Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Duka Cita
Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak Meninggal Dunia: Negarawan dalam Perang dan Damai
2020-02-26 16:33:55
 

Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak.(Foto: Istimewa)
 
MESIR, Berita HUKUM - Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak meninggal di Kairo dalam usia 91 tahun.

Mubarak menghabiskan tiga dekade menjabat presiden Mesir sebelum adanya gerakan demonstrasi, Arab Spring yang menyingkirkannya.

Ia dinyatakan bersalah berkomplot melakukan pembunuhan terhadap para demonstran dalam revolusi. Putusan ini dibatalkan dan ia dibebaskan pada bulan Maret 2017.

Kematian Mubarak dipastikan oleh kantor berita Mesir hari Selasa (25/02). Situs berita Al-Watan melaporkan ia meninggal di rumah sakit militer.

Mubarak menjalani operasi akhir Januari lalu. Putranya, Alaa, mengatakan hari Sabtu lalu bahwa Mubarak berada di unit perawatan intensif.

Lahir tahun 1928, Mubarak mendaftar ke angkatan udara ketika ia remaja. Ia memainkan peran penting dalam perang Arab-Israel tahun 1973.

Kurang dari satu dekade kemudian, ia menjadi presiden menyusul pembunuhan yang terjadi pada pendahulunya, Presiden Anwar Sadat.

Ia juga memainkan peran kunci dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Di tengah miliaran dolar bantuan militer yang diterima Mesir selagi ia berkuasa, pengangguran, kemiskinan dan korupsi terus tumbuh di Mesir.

Ketidakpuasan memburuk bulan Januari 2011 sesudah ada protes sejenis sebelumnya di Tunisia yang berhasil menjatuhkan presiden.

Mubarak kemudian dijatuhkan 18 hari kemudian.

Hosni MubarakHak atas fotoGETTY IMAGES

Hosni Mubarak berlatar belakang militer, tetapi ia memegang komitmen negaranya akan perdamaian internasional.

Di bawah kepemimpinannya, Mesir memainkan peran utama menjadi perantara perjanjian damai antara Israel dan Palestina.

Selama tiga dekade berkuasa, ia tersingkir karena revolusi Arab di tahun 2011.

Ia dikritik lantaran menggunakan hukum darurat militer untuk menghantam lawan politikya; dan di tahun-tahun akhir hidupnya dihabiskan untuk menghadapi tuduhan korupsi.

Pilot pesawat tempur

Muhammad Hosni Said Mubarak dilahirkan tanggal 4 Mei 1928 di Kafr-El Meselha, di Mesir utara.

Dilahirkan di keluarga miskin, ia lulus dari Akademi Militer Mesir tahun 1949. Ia dipindahkan ke angkatan udara dan bertugas di sana tahun 1950.

Hosni MubarakHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionHosni Mubarak sebagai perwira muda angkatan udara tahun 1952.

Selama dua tahun ia menerbangkan pesawat Spitfires dan menjadi instruktor pesawat. Ia menyaksikan kudeta militer Jenderal Jamal Abdul Nasser tahun 1952 dan konflik Suez yang mengiringinya.

Tahun 1959, Mubarak ke Uni Soviet - yang menjadi pemasok senjata ke pemerintah Mesir - untuk belajar menebangkan pesawat pengebom.

Ia menikah dengan Suzanne - saat usianya 17 tahun, anak seorang dokter - dan berhasil merintis karir sehingga menjadi kepala Akademi Angkatan Udara lalu menjadi Kepala Staf Angkatan Udara tahun 1972.

Pahlawan nasional

Namun ia naik daun saat menjabat Komandan Angkatan Udara dan Wakil Menteri Pertahanan.

Mubarak berperan penting dalam merencanakan serangan kejutan terhadap militer Israel pada awal perang Arab-Israel tahun 1973.

Serangan itu terjadi di Yom Kippur, hari suci dalam kalender Yahudi. Mubarak menjadi pahlawan nasional untuk peran yang dimainkan angkatan udara dalam serangan di Terusan Suez.

Hampir terjadi konflik super power antara Rusia dan Amerika Serikat ketika mereka mendukung sekutunya masing-masing. Israel mengusir invasi Mesir tapi akhirnya mengembalikan Sinai ke Mesir.

Prajurit Israel meninggalkan tepi barat Terusan Suez di Mesir pada tahun 1973.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPrajurit Israel meninggalkan tepi barat Terusan Suez di Mesir pada tahun 1973.

Wakil presiden

Penghargaan kepada Mubarak didapatkan dua tahun kemudian ketika Presiden Anwar Sadat mengangkatnya sebagai wakil presiden.

