Anies sadar bahwa gubernur adalah pejabat publik. Harus siap diawasi, dikritik dan" /> BeritaHUKUM.com
Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Anies Baswedan
Anies: Bully Itu Keniscayaan, Prestasi Itu Pilihan
2019-12-14 08:39:43
 

Penghargaan sebagai Pemimpin Perubahan Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta tahun 2019, Selasa (10/12/2019).(Foto: @aniesbaswedan)
 
Oleh: H. Tony Rosyid

NABI MUHAMMAD, manusia mulia tanpa cacat aja dibully, apalagi Anies. Manusia biasa dan bukan siapa-siapa. Begitu kata Anies, tokoh yang akrab disapa dengan panggilan "Gubernur Indonesia" ini.

Anies sadar bahwa gubernur adalah pejabat publik. Harus siap diawasi, dikritik dan dikoreksi oleh publik. Tidak hanya rakyat, tapi Tuhan juga mengawasi, kata Anies ketika memberi arahan kepada para pegawai pemprov yang sedang menyusun draft anggaran untuk 2020.

Lem aibon! Teriak sejumlah orang. Kencang sekali toa-nya. Di tengah orang-orang itu teriak, Anies justru mendapat penghargaan dari MenPAN sebagai kepala daerah bebas korupsi (10/12/2019). Lah kok? MenPAN gak salah?

Tentu, MenPAN tidak mengambil teriakan orang-orang itu sebagai data penilaian. Tapi, ada standar yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan secara profesional.

Tidak hanya MenPAN, tapi KPK sebelumnya juga telah memberi tiga penghargaan kepada Anies. Begitu juga BPK, dua tahun berturut-turut menghadiahkan WTP kepada Pemprov DKI.Mungkinkah tiga institusi ini gak kredibel dan salah menilai Anies?

Semua penghargaan dari tiga institusi ini menjelaskan bahwa Anies Baswedan adalah kepala daerah yang bersih dan bebas korupsi. Tidak saja bebas secara personal sebagai ukuran, tetapi juga dilihat dari setiap kebijakan dan leadershipnya yang menutup semua pintu korupsi.

Mengapa semua ini didapatkan justru di tengah banyak bullian kepada Anies? Karena mantan Mendikbud ini fokus pada kerja, menunaikan janji politik dan menghadirkan pelayanan terbaik untuk masyarakat Jakarta.

Saat ini, Anies sedang mematangkan rencana membangun "ruang ketiga" diantaranya berupa 53 taman di tahun ini dan 200 taman dalam kurun waktu empat tahun. "Ruang ketiga" didesign dengan fasilitas yang menarik dan dibutuhkan oleh masyarakat lintas sosial-ekonomi. Ini dalam rangka untuk menghadirkan keadilan, kesetaraan dan perasaan bersama.

Lalu, bagaimana menghadapi bullian lem aibon dan tuduhan pesta miras yang akhir-akhir ini sedang diviralkan. Namanya juga opini. Kalau hukum, moral dan etika publik berangkat dari opini, kacaulah negara ini.

Opini itu dibentuk oleh tiga hal. Pertama, oleh pengalaman. Dan ini yang bisa direkomendasikan karena berbasis data. Kedua, opini berasal dari "kata orang". Dunia medsos subur untuk hal satu ini. Ketiga, opini diciptakan oleh imajinasi.

Umumnya, opini yang berkembang di media dan medsos itu berasal dari kata orang, lalu dikembangkan dalam imajinasi. Mudah cara mengklarifikasinya. Kasih bukti, selesai! Tunjukkan data dan fakta, maka akan terbangun kesadaran.

Ini berlaku untuk mereka yang waras. Kalau sudah diklarifikasi, lalu diberikan bukti-buktinya, masih percaya omongan orang dan berimajinasi yang lain? Ya dungu!

Jangan tersinggung. Karena anda orang waras. Orang waras itu selalu bersikap obyektif. Bicara dan pendapatnya berbasis data, bukan kata orang atau fantasi pikiran. Maka, jaga prinsip ini jika anda ingin tetap dibilang waras.

Anies perlu dikritik? Setuju. Terkait hal-hal yang kurang pas, Anies perlu diingatkan dan diberi masukan. Tentu harus menggunakan data ketika memberi masukan dan melakukan kritik. Sebaliknya, harus berani juga mengapresiasi prestasinya. Ini baru obyektif.

Bully? Akan selalu ada. Biasanya dilakukan oleh pertama, orang yang gak mau repot mikir dan cari data. Kedua, oleh mereka yang pernah kecewa. Pernah punya persoalan pribadi, atau calonnya kalah. Maka, bullian menjadi ekspresi kebencian. Pokonya gue benci. Apapun, gak cocok. Titik! Ketiga, dilakukan karena profesi. Mereka melakukannya karena dibayar. Ini namanya bully premium.

Dalam kamus bully, gula rasanya pahit. Madu rasa asam. Buta fakta, tuli data dan bisu kebenaran. Tapi, sejarah selalu menghadirkan orang-orang seperti ini. Tak perlu dikeluhkan, karena orang-orang macam ini adalah bagian dari takdir yang tak pernah hilang. Hadapi saja! Begitu kata Iwan Fals.

Siapapun yang jadi pejabat publik, apalagi gubernur, mesti siap dibully. Itu keniscayaan yang melekat bagi setiap pejabat publik. Gak siap dibully, jangan jadi pejabat.

Secara sosial, bullian adalah ruang yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk menjadi lebih besar lagi. Tanpa bullian, berita jadi sepi. Makin banyak bullian, ruang publik makin terbuka untuk promosi.

Selain prestasi kerja, bullian ternyata telah memberi ruang bagi Anies untuk semakin mendapatkan promosi. Publik menunggu klarifikasi, media membuka diri, dan tak sedikit orang berbalik jadi pendukung setelah mereka mengerti. Tanpa rencana dan rekayasa, bullian seolah menyiapkan tangga bagi Anies untuk semakin memperbesar peluangnya menjadi presiden 2024. Dengan catatan, cucu A.R. Baswedan dan sepupu Novel Baswedan ini istiqamah dan mampu menjaga performanya seperti selama ini.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.(tr/bh/sya)





 
   Berita Terkait > Anies Baswedan
 
  Lindungi Warga DKI, Anies Pasang Badan
  Dijegal Sejumlah Menteri, Anies Banjir Pembelaan
  Survei Median: Massa 212 Lebih Pilih Anies Ketimbang Prabowo
  Gerakan Laskar Pro 08 Siap Kawal Anies Baswedan Hingga Tuntas
  Mengukur Ketegasan Anies
 
ads1

  Berita Utama
Muncul Skenario Anies-AHY 2024, Politikus Demokrat: Pasangan Yang Saling Melengkapi

Dampak Resesi Dunia, Gus Jazil: Kita Beli Produk Lokal dari UMKM

Wasekjen Demokrat: Kok Partai Pendukung Pemerintah Kebakaran Jenggot Karena Pernyataan Mas Ibas?

Para Tokoh Bangsa Deklarasikan Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI)

 

ads2

  Berita Terkini
 
Hina Marga Silaban, Pemilik Akun Facebook Tiger Wong Dipolisikan

Ma'ruf Amin TKO atau Akan Meng-KO Jokowi?

Sidang Tahunan 2020 akan Tegakkan Protokol Kesehatan

Kajari Jaksel Siap Memberikan Pelayanan Publik yang Akuntabel Untuk Publik Trust

Walikota Sorong Dinilai Langgar Protokol Kesehatan Covid-19

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2