Tentara Turki dan pemberontak Suriah melancarkan operasi untuk menumpas milisi Kurdi dari kawasan perbatasan sejak pekan lalu setelah" /> BeritaHUKUM.com
Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Suriah
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Bersumpah Melanjutkan Operasi Militer di Suriah Utara
2019-10-17 05:53:26
 

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan operasi militer di Suriah utara untuk menciptakan situasi aman agar jutaan pengungsi Suriah yang berada di Turki bisa pulang kembali.(Foto: AFP)
 
SURIAH, Berita HUKUM - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bersumpah melanjutkan operasi militer di Suriah utara sampai terwujud apa yang ia sebut sebagai "zona aman".

Tentara Turki dan pemberontak Suriah melancarkan operasi untuk menumpas milisi Kurdi dari kawasan perbatasan sejak pekan lalu setelah tentara Amerika Serikat ditarik.

Pemerintah Turki menganggap milisi Kurdi sebagai kelompok teroris.

"Operasi ini berlanjut sampai kami bergerak di garis sepanjang 30-35 kilometer dari Manbij ke perbatasan Irak, seperti yang kami telah sampaikan. Tak akan ada keraguan ... tak ada kemungkinan lain (dari rencana kami)," kata Presiden Erdogan, saat berpidato di parlemen di Ankara, hari Rabu (16/10)

Presiden Erdogan juga mengatakan ia akan bertemu dengan wakil presiden Amerika Serikat, Mike Pence, hari Kamis (17/10), meski tadinya mengatakan tak akan menemuinya.

Dalam wawancara dengan Sky News hari Rabu, Erdogan mengatakan, "Saya berdiri tegak. Saya tak akan menemui mereka (Wapres Pence dan Menlu Mike Pompeo). Saya hanya berbicara jika Trump datang."

AS menjatuhkan sanksi terhadap dua kementerian Turki dan tiga pejabat senior pemerintah sebagai respons atas serangan militer ke Suriah utara.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan sanksi-sanksi yang diberikan "sangat kuat" dan punya dampak berat terhadap ekonomi Turki.

Menurut Wapres Pence, Presiden Trump telah menelepon Presiden Erdogan guna mendesak gencatan senjata sesegera mungkin.

Ras al-AinHak atas fotoAFP
Image captionKepulan asap di Kota Ras al-Ain, Suriah, dapat disaksikan dari wilayah Turki dekat perbatasan kedua negara, pada 15 Oktober.

Pada perkembangan lain, Rusia menyatakan tidak akan membiarkan bentrokan antara pasukan Turki dan Suriah, tatkala Turki melancarkan serangan di Suriah utara.

"Ini tidak bisa diterima ... dan karena itu kita tidak akan membiarkannya, tentu saja," kata utusan khusus Moskow untuk Suriah, Alexander Lavrentyev.

Penarikan pasukan AS dari wilayah, yang diumumkan pada pekan lalu, memberi Turki "lampu hijau", kritik para pengamat.

Rusia adalah sekutu militer utama pemimpin Suriah Bashar al-Assad.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan pasukannya, yang telah dikerahkan di Suriah sejak 2015, berpatroli di sepanjang "garis kontak" antara pasukan Suriah dan Turki.

Kemudian pada Selasa (15/10), Pentagon mengatakan jet-jet tempur F-15 dan helikopter tempur Apache telah dikerahkan dalam unjuk kekuatan terhadap pasukan yang disokong Turki, yang telah mendekati pasukan darat AS di dekat kota Ain Issa di Suriah.

Para pejuang yang didukung Turki telah melanggar perjanjian untuk tidak mengancam pasukan AS, kata seorang pejabat militer.

Laskar Suriah yang disokong Turki berada di kota Ayn al-Arus.Hak atas fotoAFP
Image captionLaskar Suriah yang disokong Turki berada di kota Ayn al-Arus.

Apa yang dikatakan utusan Rusia untuk Suriah?

Selama kunjungan ke Uni Emirat Arab, Lavrentyev menyebut serangan Turki "tidak bisa diterima".

Ia mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian sebelumnya, Turki hanya boleh masuk sejauh 5-10 km ke Suriah - jauh lebih kecil dari "zona aman" yang diinginkan Ankara - dan bahwa Turki tidak berhak untuk mengerahkan pasukannya di Suriah secara permanen.

Suriah melakukan kontak dengan Turki untuk menghindari konflik, ujarnya.

Lavrentyev juga menegaskan bahwa Rusia telah menjadi penengah untuk membantu membuat kesepakatan antara Kurdi dan Damaskus yang memungkinkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi menyerahkan wilayah kepada pasukan pemerintah Suriah dengan imbalan dukungan militer.

suriahHak atas fotoAFP
Image captionTentara pemerintah Suriah menyatakan telah tiba di kota-kota yang dikuasai Kurdi, termasuk Tal Tamer.

