Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Perubahan Iklim
Cek Fakta Klaim AS dan China Saling Tuding tentang Iklim dan Lingkungan
2020-11-16 12:18:03
 

China dan AS saling tuding satu sama lain terkait perubahan iklim.(Foto: REUTERS)
 
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Ketegangan antara China dan AS berlangsung pada beragam isu, termasuk perubahan iklim dan lingkungan.

Pada September, AS merilis daftar 'pelanggaran' lingkungan oleh China

Sebagai tanggapan, China mengeluarkan laporannya sendiri, yang merinci "kerusakan lingkungan" AS.

Emisi CO2

China mengklaim kumulasi emisi CO2 dari AS sekitar tiga kali dari emisi CO2 China.

Sejak 1750 (ketika emisi dianggap hampir nol) hingga akhir 2018, China menghasilkan sekitar 210,20 miliar ton CO2, menurut Our World in Data, yang menghimpun statistik dari berbagai negara.

Sementara AS memproduksi 404,77 miliar ton CO2 pada periode yang sama.

Dan dalam beberapa tahun terakhir, emisi karbon AS mengalami tren penurunan - seiring dengan peralihan dari energi batubara ke gas alam dan energi terbarukan.






Annual CO2 emissions by China and the US


AS mengklaim total emisi terkait energi dari China dua kali lipat dari AS dan hampir sepertiga dari semua emisi global.

Emisi China per tahun kini sekitar dua kali lipat dari AS, menurut data PBB.

Dan tahun lalu, China berkontribusi sekitar sepertiga dari emisi CO2 global sementara AS menghasilkan 13%.

Penebangan liar dan deforestasi

China mengklaim penebangan liar dan deforestasi "merajalela" di AS.

Namun, organisasi lingkungan World Wildlife Fund (WWF) mengatakan penebangan liar tidak "menyebar luas" di AS.

Dan AS juga tidak termasuk dalam 10 negara teratas yang memiliki rata-rata kehilangan luas hutan tahunan antara 2010 dan 2020, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Tetapi sebagai pengguna kayu terbesar di dunia, permintaan AS akan kayu tropis sebagian dapat mendorong tingginya tingkat pembalakan liar di bagian lain dunia, menurut WWF.

Pada 2008, AS memperketat undang-undang tentang impor produk dari kayu yang ditebang secara ilegal.

Dan sebuah kajian pada 2015 mengatakan sejak aturan itu diberlakukan, telah terjadi "penurunan substansial" dalam impor ilegal.

Tapi studi itu menambahkan kayu dalam volume besar terus diimpor dari "sumber yang kemungkinan ilegal".

Dan pada 2019, Badan Investigasi Lingkungan yang berbasis di AS melaporkan kayu yang bersumber secara ilegal dari Afrika Barat masih ditemukan dalam produk kayu yang dijual di AS.

---------------------------------------------------------------------------------------
AS mengklaim: "China adalah konsumen produk kayu ilegal terbesar di dunia."

Dan, menurut penelitian, itu benar.






Deforestation of the jungle in the Amazon





Keterangan gambar,


Deforestasi global telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir





Badan Investigasi Lingkungan mengatakan: "Sumber [kayu] China dalam skala besar berasal dari wilayah berisiko tinggi [di dunia] berarti bahwa sebagian besar kayu dan produk kayu impornya diambil secara ilegal."

Sebuah penelitian oleh Global Witness tahun lalu mengatakan bahwa ada tingkat ilegalitas yang "mengkhawatirkan" di negara-negara yang menjadi sumber 80% kayu China, eksternal" tingkat ilegalitas yang "mengkhawatirkan" di negara-negara yang menjadi sumber 80% kayu China.

Pada Desember 2019, China memperketat regulasinya dengan melarang perusahaan China membeli "kayu dari sumber yang ilegal".

Namun belum jelas apa dampak dari regulasi ini terhadap penurunan kayu ilegal dari luar negeri.

Ekspor sampah plastik

China mengklaim AS adalah pengekspor limbah padat terbesar di dunia dan konsumen utama plastik dalam istilah per kapita. "






Boat prepares to dock on the rubbish filled shore of Baseco Beach



Plastik adalah komponen utama limbah padat.

Dan AS telah mengirim 662,244 ton limbah padat ke negara-negara lain pada 2019.

Namun Jepang dan Jerman mengirimkan lebih dari banyak pada tahun yang sama, menurut data PBB.

Ekspor limbah plastik AS menurun sejak 2018, terutama karena sejumlah negara, termasuk China, telah melarang impor limbah plastik.

AS mengklaim: China adalah penghasil dan pengekspor produk plastik terbesar" dan penyumbang sampah plastik laut terbesar.

Bank Dunia mengonfirmasi bahwa China adalah penghasil plastik terbesar, sekitar sepertiga dari plastik yang dihasilkan di seluruh dunia.

Tetapi itu sebagian besar disebabkan oleh volume barang yang diproduksi dan diekspor China secara keseluruhan.

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun ini, menggunakan data terbaru, sejak 2016 memperlihatkan AS dan negara lain masih menghasilkan lebih banyak limbah plastik per kapita.,

AS dan negara lain masih menghasilkan lebih banyak limbah plastik per kapita.

"AS memiliki 4% populasi penduduk, tapi negara itu memproduksi 17% sampah plastik," tulis studi tersebut.

Namun China, dan negara-negara lain di Asia, adalah penyumbang utama sampah plastik di laut.

Sekitar 80% plastik di laut berasal dari sumber-sumber di daratan.

Dan Sungai Yangtze di China diyakini merupakan sumber utama, bersama dengan sungai-sungai lain di wilayah Asia.

Tahun lalu, Kementerian Lingkungan China, melaporkan sekitar 27% peningkatan jumlah limbah plastik yang ditemukan di perairannya pada 2018.

Rata-rata, 24 kilogram limbah ditemukan mengapung di setiap 1.000 m2 perairan.

"Dan lebih dari 88% dari jumlah itu adalah plastik. ,

Laporan oleh Wanyuan Song, Pratik Jakhar, Upasana Bhat and Shruti Menon.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Perubahan Iklim
 
  Perdana Menteri Jepang Siap Pimpin Perang Melawan Perubahan Iklim
  Dampak Perubahan Iklim, Pulau Pari Alami Banjir Rob 2 Kali Setahun
  Cek Fakta Klaim AS dan China Saling Tuding tentang Iklim dan Lingkungan
  Joe Biden Siapkan Rencana 'Paling Progresif' Atasi Perubahan Iklim
  Perubahan Iklim Butuh Perhatian Parlemen Dunia
 
ads1

  Berita Utama
PKS Tolak Rencana Pemerintah Hapus Premium di Kawasan Jawa Bali

Wagub Ahmad Riza Patria Ditanya 46 Pertanyaan Soal Kerumunan Massa Acara HRS

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

Bareskrim Polri: Peredaran Sabu Ditengah Pandemi Meningkat Hingga 2 Ton

 

ads2

  Berita Terkini
 
Arahan Tegas Kapolri Saat Pimpin Apel Kasatwil 2020

KPK Tangkap Menteri KKP Eddy Prabowo Atas Dugaan Korupsi Ekspor Benur

Aktivis Lingkungan dan Masyarakat Adat Tolak Undangan Jokowi ke Istana

Anggota DPR Sebut, Jokowi Presiden Yang Tak Punya Gagasan Tangani Covid-19, Buktinya..

HNW: Indonesia Tegak Berdiri di Atas Pengorbanan dan Kesepakatan Para Pendiri Bangsa

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2