Sadat punya kebijakan luar negeri yang disebutnya sebagai "kejutan listrik".

Ia mengusir 16.000 penasehat militer Soviet, mengunjungi Yerusalem saat sedang perang, dan menolak bertemu dengan para pemimpin Arab Saudi.

Presiden Sadat menunjuk Hosni Mubarak sebagai wakilnya tahun 1975.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPresiden Sadat menunjuk Hosni Mubarak sebagai wakilnya tahun 1975.

Mubarak lebih banyak mengurusi urusan dalam negeri, dan mulai membangun hubungan personal yang kuat dengan para pemimpin Arab - khususnya Putra Markota Pangeran Fahd.

Ia merupakan pendukung penting dari perjanjian damai Camp David tahun 1979 - yang ditandatangani oleh Presiden Sadat dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.

Perjanjian ini memecah Dunia Arab dengan tajam.

Mubarak menyesali kegagalan Sadat untuk memelihara hubungan dengan sekutu moderat; dan kelompok radikal murka terhadap hal yang dipandang sebagai pengkhianatan.

Pada bulan Oktober 1981, prajurit yang bersimpati pada satu kelompok radikal menembak mati Sadat pada sebuah parade saat memperingati kemenangan perang Arab-Israel 1973.

Mubarak terluka dalam peristiwa pembunuhan terhadap Presiden Anwar Sadat tahun 1981.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMubarak terluka dalam peristiwa pembunuhan terhadap Presiden Anwar Sadat tahun 1981.

Para pembunuh ini bersembunyi di dalam truk yang berhenti di seberang presiden.

Disangka sebagai bagian dari parade, Sadat maju dan memberi hormat pada mereka.

Prajurit ini melontarkan granat dan menembak kerumunan secara membabi buta dengan senjata AK-47. Sadat meninggal di rumah sakit dua jam kemudian. Hosni Mubarak termasuk yang terluka.


'Perdamaian dingin'


Mubarak naik ke kursi presiden, mendapatkan 98% suara pada referendum nasional - di mana ia adalah satu-satunya calon.

Ia berjanji untuk berpegang pada perjanjian Camp David, tapi hubungan dengan Israel lebih dingin ketimbang di bawah Sadat. Komentator mulai menggambarkannya sebagai "perdamaian dingin".

Mesir dan Arab Saudi - dua negara berpenduduk terbesar dan terkaya - juga bergabung untuk melawan tumbuhnya kekuatan Iran di bawah Ayatollah Khomeini.

Mesir - yang dikeluarkan dari Liga Arab tahun 1979 - masuk kembali, dan markas organisasi itu dikembalikan ke tempat asalnya di tepi sungai Nil.

Presiden Mubarak bersama pemimpin PLO Yasser Arafat.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPresiden Mubarak bersama pemimpin PLO Yasser Arafat.

Mubarak dididik di bawah akademi militer Uni Soviet dan bisa bicara bahasa Rusia, tetapi berhasrat memperkuat hubungan dengan negara-negara Barat.

Peran utama Mubarak dalam proses perdamaian Israel-Palestina memperkuat hubungannya dengan banyak presiden Amerika yang memberi bantuan jutaan dolar kepada Mesir.

Pengkritiknya menuduhnya sebagai boneka Amerika, memenjara dan menyiksa para pembangkang serta memanipulasi pemilu.

Ia memperluas kewenangan pasukan keamanan internal dan selamat dari enam kali percobaan pembunuhan, serta terluka dari percobaan pembunuhan dengan pisau di Port Said.

Perang teluk

Invasi Irak ke Kuwait tahun 1991 menjadi pukulan bagi Mubarak yang mengakui ia menerima janji dari Saddam Hussein bahwa tak ada rencana aksi untuk melakukan serangan itu.

Mubarak mendukung sanksi internasional sebagai respon, ia juga menjanjikan dukungan koalisi militer untuk melawan irak.

Presiden Mubarak dan Presiden Bush snrHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPresiden Mubarak bergabung dengan koalisi internasional yang menentang invasi Irak terhadap Kuwait. Para pengkritiknya menuduhnya menjadi boneka Amerika.

Saddam menyerukan penggulingan pemerintah Mesir, tetapi miliaran dolar utang dihapuskan oleh Amerika Serikat dan kreditor internasional lain.

Satu dekade kemudian, Mubarak tak memberi dukungan kepada invasi AS ke Irak tahun 2003. Ia mengatakan serangan ini akan menyebabkan munculnya "100 Bin Laden" dan menyatakan keyakinannya bahwa penyelesaian konflik antara Israel dan Palestina merupakan prioritas puncak di kawasan ini.