Bagaimana situasinya?

Serangan Turki, yang dimulai minggu lalu, bertujuan untuk mendepak Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi dari wilayah perbatasan. Turki menganggap milisi terbesar di SDF sebagai organisasi teroris.

Pemerintah Turki ingin menciptakan "zona aman" di wilayah itu, tempat mereka dapat memukimkan kembali pengungsi Suriah yang saat ini tinggal di Turki.

Banyak dari para pengungsi tersebut bukan orang Kurdi, dan pengamat memperingatkan langkah ini bisa mengarah pada pembersihan etnis penduduk Kurdi setempat.

Puluhan warga sipil telah tewas dalam operasi militer sejauh ini dan sedikitnya 160.000 telah meninggalkan daerah itu, menurut PBB.

Pasukan yang dipimpin Kurdi merupakan sekutu utama AS dalam perang melawan kelompok Negara Islam (ISIS) di Suriah. Mereka menyebut penarikan AS, yang mendahului tindakan Turki, sebagai "menusuk dari belakang".

Ada kekhawatiran destabilisasi bisa menyebabkan kebangkitan ISIS, karena ribuan mantan pejuang dan kerabat mereka ditahan di Suriah utara. Ratusan anggota keluarga ISIS dilaporkan telah melarikan diri dari salah satu kamp.

Map showing control of north-east Syria on 14 October 2019


Presentational white space

Apa yang terjadi di Suriah?

Menyusul kesepakatan dengan pasukan pimpinan Kurdi, tentara Suriah mulai bergerak menuju perbatasan pada hari Senin.

Kesepakatan itu dipandang sebagai dorongan bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad karena itu berarti pasukannya akan kembali ke wilayah timur laut untuk pertama kalinya sejak 2012.

Kala itu, tentara Suriah ditarik mundur untuk melawan pemberontak di tempat lain sehingga kemudian milisi Kurdi mengambil kendali.

Meskipun tidak setuju dengan upaya mereka untuk membuat pemerintahan sendiri, Assad tidak berusaha merebut kembali wilayah itu, terutama setelah Kurdi menjadi mitra dalam koalisi melawan ISIS bersama pasukan AS.

Selain melawan ISIS, suku Kurdi sangat penting bagi AS dalam membatasi pengaruh saingannya, Rusia dan Iran, serta mempertahankan pengaruhnya di lapangan.

Pasukan pemerintah Suriah telah memasuki kota strategis Manbij, yang terletak di dalam wilayah tempat Turki ingin menciptakan "zona aman". Pasukan Turki dan laskar anti-pemerintah pro-Turki telah berkumpul di dekat kota tersebut.

Untuk saat ini, pasukan Suriah tidak akan dikerahkan antara Tal Abyad dan Ras al-Ain, tempat Turki telah memfokuskan upayanya.

Mourners attend a funeral, for Kurdish political leader Hevrin Khalaf and others in the Kurdish town of Derik on 13 October 2019.Hak atas fotoAFP
Image captionDozens have been killed since the assault against Kurdish forces in Syria began on Wednesday

Mengapa Manbij begitu penting?

Turki telah mengancam kota itu sejak SDF yang dipimpin Kurdi membebaskannya dari kontrol ISIS pada 2016. Manbij terletak dekat dengan perbatasan, dan Turki menganggap milisi Kurdi di Suriah sebagai organisasi teroris.

Selama dua tahun terakhir, ratusan tentara AS terlihat berpatroli di jalan-jalan kota.

Pada Maret 2017, Pentagon mengerahkan tentara ke daerah tersebut - dan tidak seperti di bagian lain Suriah, mereka mengibarkan bendera AS dari kendaraan untuk secara terang-terangan menghalangi operasi Turki dan meyakinkan kedua belah pihak.

Patroli itu begitu terang-terangan sehingga seorang pengebom bunuh diri menewaskan empat tentara AS di Manbij awal tahun ini.

Namun pengerahan pasukan itu akan segera berakhir.

Pada hari Selasa kemarin, juru bicara militer AS Kolonel Myles B Caggins menulis di Twitter, "Pasukan koalisi melakukan penarikan yang disengaja dari timur laut Suriah. Kami berada di luar Manbij."

Seorang perempuan Suriah dari suku Kurdi menangis saat pemakaman lima laskar Pasukan Demokratik Suriah di Ras al-Ain di sepanjang perbatasan, pada 14 Oktober 2019.Hak atas fotoAFP
Image captionSeorang perempuan Suriah dari suku Kurdi menangis saat pemakaman lima laskar Pasukan Demokratik Suriah di Ras al-Ain.

