Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Polri
IPW: Ada 4 Nama yang Menjadi Calon Kuat Kabareskrim Polri
2019-11-07 12:16:14
 

Ilustrasi. Salam komando mantan Kabareskrim yang menjadi Kapolri Baru Jenderal Pol Idham Azis dan Jenderal Pol Tito Karnavian di lapangan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob), Depok, Jawa Barat, Rabu (6/11).(Foto: BH /amp)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Kursi empuk Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kabareskrim Polri) saat ini menjadi momok menarik dihadapan publik dan internal Korps Bhayangkara. Hal ini lantaran jabatan Jenderal Polisi bintang tiga itu dalam posisi kosong usai ditinggal pergi Jenderal Idham Azis yang resmi menjadi Kapolri saat ini.

Indonesia Police Watch (IPW) memprediksi setidaknya ada empat Jenderal Polisi aktif yang digadang-gadang akan menempati posisi bergengsi di Polri tersebut.

"Ada empat nama yang menjadi calon kuat Kabareskrim. Mereka adalah; Kadiv Propam Irjen Sigit, Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Edi, Deputi Operasi Polri Irjen Sormin, dan Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya pada wartawan, Rabu (6/10).

Neta memaparkan, keempat Jenderal Polisi itu merupakan figur-figur yang memiliki prestasi masing-masing di tempat tugasnya. Namun, IPW tetap tak ingin mendahului keputusan prerogatif Kapolri mengenai penunjukan tersebut.

Ia hanya berharap dalam pemilihan Kabareskrim yang baru, Kapolri melihat beberapa aspek. Ia pun menyebut setidaknya ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih Kabareskrim yang baru.

"Pertama, aspek senioritas. Kedua, mencermati dinamika internal. Ketiga, figur calon mempunyai pengalaman yang mumpuni di bidang reserse. dan yang Keempat, faktor kedekatan dengan ulama," ujar Neta.

Ia pun menjelaskan, alasan kedekatan dengan ulama menjadi penting. Sebab, ia menilai, ulama masih dipandang sebagai panutan oleh masyarakat di negeri ini. Situasi ini tentunya bisa bersinergi dalam menjaga stabilitas Kamtibmas.

Selain itu adanya isu radikalisme dan dampak ketegangan di era Pilpres 2019 bisa diminimaliisir. Setidaknya, adanya issue kriminalisasi terhadap ulama di sepanjang Pilpres 2019 bisa dinetralisir dan dituntaskan dengan pendekatan pendekatan kemitraan.

"IPW berharap figur senior yang menjadi Kabareskrim bisa menyelesaikan dan menuntaskan perkara yang ditinggalkan Idham Azis. Dengan demikian Kabareskrim tersebut bisa membantu tugas tugas Kapolri yang baru dalam menjaga stabilitas keamanan maupun dalam melakukan penegakan hukum," kata Neta.

Disisi lain, Neta menekankan, siapapun sosok Kabareskrim nantinya, pengusutan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan harus mampu diungkap dan diusut.

"Yang terpenting tugas Kabareskrim yang baru harus bisa menuntaskan kasus Novel Baswedan, sehingga Polri maupun Kapolri yang baru tidak terus menerus tersandera kasus penyiraman air keras itu," kata Neta.

Sementara, Komisioner Komnas HAM M Choirul Anam mengatakan, ada kriteria harus dipenuhi calon Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang baru.

Diketahui, jabatan pimpinan reserse Polri itu kosong pasca Idham Azis ditunjuk menjadi Kapolri.

Menurut Choirul, dibutuhkan sosok Kabareskrim yang mumpuni. Sosok tersebut dianggap yang bisa mengkonsolidasikan internal dengan baik.

"Termasuk berkomunikasi baik dengan masyarakat dan berbagai tokoh tanpa ada beban atau sekat apapun. Ini penting tuk memastikan seluruh pekerjaan reskrim maksimal," ucap Choirul di Jakarta, Rabu (6/11).

Dia menjelaskan, sosok senior dianggap lebih baik menempati posisi ini. Hal itu karena jam terbang konsolidasi dan komunikasinya teruji. Sosok calon Kabareskrim juga harus memiliki latar belakang intelektualitas yang baik, berpikir terbuka akan perubahan dan dinamika hukum.

"Perubahan dinamika ini juga membutuhkan sosok yang mengerti bagaimana perencanaan kelembagaan intitusi kepolisian," kata dia.

Di samping itu, background pengetahuan terkait desain tata kelola dan arah perencanaan jadi nilai plus bagi sosok calon Kabareskrim. Kesinambungan perencanaan strategis intsitusi dan penguasaan materi perencanaan akan memastikan bangunan kepolisian kedepan sesuai direncanakan.

"Sosok yang cocok bagi calon Kabareskrim juga penting dilihat pengalaman ditempa oleh berbagai kondisi yang high profile, baik terkait situasi keamanan, kasus, maupun kebijakan. Semoga dengan calon kabareskrim baru yang mumpuni, ada perbaikan penegakan hukum di Indonesia," ujarnya.(bh/mnd)





 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Polisi Tembak Mati Pria Pakistan Penyelundup Heroin 5 Kilo

Industri Keuangan Sakit, DPR Minta Perbaikan dari OJK

Kritik Jokowi Soal Pemindahan Ibu Kota, SBY: Konsepnya Seperti Apa?

Komisi IX Tetap Komitmen Tolak Kenaikan Iuran BPJS

 

ads2

  Berita Terkini
 
Refleksi Akhir Tahun 2019 Warganet: Indonesia Sudah 'On The Track' Menuju Bangsa Maju

Kapolda Gorontalo Buka Rapat Kerja Teknis Fungsi Lalu Lintas Ditlantas Polda Gorontalo TA 2019

Yusril Sudah Benar, Dewan Pengawas KPK Memang Harus Steril dari Parpol

Indonesia Gugat Uni Eropa ke WTO atas Tuduhan 'Diskriminasi Sawit'

Dua Sisi Kebahagiaan: Abang Becak dan Sang Pengacara Kondang di Jombang

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2