Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Cyber Crime    
UU ITE
Prof. Suteki: Status Facebook Rektor ITK Berbahaya, Memecah Belah Anak Bangsa
2022-05-09 03:55:30
 

 
JAKARTA, Berita HUKUM - Selain berbahaya, status Facebook Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Profesor Budi Santoso Purwokartiko juga dianggap disorientasi, disharmoni, dan memecah belah anak bangsa.

Hal itu disampaikan oleh Gurubesar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Unpad), Profesor Suteki dalam video yang diunggah di akun YouTube MimbarTube berjudul "Live! Prof Budi Santoso R4S1S Dikritik Habis Prof Suteki & Prof Daniel M Rosyid" pada Minggu (8/5).

"Ada 4 bagian yang perlu saya sampaikan di sini. Kalau saya lihat pernyataan yang disampaikan oleh Prof Budi Santoso Purwokartiko itu, ini sangat berbahaya," ujar Prof Suteki seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Minggu malam (8/5).

Menurut Prof Suteki, pernyataan Prof Budi merupakan ketakutan terhadap manusia gurun atau alam manusia gurun seperti yang dituliskan oleh Prof Budi.

"Saya katakan alam manusia gurun atau kalau kita kaitkan dengan pakaian berarti persoalan jilbab, karena ini menyangkut wanita. Atau mungkin lebih tepatnya, ketakutan terhadap kadrun. Wah kadrun itu bisa macam-macam itu, malah kemarin ada kadrun varian baru. Ada saja istilahnya itu macam-macam," kata Prof Suteki.

Atau kata Prof Suteki, ketakutan secara irasional terhadap simbol-simbol syariah Islam. Seperti kerudung, jenggot, celana cingkrang, maupun ucapan-ucapan khas umat Muslim.

"Jadi berarti ada ketakutan yang menurut saya itu irasional, baik oleh yang mewawancarainya maupun yang diwawancarai. Ini kan berbahaya," kata Prof Suteki.

Selanjutnya yang kedua kata Prof Suteki, misi yang diemban oleh Prof Budi adalah memimpikan manusia, baik pelajar, dosen diharapkan memiliki pola pikir membumi dan hidonis, rasis, fasis dan xenophobia.

"Ini kalau kita teliti dari kata-kata beliau sampaikan itu. Nah karakter ini, justru bertentangan dengan sistem internasional yang konon itu diyakini dengan katanya oleh pendukungnya sebagai sistem yang terbaik, apa namanya, demokrasi," terang Suteki.

Padahal menurut Suteki, sifat fasis, rasis, dan xenophobia merupakan anti demokrasi atau anti keragaman.

"Artinya, di sini memang kalau menurut saya apa yang disampaikan oleh Prof Budi itu mengalami disorientasi. Disorientasi terhadap visi manusia Indonesia. Nah di situ saya katakan, pernyataan itu adalah mengalami disorientasi," tutur Suteki.

Selanjutnya yang ketiga adalah, tulisan Prof Budi kata Suteki, menunjukkan adanya ketidakselarasan terhadap pemenuhan kebutuhan hakikat hidup manusia.

"Yang disampaikan itu kan hanya persoalan-persoalan yang sifatnya itu duniawi. Sehingga apa, saya katakan di sini tidak terpenuhinya aspek pemenuhan baik batiniah maupun yang sifatnya lahiriah. Nah di sini saya mengatakan, disitu lah terjadi namanya keadaan yang disharmoni," jelas Suteki.

Dan yang keempat kata Suteki, narasi yang dibuat oleh Prof Budi dapat memecah belah anak bangsa, baik secara vertikal maupun secara horizontal.

"Karena apa?, karena pernyataan itu kan mengkotak-kotakkan mahasiswa, yaitu secara diametral, mana yang moderat, mana yang radikal, mana yang suka demo, mana yang tidak suka demo, bahkan dikatakan yang melangit, mana yang membumi, coba bayangkan itu," terang Suteki.

