Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Instagram
Cara Membeli Pengikut Instagram
2019-11-22 07:11:00
 

Edwin Lane merujuk dirinya sebagai koki pasta yang piawai.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Unggahan saya di Instagram baru dinaikkan kurang dari sejam, namun sudah diberi jempol lebih dari 1.000 kali.

Saya cukup bangga pada foto itu: semangkuk pasta yang saya santap saat makan siang. Kini foto tersebut menjadi unggahan terpopuler saya sejak bergabung dengan Instagram.

Akan tetapi, kenyataannya hanya tiga dari 1.003 suka yang saya dapatkan, benar-benar berasal dari pengguna Instagram. 1.000 lainnya palsu belaka.

Saya mendapat 'like' palsu dari seorang pria bernama Dries Depoorter- seniman asal Belgia yang menciptakan seni berbasis teknologi.

Karya terkininya disebut Quick Fix-sebuah mesin penjual yang mengeluarkan 'like' dan pengikut ke akun Instagram dengan tarif beberapa euro.

"Pada dasarnya saya punya ribuan akun palsu dan akun-akun itu bisa menjadi pengikut akun Anda atau menyukai unggahan Anda," ujarnya kepada saya.

"Yang harus kamu ketahui adalah angka-angka yang muncul pada layarmu tidak selalu benar."

Instagram
Image captionFoto santapan siang Edwin yang mendapat lebih dari 1.000 like

Pemalsu

Dries menciptakan akun-akun dan like palsu sebagai bagian dari seni modern yang dia ciptakan. Dia tidak melakukannya untuk uang. Namun, banyak orang justru bertolak belakang dengan Dries.

Di dunia internet, ada industri yang tumbuh subur demi mendukung popularitas di Instagram.

Pencarian cepat di Google memunculkan puluhan situs yang menawarkan pengikut dan like sebanyak yang Anda sanggup bayar.

Saya menemukan, misalnya, 1.000 pengikut dengan tarif US$10-US$15 (Rp141 ribu - Rp211 ribu).

Dries DepoorterHak atas fotoDRIES DEPOORTER
Image captionDries Depoorter dan mesin Quick Fix ciptaannya.

Itu menjadi masalah bagi industri pemasaran influencer yang meledak di platform media sosial seperti Instagram dalam beberapa tahun terakhir.

Merek-merek terkenal kini berani membayar "instagrammer" berpengaruh untuk mempromosikan produk mereka ke pengikut sang 'selebgram' dalam industri yang diperkirakan bernilai miliaran dollar per tahun.

Pertanyaannya adalah apakah perusahaan-perusahaan itu membuang-buang uang jika pengikut selebgram itu tidaklah nyata.

"Kami menemukan 20%-30% influencer menggelembungkan ukuran dengan cara tertentu, apakah itu membeli pengikut palsu, like palsu, komentar, atau jumah penonton story," kata Andrew Hogue, peneliti dan pengembang IG Audit - perangkat online guna memperkirakan jumlah pengikut palsu dalam profil-profil Instagram.

Jadikan saya influencer

Saya menemukan dunia pengikut palsu di Instagram saat saya mencoba menjadi influencer untuk program Business Daily pada BBC World Service.

Guna memperoleh arahan, saya menemui Harry Hugo, orang yang turut mendirikan Goat- sebuah perusahaan pemasaran influencer di London yang mencocokkan merek dengan influencer.

"Kamu memerlukan setidaknya sekitar 5.000 pengikut," ujarnya.

Influencer dengan jutaan pengikut bisa memperoleh ribuan dollar untuk satu unggahan. Saya ingin tahu seberapa mudah menjadi influencer seperti itu.

"Dengan pengikut 5.000, kamu akan mulai diundang ke berbagai acara secara gratis. Lalu kadang-kadang kamu bisa dapat 50-100 pounsterling (Rp900.000 - Rp1,8 juta) per unggahan," jelasnya.

Harry meminta saya menemukan pasar tertentu dan memberikan tema pada seluruh unggahan saya berdasarkan pasar tersebut.

Setelah melihat akun Instagram saya, kami memutuskan untuk fokus pada pasta. Saya suka memakannya, saya suka membuatnya di rumah, dan Harry memberitahu bahwa itu bisa menjadi pasar menarik bagi merek makanan.

Lalu saya menciptakan akun @londonpastaguy dan mulai mengunggah.

@londonpastaguy
Image captionAkun Instagram Edwin yang bertema pasta.

