Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
COP
2016 Tahun Transisi Ekstrem dari Pembicaraan ke Aksi Iklim
2016-12-30 10:56:12
 

Ilustrasi. Ratusan aktivis lingkungan hidup mengatur tubuh mereka membentuk pesan harapan dan kedamaian di depan Menara Eiffel di Paris, Prancis, Minggu (6/12), saat Konferensi Perubahan Iklim Dunia 2015 (COP21) berlanjut di Le Bourget dekat ibukota Prancis.(Foto: Istimewa)
 
BARCELONA, Berita HUKUM - Tahun 2016 adalah tahun yang ekstrem ketika berbicara tentang perubahan iklim dan upaya untuk mengatasinya.

Euforia upaya super cepat menuju pemberlakuan Kesepakatan Paris untuk mengekang permanasan global beberapa hari kemudian tertumbuh dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, menimbulkan kekhawatiran dia akan menarik negara penghasil emisi kedua terbesar di dunia itu dari kesepakatan.

Namun gebrakan upaya-upaya untuk mendorong aksi iklim ke depan di tingkat lokal, nasional, dan internasional menumbuhkan harapan bagi gerakan global untuk menghadapi perubahan iklim telah menjadi lebih kuat daripada pemerintah negara mana pun.

Satu alasan pentingnya adalah bahwa uang berpindah dari proyek-proyek yang merusak alam ke investasi yang lebih bersih dan hijau. Energi terbarukan semakin murah, membuatnya mampu bersaing dengan bahan bakar fosil di banyak tempat.

Dan dalam setahun dengan rekor panas tertinggi baru, sebagian disebabkan oleh fenomena El Nino, pemerintah telah meningkatkan tindakan konkret dalam melindungi warganya dari iklim dan cuaca ekstrim, seperti banjir, kekeringan, dan badai.

Menjelang akhir 2016, Thomson Reuters Foundation meminta para ahli membuat lima tanda teratas bahwa aksi iklim telah meningkat. Berikut adalah kompilasi dari jawaban-jawaban mereka:


1. Perjanjian Melimpah

Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim diberlakukan pada November, 11 bulan setelah disusun oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Cepatnya pemberlakuan kesepakatan itu tidak diduga sebelumnya, namun prospek bahwa pemimpin baru Amerika akan skeptis memicu kesungguhan masyarakat internasional untuk menyegerakan ratifikasi.

Pada pembicaraan iklim PBB bulan lalu, pemerintah memberikan waktu dua tahun untuk menerapkan peraturan dan melaksanakan perjanjian Paris, serta meninjau rencana nasional untuk menjaga peningkatan suhu ke "sedikit di bawah" dua derajat Celsius.

Pada Oktober, 191 negara dalam Organisasi Penerbangan Sipil International (ICAO) menyepakati pengurangan karbon global dan menyeimbangkan skema untuk penerbangan udara

Di bulan yang sama, 197 negara anggota Protokol Montreal perihal zat yang menipiskan lapisan ozon menyetujui amandemen untuk menurunkan hidrofluorokarbon (HCF), salah satu gas rumah kaca yang paling cepat berkembang dan memiliki efek paling kuat, umumnya digunakan pada pendingin ruangan dan lemari es.

2. Bahan Bakar Fosil Mulai Ditinggalkan

Pada Mei, kelompok negara maju G7 menetapkan batas akhir pertama kalinya untuk mengakhiri subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien, serta mendorong semua negara untuk melakukannya paling lambat 2025, meski kelompok yang lebih luas G20 mundur dari komitmen kuat ini di pertemuan selanjutnya.

Sementara itu, Gubernur Bank of England Mark Carney memimpin upaya menekan perusahaan supaya berhati-hati dengan implikasi keuangan dari aset bahan bakar fosil mereka.

Satuan tugas internasional yang dibentuk untuk mencegah kejutan pasar dari pemanasan global akan meminta perusahaan memperlihatkan cara mereka mengelola risiko bisnis dari perubahan iklim, demikian pula dengan dampak upaya pengurangan emisi mereka.

Dan kampanye global untuk membujuk investor menarik uang mereka dari bahan bakar fosil mengalami peningkatan, bertambah dua kali lipat dalam 15 bulan, seiring dengan jumlah institusi yang berkomitmen melakukan divestasi mencapai 688, mewakili aset 5,2 triliun dolar AS dalam pengelolaan.