"Kalau ini diteruskan, itu sudah bibit perpecahan, itu sudah dimulai dari sini pernyataan-pernyataan ini. Kalau saya mengatakan di sini, tulisannya itu tidak menyatukan keragaman, tetapi justru memecah belah anak bangsa. Di sini berarti bisa kita simpulkan, pemikirannya beliau itu bersifat disintegratif," tegas Suteki menutup.

Sementara, Pernyataan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Profesor Budi Santoso Purwokartiko di status Facebook selain dianggap menyakiti Umat Islam dan juga bisa dijerat pidana dengan tiga peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Gurubesar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Unpad), Profesor Suteki dalam video yang diunggah di akun YouTube MimbarTube berjudul "Live! Prof Budi Santoso R4S1S Dikritik Habis Prof Suteki & Prof Daniel M. Rosyid" pada Minggu (8/5).

Prof Suteki mengatakan, apa yang dituliskan oleh Prof Budi di akun Facebook dianggap jauh dari semangat keislaman.

"Menurut saya memang, ada latarbelakang khusus ya kalau kita analisis itu kenapa sampai seseorang itu membuat pernyataan yang sangat melukai umat Islam khususnya, termasuk ajarannya," ujar Prof Suteki seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Minggu malam (8/5).

Pernyataan-pernyataan Prof Budi dalam status Facebook yang dianggap menyakiti umat Islam menurut Prof Suteki, adalah pernyataan yang menggunakan kata-kata seperti Insya Allah, Barokallah dan kata-kata lainnya.

"Dan juga terkait dengan pernyataan bahwa wanita yang dia wawancarai dan dinilai itu mempunyai prestasi yang sangat bagus itu dikatakan tidak ada satupun yang mengenakkan atau memakai pakaian ala manusia gurun, itu dua hal itu saya kira yang bisa dinilai sangat melukai," kata Prof Suteki.

Jika dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia kata Prof Suteki, status Facebook Prof Budi bisa dikaitkan dengan Pasal 156 a terkait dengan penistaan agama, kelompok atau golongan, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan juga UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

"Jadi tiga peraturan perundang-undangan saya kira cukup bisa menjerat ya, menjerat beliau itu kalau mau, dan ada kemauan untuk memberikan efek jera," pungkas Prof Suteki.(aut/RMOL/bh/sya)



 
   Berita Terkait > UU ITE
 
  Roy Suryo, Tersangka Kasus Ujaran Kebencian 'Stupa Mirip Jokowi' Resmi Ditahan Polisi
  Prof. Suteki: Status Facebook Rektor ITK Berbahaya, Memecah Belah Anak Bangsa
  Merasa Terintimidasi, Bekas Selingkuhan Berpesan Pada Istri AH
  Wanita Ini Melaporkan AH Ketua Umum Partai ke Mabes Polri
  SKB Tiga Menteri Soal UU ITE, Penegak Hukum Harus Buktikan Dulu Ujaran Kebencian Menghasut Atau Tidak
 
ads1

  Berita Utama
Polda Metro Jaya - Bea dan Cukai Bandara Soetta Gagalkan Ekspor Biji Kokain Kemasan Boneka Jari

Biaya Kereta Cepat Membengkak, Wakil Ketua MPR: Saatnya Evaluasi Proyek-proyek Mercusuar

Cokok Tersangka Korupsi Krakatau Steel, Pengamat Yakin Jaksa Agung Sapu Bersih Koruptor BUMN

30 Tersangka Kasus Mafia Tanah Berhasil Ditangkap, Kapolda Metro Ungkap Modus Operandi

 

ads2

  Berita Terkini
 
Amien Rais: Partai UMMAT Siap Jadi Peserta Pemilu 2024

Hendardi Sebut Kapolri Lulus Ujian Terberat atas Penetapan Ferdy Sambo sebagai Tersangka Utama Kasus Brigadir J

Kapolri Umumkan Irjen Ferdy Sambo sebagai Tersangka 'Aktor Utama' Kasus Dugaan Pembunuhan Berencana Brigadir J

Tiga Kali Presiden Jokowi Tegas Ingatkan Polri Jangan Ragu Usut Tuntas Kasus Brigadir J

Hubungan China dan Taiwan Tak Kondusif, Legislator Minta Pemerintah Lindungi WNI di Taiwan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2