Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Ramah Lingkungan
Smartphone: Bisakah Benar-benar Menjadi Ramah Lingkungan?
2021-10-05 01:26:17
 

Desain modular Fairphone memungkinkan penggantian bagian yang rusak.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Ponsel memiliki jejak karbon yang sangat besar. Salah satu perusahaan yang mencoba mengubah ini adalah Fairphone. DW bertanya apakah smartphone tanpa dampak besar terhadap lingkungan itu mungkin.

Smartphone rata-rata jutaan kali lebih kuat daripada komputer yang dulu memandu astronot NASA ke bulan. Itu sungguh sesuatu, mengingat bahwa smartphone bobotnya cenderung kurang dari 200g. Tapi untuk bobot seringan itu, mereka memiliki jejak karbon yang berat. Selain bertanggung jawab atas antara 40 sampai 80 kg karbon dioksida (CO2), proses produksinya juga memerlukan ekstraksi logam berat seperti emas dan kobalt, yang sering menyebabkan kebocoran polusi beracun dari tambang dan kilang.

Afrika - Kupferbergwerk


Penambangan logam berat sering mendorong polusi lokal




karena produsen ponsel terkemuka telah meluncurkan model terbaru secara teratur, sehingga mendorong ponsel lama untuk dibuang lebih cepat, satu perusahaan muncul untuk menangani masalah ini: Fairphone. Perusahaan ini mengklaim akanm mengutamakan "manusia dan planet" dalam proses produksinya dan menganut desain modular untuk meningkatkan masa pakai produknya dan membuatnya lebih mudah untuk diperbaiki.

Sembilan tahun setelah merilis model pertamanya, perusahaan yang berbasis di Belanda itu kini siap meluncurkan model Fairphone 4. Tapi seberapa berkelanjutankah smartphone mereka?

Dalam laporan daur ulang tahun 2017 perusahaan tersebut, mengakui bahwa hanya 30% bahan yang digunakan di model Fairphone 2 yang dapat didaur ulang. Pangsa ini telah meningkat menjadi 50% dalam laporan tahun 2020 mereka mengenai tingkat daur ulang bahan di model Fairphone 3.

Tapi sulit membangingkan tingkat daur ulang maupun keberlanjutannya dengan produsen-produsen lain. Menurut kelompok lingkungan, Greenpeace, perusahaan Apple jauh lebih transparan daripada kebanyakan pembuat ponsel lainnya, namun mereka tidak mempublikasikan informasi tentang tingkat daur ulang ponsel mereka.


DW Eco Africa | Recycling electronic waste in Nigeria


Angka PBB menunjukkan hanya 20% sampah elektronik yang didaur ulang secara resmi




Yang jelas, setiap gram logam berat berharga yang didapat dari proses daur ulang Fairphone berarti bahwa bahan itu tidak harus diledakkan dari sebuah tambang atau sisi gunung dan diangkut ke seluruh dunia untuk diproses.

Tapi satu hal yang belum Fairphone adalah rencana dekarbonisasi. Direktur Dampak Inovasi Perusahaan, Monique Lempers mengatakan kepada DW bahwa mereka sedang dalam proses menyusun target tersebut, namun sampai sekarang mereka telah berusaha mengurangi emisi dengan memperpanjang umur ponsel mereka.

"Kami menghitung bahwa jika kami menetapkan target umur produk empat setengah tahun, ini akan mengurangi jejak karbon ponsel hingga 30%," kata Lempers.

Ponsel mereka bersifat modular, artinya komponen-komponennya dapat ditukar jika rusak atau sudah terlalu tua. Ini berbeda dengan kebanyakan ponsel lain, yang jika komponennya rusak, seringkali harus diganti keseluruhannya.

Obat Kecanduan Ponsel

Untuk alasan ini, Fairphones mendapat skor 10/10 pada peringkat kemampuan perbaikan di ranking "iFixit", dibandingkan dengan skor 6/10 untuk iPhone 12. iFixit adalah situs berbasis wiki AS yang mengajarkan konsumen cara memperbaiki perangkat mereka sendiri, serta memberikan saran perbaikan dari toko-toko mereka.

Lempers mengatakan indikasi awal menunjukkan bahwa rata-rata Fairphone 3 digunakan hingga lima tahun, dua kali liebih lama dari smartphone biasa

"Menggunakan teknologi ini lebih lama dapat memiliki efek yang sangat besar," kata direktur pelaksana iFixit, Matthias Huisken kepada DW. "Tidak mengganti barang-barang ini setiap dua hingga tiga tahun, tetapi menggantinya setiap lima atau setiap 10 tahun, akan membuat perbedaan besar."

Terlalu kecil untuk memerintahkan?

Tapi maksud baik ini belum didukung oleh pembuat perangkat lunak dan sistem operasi. Fairphone menjalankan sistem operasi Android Google. Karena Google terus memperbarui Android untuk meningkatkan fungsionalitas di ponsel generasi baru, pembaruan ini membuat perangkat Fairphones yang tahan lama menjadi tertinggal. Fairphone merespons dengan memperlambat frekuensi pembaruan di ponsel mereka, tetapi aplikasi tertentu menuntut versi terbaru Android untuk dijalankan.

