Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Teknologi
Mencapai Keuntungan Ganda Pertanian dengan Teknologi Tenaga Surya
2021-08-17 12:22:35
 

 
JERMAN, Berita HUKUM - Teknologi baru ramah lingkungan bakal merambah dunia pertanian: agrovoltaik. Inilah pertanian yang memanfaatkan teknologi tenaga surya. Terutama berkembang di Asia, sekarang mulai dikembangkan di Jerman.

Fabian Karthaus tumbuh dengan energi matahari "Ayah saya membangun sistem fotovoltaik pertama di atap gudang, dan Anda bisa melihatnya bekerja," katanya.

Petani berusia 33 tahun ini memiliki dua sistem Salah satunya untuk perkebunan beri. Lima tahun lalu, dia mengambil alih pertanian ayahnya dekat kota Paderborn. Tapi insinyur listrik yang biasanya bekerja sebagai manajer produk elektronik ini harus memperluas lahannya. "Saya tidak bisa memberi makan keluarga hanya dengan penghasilan dari 80 hektar kacang-kacangan, biji-bijian, lobak, dan tanaman jagung," katanya.

Panas dan kekeringan juga menyebabkan penurunan hasil pertanian yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. "Saya dan istri saya mulai berpikir tentang bagaimana kami dapat terus mengoperasikan pertanian ini," kata Fabian. Lahirlah ide untuk menanam buah beri di bawah atap surya l tembus cahaya.

"Kami memikirkan jenis beri mana yang cocok. Blueberry dan raspberry adalah tanaman hutan, jadi itu berfungsi dengan sangat baik," tambahnya.

Energi hijau untuk pertanian

Panen pertama dari bibit tahun lalu sangat baik. Tetapi Fabian Karthaus menduga bahwa modul-modulnya dapat meningkatkan hasil di bawah bayangan sinar matahari. Panas terik yang makin sering muncul sekarang memang makin menjadi masalah bagi tanaman, bahkan di Jerman yang dikenal lebih sering bercuaca dingin.

Modul suryanya yang dipasang Fabian Karthaus di atap rumah tanamannya mengurangi penguapan dan dengan demikian juga menghemat air. "Kami pernah mengukurnya. Penguapannya sekitar seperempat dibandingkan dengan tanaman di lapangan terbuka," jelasnya.

Tentu saja modul panel surya juga menghasilkan menyediakan listrik. Dengan daya 750 kilowatt, sistem ini bisa menghasilkan sekitar 640.000 kilowatt jam per tahun, yang setara dengan kebutuhan listrik 160 rumah tangga.

Karthaus menerima sekitar 6 sen euro, atau sekitar 1.000 rupiah untuk setiap kWh yang dia suplai ke dalam jaringan listrik umum. Sebagian dari tenaga surya dia gunakan sendiri untuk mengoperasikan sistem pendinginan dan pengeringannya.

"Ini adalah situasi win-win untuk semua orang. Kita dapat menghasilkan energi hijau secara lokal dan terdesentralisasi," kata Fabian Karthaus.

Potensi besar agrovoltaik

Di Jerman, metode pertanian tenaga surya ini berfungsi baik baik untuk buah-buahan lunak seperti apel, kentang, dan produk sayuran seperti tomat dan mentimun. Di wilayah lain, mungkin desain modul yang berbeda yang lebih cocok. Tapi potensi besar pertanian yang lazim disebut agrovoltaik ini sudah diakui di mana-mana, selain di Eropa ada juga di Mali, Gambia, dan Cile, tetapi sebagian besarnya berada di Asia.

Pabrik terbesar agrovoltaik di dunia, dengan kapasitas sekitar 1.000 megawatt dengan lahan mencakup 20 kilometer persegi ada di tepi Gurun Gobi di Cina. Di Jepang, sudah ada lebih dari 2.000 sistem agrovoltaik.

Fabian Karthaus berencana memperluas ladang suryanya di masa depan. Saat ini, lahan agrovoltaiknya masih di bawah 0,4 hektar. "Saya ingin memperluas ini sampai 8 atau 10 hektar," ujarnya. Tapi untuk itu, dia masih harus bersabar. Karena di Jerman, belum banyak petani yang melakukan agrovoltaik.(hp/rap/mw/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Teknologi
 
  Mencapai Keuntungan Ganda Pertanian dengan Teknologi Tenaga Surya
  Rekomendasi Teknologi Keamanan dan Informasi untuk Wujudkan Program Polri Presisi
  Peradilan Modern Berbasis Teknologi di PN Jakpus
  Ketua MPR: Generasi Muda Mesti Waspadai Ancaman terhadap Karakter Bangsa
  Nanoteknologi untuk Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia
 
ads1

  Berita Utama
Bareskrim Polri Rilis Pemulangan DPO Peredaran Gelap Narkoba 179 Kg Sabu dari Malaysia, AA Juga Ternyata Pedagang Ikan

Polri dan Bea Cukai Teken PKS Pengawasan Lalu Lintas Barang Masuk RI, Cegah Kejahatan Transnasional

Bentrok TKA China di Morowali, Komisi VII Minta Izin PT GNI Dicabut

Kuota Haji 2023 Sebanyak 221 Ribu, Tidak Ada Pembatasan Usia

 

ads2

  Berita Terkini
 
Polemik Data Beras, Komunikasi Publik Antar 'Stakeholder' Pemerintah Harus Terbangun Baik

Amerika Serikat Lacak 'Balon Pengintai' yang Diduga Milik China - Terbang di Mana Saja Balon Itu?

Foto-foto The Beatles yang Hilang Ditemukan, Sir Paul McCartney 'Dibanjiri Emosi'

Tujuh Isu Keumatan yang Dicetuskan Muhammadiyah Perlu Diperhatikan

Terdakwa Eddy Kasus Pemalsuan Divonis 1,3 Tahun Penjara, Pengacara Terdakwa Nyatakan Banding

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2