Ia terpilih kembali dalam referendum tanpa saingan tahun 1987, 1993, dan 1999. Ada pemilu multi partai tahun 2005, tetapi aparat keamanan internal dan sistem pemilu masih berada di bawah kendali Mubarak.

Mubarak sukses menarik investasi asing, tapi buahnya tak mencapai warga yang paling membutuhkan. Banyak laporan bahwa kekayaan keluarga Mubarak mencapai 50 juta paunsterling.

Demonstrasi Arab -Arab Spring

Bulan Januari 2011, Mesir meledak. Terjadi demonstrasi selama berminggu-minggu yang frustrasi oleh kemiskinan, korupsi, pengangguran dan pemerintahan militer.

Janji Mubarak untuk tak menghalangi pemily presiden dianggap tidak cukup. Sesudah protes selama 18 hari, ia mengumumkan pengunduran diri.

Protes terhadap Mubarak meledak di Mesir tahun 2011, dan ia dipaksa untuk turun.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionProtes terhadap Mubarak meledak di Mesir tahun 2011, dan ia dipaksa untuk turun.

Hanya empat bulan kemudian, Mubarak yang sedang sakit diperintahkan menghadiri pengadilan. Sembari berbaring di tempat tidur rumah sakit, ia menghadapi tuduhan korupsi dan pembunuhan yang direncakanan terhadap para demonstran.

Tim pembelanya menyatakan ia secara remis masih presiden Mesir sehingga tidak bisa diadili.

Bulan Juni 2012, Mubarak dihukum seumur hidup karena gagal menghalangi pembunuhan terhadap demonstran, tetapi ia bebas dari tuduhan lain.

Putusan ini memicu serangkaian protes di jalan-jalan di Kairo.

Hukumannya dibatalkan enam bulan kemudian dan diperintahkan pengadilan ulang. Ia dijadikan tahanan rumah di dalam rumah sakit militer di Kairo.

Mubarak muncul di balik jeruji besi dalam pengadilan tahun 2014.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMubarak muncul di balik jeruji besi dalam pengadilan tahun 2014.

Dalam ragkaian putusan pengadilan, Mubarak dinyatakan tak bersalah untuk tuduhan korupsi, tetapi bersalah untuk penggelapan.

Tahun 2017, pengadilan tertinggi Mesir akhirnya menyatakan ia bebas dari tuduhan membunuh demonstran, dan ia dibebaskan.

Hosni Mubarak tidak seflamboyan para pendahulunya, Nasser dan Sadat; tapi ia bersumpah akan terus mengabdi pada Mesir hingga napasnya terakhir.

Selama tiga dekade berkuasa, Mesir relatif menjadi negara yang stabil. Namun banyak yang ditahan tanpa pengadilan dan disiksa.

Secara internasional, Mubarak mempertahankan kebijakan luar negeri yang bertujuan meredam konflik regional.

Namun di dalam negeri, ia memerintah dengan tangan besi.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Duka Cita
 
  Sekda DKI Jakarta Saefullah Tutup Usia
  Sempat Tak Terurus Selama 5 Jam di RSUD Rujukan Covid19, Jurnalis Otomotif Meninggal Dunia
  Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak Meninggal Dunia: Negarawan dalam Perang dan Damai
  Gus Sholah Berpulang, Gus Hans: Beliau Sosok Kiai Bersahaja
  Aktris Senior Ade Irawan Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun
 
ads1

  Berita Utama
Anton Tabah Digdoyo: Kibarkan Bendera Setengah Tiang, PKI Nyata Dan Selalu Bikin Kacau NKRI!

Anis Byarwati: Gelontoran Dana Rp 20 Triliun Untuk Jiwasraya Mencederai Hati Rakyat

Banggar DPR Bersama Pemerintah Setujui RUU APBN TA 2021

KAMI Serukan Masyarakat Indonesia Turunkan Bendera Setengah Tiang Pada 30 September

 

ads2

  Berita Terkini
 
Said Iqbal Ancam Mogok Nasional dan Turunkan Jutaan Buruh Demo Gedung DPR Setiap Hari

Jadi Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas: Saya Menjunjung Tinggi Prinsip Kesetaraan Di Depan Hukum

Anton Tabah Digdoyo: Kibarkan Bendera Setengah Tiang, PKI Nyata Dan Selalu Bikin Kacau NKRI!

BNPB Perlu Tingkatkan Sosialisasi Penerapan Protokol Covid-19

Dekan UIN Nilai Film Jejak Khilafah di Nusantara Sebagai Propaganda yang Membabi Buta

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2