Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Oleh : W. Suratman
"Intrik Dibalik Penguasaan Ladang Minyak Blok Cepu Oleh Exxon"
Sunday 24 Mar 2013 03:26:09
 

Ilustrasi
 
PERBATASAN CEPU, - Blora, Jawa Tengah, Itu adalah ladang minyak terbesar di Tanah Air, setidaknya hingga sekarang. Kandungan minyaknya trcatat melampaui cadangan minyak di Indonesia scr keseluruhan yang diperkirakan hny berjumlah sekitar 9,7 miliar barel. Cadangan prospektif Blok Cepu di kedalaman kurang dari 1.700 meter misalnya, mencapai 1,1 miliar barel. sedangkan cadangan potensial di kedalaman di atas 2.000 meter diperkirakan berjumlah 11 miliar barel.

Hal yang lebih terang, karut-marut Blok Cepu akhirnya memakan korban dari Pertamina. Dia adalah Widya Purnama dicopot dari jabatan Direktur Utama Pertamina, sekitar sepekan sebelum kedatangan Condoleezza Rice, Menteri Luar Negeri Amerika. dalam konferensi pers yang digelar Pertamina pertengahan Agustus 2005, Widya pernah mengungkapkan alasannya, mengapa Pertamina harus mengelola Blok Cepu. Selain sesuai undang-undang, kata dia, hal itu sesuai perintah RUPS 30 Juni 2005. Rapat yg dicatatkan notaris itu antara lain memutuskan pembagian saham 55 persen Pertamina & pemerintah daerah. Sisanya untuk ExxonMobil. Keputusan RUPS kata Widya adalah keputusan tertinggi untuk Pertamina. Sedangkan memorandum of understanding, MoU, yang menyebutkan pemberian saham ke pemerintah daerah merupakan hal yang tidak mengikat. Pertamina karena itu, menurut Widya hanya tunduk pada hasil RUPS dan bukan pada MoU.

Tak lupa Widya mengatakan, Pertamina harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Selain sudah berpengalaman 48 tahun, pengerjaan Blok Cepu oleh Pertamina menurut Widya lebih mudah karena hanya menunggu untuk dibor. Ongkosnya juga dinilai lebih murah dan tak perlu repot mendatangkan dari Amerika seperti yang (akan) dilakukan oleh ExxonMobil. Tahap awal, kata Widya, Pertamina sudah menyiapkan US$ 100 juta. Singkat kata, Pertamina sudah bisa full on stream.

Rizal M sebagai “wakil” Pertamina, tentu saja bereaksi keras untuk tak menyebut bereaksi sangat kasar dengan sikap Widya. Menanggapi rencana Widya soal pembagian saham pengelolaan Blok Cepu, misalnya, Rizal berkata, “Emang punya bapak moyangnya apa?” Widya akan tetapi bergeming. Sikapnya itulah yang lantas membuat gerah orang dalam di pemerintahan Yudhoyono. Karena dianggap sebagai “duri” dalam daging yang bisa mengoyak hubungan Jakarta-Washington, muncul manuver utk merongrong kedudukan Widya sebagai Dirut Pertamina . Pada masa Aburizal Bakrie (Ical) masih menjabat Menteri Perekonomian.

Widya merupakan sosok yang tak becus melakukan perbaikan di tubuh Pertamina. Pertamina di tangan Widya juga dianggap jalan di tempat. Ketidakberesan distribusi yng menyebabkan kelangkaan minyak di beberapa daerah & ketidakberdayaan Pertamina meningkatkan produksi minyak. Majalah Gatra, edisi Nomor 18, Senin 13 Maret 2006 menulis, persoalan ketidakberdayaan Pertamina, sebelumnya sudah sering dinyatakan Sugiharto, yang saat itu menjabat sebagai Meneg BUMN. Widya akan sgra dicopot Direktur Utama Pertamina sebelum penandatanganan kontrak kerja sama dengan ExxonMobil dilakukan, September 2006. Widya digantikan oleh Ari H. Sumarno, sosok yang dianggap lebih bisa diajak bekerja sama memuluskan persoalan Blok Cepu.

Namun belakangan Ari pun dicopot dan digantikan oleh Karen Agustiawan, 5 Februari 2006 silam. pencopotan Ari sbg Dirut Pertamina jg berlangsung sepekan sblm Hillary Clinton, MenLu Negeri Amerika, memulai kunjungannya ke Indonesia. Karen juga dikabarkan telah mengajukan surat pengunduran diri sbai Direktur Utama Pertamina pada wkt itu. Situs detiekcom menyebutkan, Karen tak tahan karena dirongrong oleh salah satu kandidat presiden yang memintanya, agar Pertamina ikut menyumbang

berkat “jasa” Rizal dkk., Blok Cepu kini sudah sepenuhnya di tangan ExxonMobil. Dalam sebuah kesempatan Rizal pernah menuturkan, Blok Cepu di tangan ExxonMobil akan lebih efisien karena perusahaan Amerika itu memiliki tools di bidang modal dan teknologi. Lembaga Minyak dan Gas atau Lemigas, sebuah lembaga studi yang menjadi bagian dari Akademi Minyak dan Gas, Cepu, pernah mengungkapkan, Banyu Urip, Sukowati, Jambaran dan Alas Tua— nama sumur-sumur di Blok Cepu— menyimpan kandungan minyak mentah hingga 1,4 miliar barel. Di Blok Cepu terdapat kandungan cadangan gas sebesar 8,772 triliun kaki kubik. Dengan kekayaan sebesar itu, menurut studi Lemigas, pengelola ladang minyak Blok Cepu dapat mengangkat minyak mentah minimal sebesar 31 persen atau setara dengan 458,7 juta barel. Sedangkan untuk gas, yang bisa diangkat sebesar 72 persen.

