Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Opini Hukum    
Habib Rizieq
Habib Itu Adalah Realitas Sekaligus Entitas Politik Indonesia
2020-11-15 14:34:21
 

Habib Rizieq Shihab.(Foto: Istimewa)
 
Oleh: Asyari Usman

KETIKA MENKOPOLHUKAN Mahfud MD dan Ade Armando, dalam satu wawancara, mencoba untuk mengerdilkan Habib, seketika itu juga Beliau malah menjadi semakin berkibar di hati rakyat. Ratusan ribu pengguna medsos menunjukkan reaksi keras terhadap obrolan antara kedua orang tsb. Pukul rata, netizen menyebut wawancara itu sebagai obrolan sampah.

Lihat bagaimana kecaman luas netizen terhadap cara Mahfud menyebut nama IB dalam wawancara itu. Setelah Mahfud MD mengucapkan nama Habib hanya dengan nama depan beliau saja, tanpa 'habib' sebagai kata penghormatan, langsung meluncur serangan beruntun dari netizen. Warganet mencela balik cara Mahfud.

Mahfud menyebut hanya nama depan saja bukan tanpa tujuan. Mahfud ingin menunjukkan kepada publik bahwa Habib itu bukan siapa-siapa. Bahkan Mahfud mengatakan dengan gamblang bahwa pengikut Habib tidak banyak.

Di sini, Mahfud keliru. Dia menafikan fakta bahwa Habib adalah pemimpin umat yang diakui dan mendapat dukungan luas di masyarakat. Pada hari kepulangan Habib, Selasa (10/11/2020), Mahfud bisa melihat begitu banyak rekaman video tentang penyambutan Beliau di bandara Soekarno-Hatta. Lautan manusia. Beratus-ratus ribu. Hampir pasti, belum ada tokoh di negeri ini disambut gegap gempita seperti kedatangan Habib.

Dalam rekaman video yang beredar hari Senin (9/11/2020), Mahfud kemudian mengubah penyebutan nama Habib menjadi lengkap. Bukan nama depan saja. Video ini berisi pernyataan Menkopulhukam tentang kepulangan IB.

Nah, mengapa Mahfud memperbaiki penyebutan nama Habib ketika menyampaikan pernyataan itu? Kenapa lisan Mahfud berubah drastis?

Kelihatannya mungkin ada yang memberikan masukan kepada Sang Menko agar berhati-hati. Mahfud sadar bahwa ucapan dia yang mengerdilkan Habib itu menyinggung perasaan umat se-Indonesia. Dan bisa semakin memperuncing hubungan penguasa dengan umat.

Sebetulnya, Mahfud MD sudah paham bahwa Habib telah menjadi realitas sekaligus entitas politik di Indonesia. Tidak banyak tokoh dunia yang menjadi entitas politik. Menjadi realitas politik, bisa banyak orangnya.

Dengan menjadi entitas politik, Habib 'setara' dengan orpol besar yang memiliki struktur organisasi yang lengkap. Padahal, Habib tidak memiliki itu semua.

Di situ kelebihan Habib. Beliau memiliki konstituen yang amat besar. Hebatnya lagi, konstituen yang besar itu senantiasa aktif meskipun tanpa hubungan formal yang sifatnya vertikal maupun horizontal. Inilah yang terlihat ketika dilaksanakan aksi damai berjilid-jilid. Jutaan orang bisa hadir dan bagaikan terkomando. Padahal, mereka cuma 'self-discipline' saja.

Habib juga telah menjadi 'political leader' (pemimpin politik) yang 'de-facto'. Meskipun dia tidak memiliki wadah politik. Status sebagai pemimpin politik itu bahkan berlaku 'across the board'. Berlaku lintas partai, golongan, etnis, dan mazhab. Kelebihan yang dimiliki Habib untuk menjadi magnet pengumpulan massa dari berbagai latarbelakang adalah bukti Beliau sebagai pemimpin politik 'de-facto'.

Banyak orang di berbagai orpol dan ormas menyenangi kepribadian Habib. Mengagumi keteguhan Beliau dalam mempertahankan integritas dan martabat dirinya. Mereka melihat Habib bisa bergaul dan berbaur begitu luas, termasuk dengan para tokoh dari agama-agama lain. Inilah realitas politik yang konstruktif.

Keberadaan Habib sebagai entitas politik menjadikan dirinya figur yang dipandang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Habib paham nilai-nilai kebangsaan dan kebinekaan.

Tetapi, meskipun Habib berstatus sebagai entitas politik yang sangat kuat di akar rumput (grassroot), sejauh ini Beliau tidak pernah menunjukkan ambisi kekuasaan. Yang sering diteriakkan Habib adalah agar para penguasa, siapa pun itu, menegakkan keadilan dan hukum untuk semua orang. Tanpa syarat. Itu saja.

Jadi, yang terbaik bagi para penguasa adalah berhenti memusuhi Habib. Sebab, misi Beliau adalah substansi Pancasila dan UUD 1945. Yaitu: lindungi semua anak bangsa, berikan hak-hak mereka, dan pertahankan kedaulatan negara dari ambisi ekspansionis asing dalam segala bentuk.

InsyaAllah, tidak akan ada lagi keributan.

Penulis adalah Wartawan senior yang mendapat penghargaan sebagai "Jurnalis Inspiratif" dari Forum Jurnalis Muslim (Forjim) pada tahun 2018.(dbs/bh/mnd)




 
   Berita Terkait > Habib Rizieq
 
  Habib Rizieq dan Dirut RS UMMI Jadi Tersangka Kasus Tes Swab
  Kerja Komnas HAM Sungguh Mengecewakan
  KontraS: Penembakan Laskar FPI adalah Pelanggaran HAM
  Pesantren HRS Digugat, Marzuki Alie Kirim Pesan Tegas ke Mahfud MD: Aset Umat Jangan Dihabisi
  Habib Rizieq Shihab Minta Kasus Tewasnya 6 Laskar FPI Dikabarkan ke Seluruh Dunia
 
ads1

  Berita Utama
Ketua Satgas Doni Monardo Terpapar Covid-19, Masyarakat Diminta Hindari Makan Bersama

Sah!!, DPR RI Tetapkan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri ke-25

SPM Belum Memenuhi Syarat, PKS: Batalkan Kenaikan Tarif Jalan Tol!

DPR Minta Pemerintah Cepat Tangani Gempa Sulbar dan Banjir Kalsel

 

ads2

  Berita Terkini
 
Banjir Besar Kalsel, Jangan Lupakan Peran Perkebunan dan Pertambangan

Ketua Satgas Doni Monardo Terpapar Covid-19, Masyarakat Diminta Hindari Makan Bersama

Beri Pekerjaan untuk 15 Pengemis, Risma Itu Ketua BEM atau Mensos?

Warga Manado 8 Kecamatan Dilanda Banjir, 3 Orang Meninggal

Erick Thohir Angkat Budiman Sudjatmiko Jadi Komisaris Independen PTPN V

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2