3. Energi Terbarukan Mencuri Perhatian

Badan Energi Internasional menaikkan prediksi pertumbuhan lima tahunnya untuk energi terbarukan berkat dukungan kebijakan kuat di Amerika Serikat, China, India, dan Meksiko, serta pengurangan biaya yang besar.

Tahun lalu energi terbarukan melampaui batu bara sebagai sumber kapasitas energi terpasang di dunia menurut lembaga itu.

Energi surya mengalami tahun yang baik, setelah 2016 menjadi tahun pertama penerbangan keliling dunia menggunakan tenaga surya, pengumuman rencana untuk menata jalan menuju penggunaan panel surya untuk empat benua, dan Tesla Motors Inc. memamerkan genting tenaga surya mereka.

Kelompok 48 negara berkembang yang paling berisiko terdampak perubahan iklim mengatakan mereka akan berjuang untuk menjadikan produksi energi mereka 100 persen terbarukan sesegera mungkin sebelum 2050.

4. Memacu Persiapan

Kekeringan parah yang berhubungan dengan El Nino dahsyat yang mempengaruhi lebih dari 60 juta orang, terutama di Afrika bagian selatan, menyadarkan pemerintah mengenai pentingnya persiapan menghadapi cuaca dan iklim ekstrim dengan memperbaiki infrastruktur, layanan publik, dan ketahanan pangan.

Utusan PBB merancang cetak biru untuk mengurangi kerusakan dari peristiwa-peristiwa semacam itu di masa depan, sementara badan bantuan mencoba cara inovatif untuk mendapatkan dana yang diperlukan sebelum bencana melanda.

Sementara itu, negara-negara berkembang membuat rencana nasional untuk beradaptasi dengan efek perubahan iklim termasuk cuaca buruk, kenaikan permukaan laut, dan pencairan es, dengan dukungandana hingga tiga juta dolar AS per negara dari Green Climate Fund yang masih baru.

5. Bersama Kerumunan Iklim

Tahun ini menyaksikan hujan inisiatif untuk menangkal dampak perubahan iklim, melibatkan pelaku binis, investor, pemerintah kota dan lokal, dan lain sebagainya.

Misalnya, Under2 Coalition, kelompok pemerintah sub-nasional yang berkomitmen mengurangi emisi mereka setidaknya 80 persen sebelum 2020, anggotanya bertambah menjadi 165 negara, mencakup sepertiga dari ekonomi global.

Selain itu inisiatif Science Based Targets menyatakan lebih dari 200 perusahaan telah berjanji menetapkan target pengurangan emisi sejalan dengan usaha global untuk menjaga kenaikan temperatur di bawah dua derajat.

"2016 benar-benar menandai tahun transisi dari pembicaraan dan perundingan global tak berujung tentang cara melawan perubahan iklim menjadi tindakan oleh pemerintah, provinsi, kota, perusahaan, parlemen, dan masyarakat terdampak," kata Saleemul Huq, direktur International Centre for Climate Change and Development (ICCCAD), yang berbasis di Dhaka.(Maryati/Antara/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Terkait Anggaran Proposal Rp100 Miliar Acara Temu Relawan Jokowi di GBK, Ini Klarifikasi Mantan Sekjen Projo

268 Warga Meninggal Dunia dan Ribuan Orang Luka-luka Akibat Gempa Cianjur

Legislator Komentari Putusan MK Terkait Diperbolehkannya Menteri Aktif Jadi Capres

Tangkapan Dittipidnarkoba Periode September-Oktober 2022, Ada Sabu dalam Kemasan Teh Cina Bertuliskan 'Good' dan 'Nice'

 

ads2

  Berita Terkini
 
APBN Defisit Akibat Pembayaran Subsidi Energi, Sugeng Suparwoto: Konsekuensi Pemerintah

Legislator Ingatkan PJ Kepala Daerah Jaga Netralitas Jelang Pemilu 2024

Tak Kunjung Kirim DIM RUU EBET, Mulyanto Nilai Pemerintah Langgar UU P3

Kejari Jakpus Lakukan Tes Narkotika, Hasilnya Oke

Terkait Anggaran Proposal Rp100 Miliar Acara Temu Relawan Jokowi di GBK, Ini Klarifikasi Mantan Sekjen Projo

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2