Warsito, Research Scientist, The Ohio State University, yang juga Ketua Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia pernah mengungkapkan, awalnya ladang minyak itu diusahakan oleh PT Humpuss Patra Gas melalui technical assistance contract atau disingkat TAC dengan Pertamina. Karena alasan tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk mengeksploitasi cadangan minyak di blok itu, Humpuss melepas 49 persen sahamnya kepada Ampolex. Penjualan saham itu terjadi menjelang keruntuhan Pemerintahan Soeharto pada tahun 1997. Ampolex adalah perusahaan minyak yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh ExxonMobil. Ada pun ExxonMobil merupakan perusahaan gabungan Exxon dan Mobil, yang didirikan oleh John D Rockefeller, konglomerat minyak dari Amerika yang menguasai banyak tambang minyak di banyak negara.

Kontrak TAC Humpuss lalu berubah menjadi TAC plus karena melibatkan investor asing. Zuhdi Pane yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Pengelolaan dan Pengawasan Kontraktor Asing Pertamina mengatakan, pelibatan investor asing dalam TAC sebetulnya tidak diperbolehkan menurut peraturan perundang-undangan. Namun karena pendekatan yang dilakukan kepada pemerintahan Soeharto, Ampolex berhasil diloloskan. Diketahui belakangan seluruh saham Humpuss di Blok Cepu telah diambil sepenuhnya oleh Exxon, lagi-lagi melalui Ampolex. Perusahaan ini kemudian merger dengan Exxon menjadi ExxonMobil. Sejak itulah, pengelolaan Blok Cepu terus menjadi rebutan mereka. Apalagi mulai 2010, pengelolaan atas Blok Cepu sudah harus diserahkan sepenuhnya kepada Pertamina 100 persen, menyusul berakhirnya kontrak perusahaan asing atas ladang minyak tersebut. Mengutip Petroleum Report 2003, yang dikeluarkan Kedutaan Besar Amerika, menurut Warsito penyerahan Blok Cepu kepada Pertamina itu sesuai dengan berlakunya UU Migas No. 22 tahun 2001, yang menyatakan TAC yang ada tidak bisa diperpanjang lagi.

Tentu saja ExxonMobil paham betul soal itu. Mereka karena itu menempuh berbagai upaya untuk mendekap Blok Cepu. Lalu lolosnya ExxonMobil mengelola Blok Cepu, menimbulkan spekulasi bahwa perusahaan itu telah melobi Washington agar menekan Jakarta untuk melakukan amendemen UUD 1945 yang menyangkut pasal-pasal pengelolaan kekayaan alam Indonesia.

Sebuah spekulasi yang niscaya sulit diurai kejelasannya, sudah takdir jadi bangsa budak karena kt masih menyewa NKRI dr Amerika & Inggeris, END, Cepu & Tangguh ladang minyak & gas terbesar yg prnh ditemukan stlh lapangan minyak Minas & Gas Lhokseumawe diberikan kepada Amerika & Inggeris, Ladang minyak Cepu dan gas Tangguh diberikan kepada Amerika & Inggeris pada masa pemerintahan Sir Presiden SBY. (bhc/red)



 
   Berita Terkait > Oleh : W. Suratman
 
  "Intrik Dibalik Penguasaan Ladang Minyak Blok Cepu Oleh Exxon"
  Makhluk itu Bernama Korupsi
  Ketika Budaya Kekerasan Menjarah Kawasan Politik
 
ads1

  Berita Utama
AHY Tempuh Jalur Hukum Terkait Penyelengaraan KLB Deliserdang

Varian Baru Covid-19 Masuk Indonesia, Pimpinan DPR Minta Pengawasan Ketat Bandara

Cetak Sejarah, Akhirnya Kyai Said Aqil PBNU Dapat Jatah Komisaris BUMN

Pembukaan Investasi Miras Ancam Kehidupan Rumah Tangga Keluarga Indonesia

 

ads2

  Berita Terkini
 
Suap Pajak Saat Pandemi, Anis: Rapor Merah dan Kerja Berat Pemerintah

Deteksi Dini Kejahatan Siber, Baintelkam Polri - XL Axiata Tingkatkan Sinergitas

PKS: Pak Jokowi Katanya Benci Produk Asing, Kok Impor Beras 1.5 Juta Ton?

Komisi III Dukung Pemerintah Segera Sahkan RUU KUHP

KY Gandeng KPK untuk Seleksi Calon Hakim Agung

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2