dan gerendel pintu.

Kebanggaan nasional yang hancur

Tak jauh dari Bucha, jejak kerusakan juga terlihat di bandara Hostomel. Pasukan Rusia mencoba menggunakan bandara itu sebagai pangkalan menuju Kyiv.

Di bandara itu, pesawat pengangkut dihancurkan. Atap hanggar yang sangat besar berlubang karena hantaman meriam. Pesawat yang dinamakan mimpi (Mriya dalam bahasa Ukraina) terlihat hancur.

Pesawat itu adalah kebanggaan nasional Ukraina karena merupakan bukti kemampuan Ukraina dalam membuat proyek-proyek besar.

Reaksi dunia

Dengan penarikan pasukan Rusia di sejumlah tempat, foto-foto mayat-mayat warga sipil di Bucha dan tempat lain di dekat Kyiv menjadi salah satu dampak serangan Rusia yang paling mengejutkan.

Jerman mengecam dan menyebut sebagai "kejahatan perang keji". Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyebut foto-foto itu "tak tertahankan." Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebutnya "serangan mengerikan" dan bukti "kejahatan perang."

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, menggambarkan mayat-mayat di jalanan sebagai sesuatu yang menimbulkan kemarahan.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Ukraina
 
  Ribuan Drone Digunakan Perang di Ukraina, Mengapa Fungsinya Begitu Penting?
  Krisis Pangan, Rusia Buka Opsi Ekspor Gandum Ukraina
  Rusia Ingin Umumkan Kemenangan di Ukraina pada 9 Mei, Kenapa Tanggal Itu Begitu Penting?
  Mengapa Indonesia Abstain Saat Rusia Dikeluarkan dari Dewan HAM PBB?
  Bagaimana Sikap Negara BRICS terhadap Rusia?
 
ads1

  Berita Utama
KPK Tetapkan Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan 9 Orang sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap Perkara di MA

Heboh Video! Antrian Panjang di SPBU Kota Manna Bengkulu Selatan, BBM Langka?

Tarif Ojol Naik, Wakil Ketua MPR: Pemerintah Tidak Memahami Kesulitan Hidup Rakyat

Pemerintah Umumkan Harga BBM Pertalite Naik dari Rp 7.650 Menjadi Rp 10.000

 

ads2

  Berita Terkini
 
Firli Bahuri: Bahaya Laten Korupsi Harus Diberantas Sampai ke Akarnya

Di P20, DPR Siap Tunjukkan Komitmen Indonesia Kurangi Emisi Lewat Konsep Go Green

Satgas BLBI Harus Tagih Dana BLBI Rp110,4 Triliun

Willem Wandik Sampaikan Sakit Hati Masyarakat Papua atas Pernyataan Menko Polhukam

Putri Candrawathi, Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J Akhirnya Ditahan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2