Rilis model yang lebih baru adalah pendorong besar limbah elektronik

"Jika Anda tidak dapat lagi melakukan mobile banking dengan aman di ponsel karena tidak ada lagi pembaruan keamanan, meskipun perangkat kerasnya mungkin berfungsi dengan baik, Anda kemungkinan besar akan menggantinya, karena Anda menginginkan ponsel yang aman" kata Huisken. "Untuk mendapatkan lebih banyak kontrol atas aspek-aspek ini, mereka perlu tumbuh. Mereka harus menjadi lebih relevan," tambahnya.

Tujuan Fairphone, bagaimanapun, bukanlah untuk bersaing dengan pembuat smartphone besar. "Kami ingin membuat industri elektronik yang lebih bertanggung jawab, dengan menunjukkan bahwa ada pasar untuk telepon yang etis dan berkelanjutan," kata Monique Lempers.

Dia menganggap ukuran perusahaan yang lebih kecil sebagai hal yang positif. "Kami melihat beberapa rekan kami lebih takut mengambil risiko untuk berinvestasi atau sumber dari pabrik atau tambang tertentu yang membutuhkan dukungan," lanjutnya. "Saya pikir, menjadi perusahaan yang lebih kecil adalah keuntungan sekaligus tantangan."

Dari 1,35 miliar ponsel yang terjual pada tahun 2020, penjualan Fairphone hanya mencapai 95.000

Apakah ponsel "zero-impact" sesuatu yang mungkin?

Fairphone bukan satu-satunya perusahaan yang mencoba membuat smartphone "low-impact", artinya berdampak seminimal mungkin terhadap lingkungan. Shiftphone dari Jerman juga menganut desain modular dan memenangkan Penghargaan Keberlanjutan Jerman tahun 2021. Ini menandakan tren potensial dalam desain smartphone berdampak rendah, tetapi apakah mungkin ada smartphone tanpa dampak, atau "zero impact"?

"Saya pikir, mencapai nol mungkin menantang. Ini sudah sangat mendekati," kata Profesor Teknik Lofti Belkhir di Universitas McMaster Kanada, yang merupakan rekan penulis studi tahun 2017 yang mengukur jejak karbon ponsel dan perangkat serupa.

Dia mengatakan telepon "no-impact" hanya mungkin jika setiap bagian dari rantai pasokannya cocok. Dalam kasus Fairphone, itu berarti Google harus menywesuaikan diri, agar mereka yang memproduksi perangkat keras tidak terpengaruh dengan pembaruannya.

"Anda tidak bisa hanya menjadi perusahaan yang terisolasi, tidak peduli seberapa mulia dan seberapa berdedikasi dan cerdasnya Anda dan dapat berhasil dalam sistem seperti ini."

Tapi dia optimis dan mengatakab "sangat percaya pada kreativitas pengusaha" dan menunjuk kisah-kisah sukses perusahaan yang dapat menginspirasi dan membuktikan apa yang mungkin dilakukan.

"Tesla misalnya, berasal dari satu perusahaan kecil, telah mampu memaksa hampir semua produsen mobil untuk masuk ke mobil listrik. Dan hari ini, nilai pasar mereka lebih besar daripada perusahaan tiga besar di AS."(sc/hp/mw.com/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Ramah Lingkungan
 
  Smartphone: Bisakah Benar-benar Menjadi Ramah Lingkungan?
  Sosialisasi Kantong Belanja Ramah Lingkungan Digelar di 730 Minimarket
  Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan Wajib Ditaati Mulai 1 Juli 2020
  Hebat..!! Kerajinan Tangan Berbahan Baku Sampah Hasil Karya Para Lansia Dijual Online
  Satu Juta Lubang Resapan Biopori Bakal Dibuat di Jaksel
 
ads1

  Berita Utama
MK Putuskan UU Cipta Kerja Inkonstitusional Bersyarat, Wakil Ketua MPR: Ini Koreksi Keras atas Pembuatan Legislasi

Kapolda Metro: Jangan Pernah Lelah Menyelamatkan Masyarakat dari Bahaya Narkoba

Suntikan APBN Terhadap Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PKS: Pemerintah Inkonsisten Susun Rencana

HNW Prihatin Sebanyak 31.624 PNS Jadi Penerima Bansos

 

ads2

  Berita Terkini
 
Para Ilmuwan Mendeteksi Varian Baru COVID-19 di Afrika Selatan

Jumlah Besar Kelompok Keagamaan Jadi Modal Potensial Gerakan Penyelamatan Lingkungan

MK Putuskan UU Cipta Kerja Inkonstitusional Bersyarat, Wakil Ketua MPR: Ini Koreksi Keras atas Pembuatan Legislasi

DPR dan Pemerintah Segera Revisi UU Ciptaker

Sungkono Soroti Banyaknya Buruh Asing yang Masuk ke Indonesia

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2