Pertama saya melihat ada kemajuan, beberapa like dari orang-orang di komunitas pasta di Instagram. Kemudian ada beberapa teman dan kolega menjadi pengikut.

Namun, perkembangannya sangat lamban.

"Kamu harus aktif," kata Harry Hugo dari Goat.

"Kamu harus membangun merek. Kamu harus membangun bisnis. Tidak bisa menjentikkan jari dan langsung berhasil. Kamu harus benar-benar memberi waktu."

Memalsukan

Namun, bagi mereka yang tidak ingin bekerja terlalu lama, ada banyak jalan pintas.

Saya hanya perlu beberapa menit untuk menemukan sebuah situs yang menawarkan 1.000 pengikut seharga Rp211.000

Saya membayar dengan kartu kredit dan, sim salabim, telepon saya penuh dengan notifikasi pengikut baru. Sebanyak 500 pengikut muncul hampir bersamaan dan sisanya masuk secara bertahap dalam beberapa hari.

Profil-profil palsu relatif mudah dikenali. Nama-nama mereka diciptakan komputer dan foto profilnya generik.

Screenshot of fake followers
Image captionRatusan pengikut muncul hampir bersamaan.

Ada perangkat online, seperti IG Audit-nya Andrew Hogue, yang memakai algoritma untuk mendeteksi profil-profil palsu tersebut.

Meski demikian, menurut Hogue, teknik pemalsuannya semakin canggih.

Sejumlah layanan kini menawarkan akses ke 'pod kumpul'- tempat para influencer saling memberi like dan komentar satu sama lain agar mereka tampak lebih populer.

Setidaknya satu laman menawarkan untuk membuat proses ini menjadi otomatis dengan membayar langganan per bulan. Jadi, kalaupun profilnya sungguhan, komentar-komentarnya ciptaan komputer.

Membeli atau menjual profil palsu tergolong pelanggaran berdasarkan syarat dan ketentuan Instagram.

Saya bertanya kepada Instagram berapa persen profil yang mereka duga tergolong palsu, tapi mereka tidak memberitahu informasi itu.

Mereka mengaku memakai teknologi untuk memblokir jutaan akun dan akan terus mengidentifikasi dan menghapus pengikut, like, dan komentar palsu.

Akan tetapi kemunculan profil palsu yang terus-menerus menjadi tantangan bagi model pemasaran influencer.

Pemasaran influencer tidak lagi bisnis kecil. Tahun ini perusahaan kosmetik Este Lauder berencana menghabiskan tiga-perempat anggaran pemasarannya pada influencer di media sosial.

Andrew Hogue menegaskan masalah pemalsuan perlu ditangani secara serius agar perkembangan industri bisa berlanjut.

"Ini hanyalah pertanda bahwa industri tersebut belum berkembang sempurna. Yang terjadi sekarang adalah merek-merek ditipu. Jika antara 20%-30% influencer menggelembungkan statistic mereka, berarti ada 30% peluang bahwa ketika Anda berinvestasi pada sebuah influencer, gagal total.

"Ini tidak adil bagi merek-merek atau bagi influencer. Yang berusaha dengan kerja sungguhan seharusnya mendapat bagian yang adil."(BBC/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Instagram
 
  Cara Membeli Pengikut Instagram
  Pengguna Instagram di Indonesia Mencapai 45 Juta
  Bagaimana Instagram Bisa Menguak Depresi Anda
  Rahasia Jadi 'Selebgram', Cara Raup Untung Lewat Instagram
  Krisdayanti dan Anaknya Saling Curhat di Instagram Soal Hubungan yang Renggang
 
ads1

  Berita Utama
Ekonomi Nyungsep, Ramalan Rizal Ramli 9 Bulan Lalu Yang Jadi Kenyataan

Reuni 212, Konsolidasi Umat atau Parade Pidato?

Pentingnya Peran DPRD Provinsi untuk Dilibatkan dalam Musrembang Desa

Polda Metro Jaya bersama Stakeholder Luncurkan Layanan Digital E-TLE Development Program

 

ads2

  Berita Terkini
 
Pemerintah Harus Jelas Tangani Sampah Plastik

Lampung Siap Laksanakan Pilkada 2020

Pemerintah Harus Selamatkan Industri Semen Dalam Negeri

Operasi Pekat Otanaha III Berhasil Jerat Para Pelaku Prostitusi ONLINE

Kasus Pembunuhan Berencana di Mongolato, Jaksa Nyatakan Berkas Lengkap

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2