Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Islam
'Masjid Ramah Lingkungan' Pertama di Eropa Diresmikan Presiden Turki
2019-12-08 10:58:16
 

Presiden Turki Recep Erdogan meresmikan 'masjid ramah lingkungan' pertama di Eropa yang berlokasi di Cambridge, Inggris.(Foto: KATE GREEN/ANADOLU AGENCY/GETTY IMAGES)
 
TURKI, Berita HUKUM - Presiden Turki Recep Erdogan meresmikan 'masjid ramah lingkungan' pertama di Eropa yang berlokasi di Cambridge, Inggris.

Masjid yang berlokasi di Mill Road ini menelan biaya 23 juta pounsterling, atau setara Rp422 miliar, memiliki kapasitas 1.000 jemaah dan dijuluki sebagai "masjid ramah lingkungan pertama di Eropa".

Masjid yang pertama kali dibuka untuk umum pada bulan April silam, dirancang untuk "memberi penghormatan kepada Islam yang menekankan pada kesucian dunia dan perintah untuk menghindari pemborosan".'

Perwakilan Cambridge Mosque Trust, Abdal Hakim Murad mengatakan, diperkirakan terdapat sekitar 6.000 Muslim namun mereka harus beribadah bergiliran di tempat-tempat ibadah yang yang sempit.

Sementara arsitek di balik "masjid ramah lingkungan" ini, mengatakan bangunan itu akan menjadi "jembatan budaya" bagi Islam di Inggris pada abad ke-21.

Masjid tersebut didesain agar tidak memproduksi emisi karbon, dapat menyerap air hujan, dan sirkulasi udara yang dapat mengeluarkan udara panas dari dalam ke luar.

Cambridge mosqueHak atas fotoABDALLAH ABADA
Image captionInterior kayu terinspirasi pada "rerimbunan pohon" dalam Garden of Paradise

Ketika sekelompok orang yang terdiri dari 40 pendukung menyambut kedatangan iring-iringan Erdogan, sebuah aksi unjuk rasa yang menentangnya di pusat kota juga diikuti oleh pendemo dengan jumlah yang sama.

Para pendemo mengatakan mereka "berdiri dalam solidaritas dengan komunitas Kurdi".

Presiden Erdogan yang tiba di Inggris pekan ini untuk menghadiri pertemuan petinggi NATO, diundang ke masjid oleh penyanyi dan penulis lagu Yusuf Islam, yang sebelumnya dikenal sebagai Cat Stevens.

Musisi ini adalah pelindung masjid tersebut.

President ErdoganHak atas fotoPA MEDIA
Image captionPresiden otoriter Turki telah mendominasi politik negaranya sejak tahun 2002

Pendonor utama masjid ini adalah konsorsium lembaga pemerintah di Turki, bersama dengan perusahaan swasta Turki dan Dana Nasional Qatar.

Sejak pagi hari, polisi dengan jumlah besar mulai berjaga di area masjid, dengan para petugas yang dikerahkan antara lain dari Derbyshire.

Police outside Cambridge mosque
Image captionPolisi berjaga di area masjid, dengan para petugas yang dikerahkan antara lain dari Derbyshire

Yunus Aslan pergi ke Cambridge dari London bersama dengan sekelompok pendukung Erdogan.

"Saya di sini untuk menyambut pemimpin terbesar di dunia, Recep Tayyip Erdogan, presiden kami, dan kami di sini untuk mendukungnya ketika dia berada di Inggris," ujarnya.

Crowds at opening of mosqueHak atas fotoPA MEDIA
Image captionPendukung pemerintah pro-Turki menyambut presiden

Tidak jauh dari pusat kota, pengunjuk rasa terdengar berteriak "Erdogan teroris".

Salah satu dari mereka mengatakan: "Saya pikir Erdogan tidak semestinya disambut di mana saja, terutama ketika meresmikan tempat ibadah."



Protest against Turkish government in Cambridge
Image captionSementara itu, sekitar 50 pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota

Masjid ini dirancang oleh Marks Barfield Architects, yang memenangkan kontrak pada tahun 2009.

Pada 2011, selebaran anonim dipasang melalui pintu-pintu rumah dekat dengan lokasi yang diusulkan, mendorong agar orang-orang untuk menentang pembangunannya dengan alasan potensi kemacetan.

Namun, Dewan Kota Cambridge mengatakan menerima 50 surat yang menentang rencana pembangunan, namun ada lebih dari 200 yang mendukung.

Izin perencanaan pembangunan dikeluarkan otoritas setempat pada tahun 2012.

Cambridge mosqueHak atas fotoMARKS BARFIELD ARCHITECTS
Image captionPekerja meletakkan kubah masjid ramah lingkungan di Cambridge

Juru bicara masjid, Abdal Hakim Murad, mengatakan sekitar 6.000 umat Muslim di kota itu harus berdoa secara bergiliran di pusat-pusat agama Islam yang lebih kecil dan penuh sesak, serta rumah-rumah yang diubah menjadi tempat ibadah.

"Ada kebutuhan mendesak akan masjid yang layak di Cambridge, ini adalah ide yang sudah terlambat," ujar Abdal pada April silam.

"Cambridge adalah kota global tetapi lambat untuk memiliki ruang multi-budaya seperti ini," imbuhnya.

Masjid ramah lingkungan tersebut memiliki ruangan shalat, ruangan wudhu, dan ruangan akomodasi untuk keluarga imam serta tamu-tamu.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Islam
 
  Tokoh Muslim Tionghoa Yusuf Hamka Mendampingi Putrinya Mualaf Masuk Islam
  Terkait Konflik Rasial di India, Indonesia Diminta Bersuara Keras di PBB
  Fadli Zon: Perusakan Mushola di Minahasa Tindakan Barbar, 'Saya Pancasila' Hanya di Bibir
  Ingatkan Menteri Agama, Anton Tabah: Kasus Perusakan Mushola di Minahasa Adalah The Real Radicalsm
  DPR Desak Parlemen Negara-negara OKI Kirim Delegasi ke Xinjiang dan Yerusalem
 
ads1

  Berita Utama
Status PSBB Covid-19 DKI Jakarta Mulai Diberlakukan 10 April 2020

Polri Siap Tangani Kejahatan Potensial Selama PSBB

KPK Tegaskan Tolak Pembebasan Koruptor Karena COVID-19

Muhammad Syarifuddin Resmi Jabat Ketua Mahkamah Agung yang ke 14

 

ads2

  Berita Terkini
 
Nasir Djamil Minta Manajemen Apartemen Sudirman Mansion Jangan Sewenang-Wenang kepada 6 Pekerjanya

RI Negara Pertama Asia Jual Surat Utang Global Rp 69 T dan Terbesar dalam Sejarah Indonesia

WALHI Layangkan Surat Terbuka Agar DPR RI Mencabut Omnibus Law CILAKA

Ojek Online Minta Jam Operasional dan Lokasi Gerai Toko Tani Kementan Ditambah

DPR Hendaknya Ngerti Penderitaan Rakyat, Bukan Malah Tetap Bahas Omnibus Law Saat Pandemi Covid-19

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2