Pasukan pemerintah Suriah dan sekutu mereka dari Rusia segera bergerak masuk.

Sebuah video yang diunggah di Twitter menunjukkan seorang wartawan perang Rusia di dalam bekas kamp militer AS, dengan peralatan yang tampaknya ditinggalkan begitu saja ketika mereka meninggalkan daerah itu dengan terburu-buru.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, pasukan pemerintah Suriah kini telah menguasai lebih dari 1.000 kilometer persegi di sekitar Manbij.

Foto-foto dari tempat kejadian menunjukkan kendaraan militer yang mengibarkan bendera Suriah dan Rusia memasuki kota.

Ini menandai perubahan dramatis dalam perang saudara di Suriah, hanya lebih dari seminggu setelah Presiden Trump mengumumkan penarikan pasukan AS dari perbatasan.

Bagaimana situasi kemanusiaan di Suriah?

Badan amal medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) telah mengumumkan penarikan staf dan operasi di Suriah timur laut.

"Perkembangan terakhir hanya meningkatkan kebutuhan akan bantuan kemanusiaan, namun tidak mungkin untuk memberikannya dalam situasi saat ini yang tidak aman," kata manajer darurat MSF Robert Onus.

Dengan berat MSF mengambil keputusan sulit untuk menangguhkan sebagian besar kegiatan kami dan mengevakuasi staf internasional kami dari timur laut Suriah."

Sementara, pasukan Kurdi di Suriah mengatakan militer negara tersebut telah setuju untuk membantu menghadang serangan Turki terhadap mereka.

Kantor berita pemerintah Suriah sebelumnya melaporkan bahwa pasukan pemerintah telah dikerahkan ke perbatasan utara.

Langkah ini menyusul keputusan AS untuk menarik semua pasukannya yang tersisa dari wilayah tersebut karena situasi di sana yang "tidak dapat dipertahankan".

Serangan Turki, yang dimulai pada pekan lalu, bertujuan mengusir pasukan Kurdi dari sepanjang wilayah perbatasan.

Daerah-daerah di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, sekutu utama AS di Suriah utara, dibombardir selama akhir pekan. Turki telah berhasil menduduki dua kota perbatasan utama.

Puluhan orang tewas dalam serangan, terdiri dari warga sipil dan petempur dari kedua sisi.

Dalam perkembangan terpisah pada Minggu (13/10), petinggi Kurdi mengatakan hampir 800 kerabat anggota ISIS berkewarganegaraan asing melarikan diri dari Ain Issa, sebuah kamp di utara, ketika pertempuran berkecamuk di dekatnya.

Serangan Turki dan penarikan AS telah menimbulkan kemarahan internasional, karena SDF adalah sekutu utama Barat dalam pertempuran melawan ISIS di Suriah.

Tapi Turki memandang kelompok-kelompok Kurdi dalam pasukan tersebut sebagai teroris dan menyatakan ingin mengusir mereka dari "zona aman" yang menjangkau sejauh 30km ke wilayah Suriah.

Turki juga berencana memukimkan kembali lebih dari tiga juta pengungsi Suriah yang saat ini berada di Turki. Banyak dari mereka bukan orang Kurdi. Para pengkritik memperingatkan langkah bisa mengarah pada pembersihan etnis penduduk Kurdi setempat.

Apa isi kesepakatan itu?

Pemerintahan yang dipimpin suku Kurdi di Suriah utara mengatakan tentara Suriah akan dikerahkan di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari kesepakatan.

Penempatan ini akan membantu SDF dalam "menghadapi agresi ini dan membebaskan daerah-daerah yang telah dimasuki tentara Turki dan tentara bayaran", sebut pemerintahan yang dipimpin suku Kurdi dalam sebuah pernyataan.

Langkah tersebut juga "membuka jalan untuk membebaskan sisa kota-kota Suriah yang diduduki oleh tentara Turki seperti Afrin", tambahnya.

Pasukan Turki dan pemberontak Suriah yang pro-Turki mengusir pejuang Kurdi dari Afrin pada tahun 2018 silam setelah menjalankan operasi selama dua bulan.

suriah


Presentational white space

Kesepakatan itu menandai perubahan signifikan dalam aliansi Kurdi, setelah kehilangan perlindungan militer AS di wilayah tersebut.

Belum diketahui apa komitmen pemerintah Suriah.

Namun kepala SDF, Mazloum Abdi, mengakui "akan ada kompromi yang menyakitkan" dengan pemerintah Assad dan sekutu Rusia-nya, dalam sebuah artikel untuk majalah.

"Kami tidak percaya janji mereka. Sejujurnya, sulit untuk mengetahui siapa yang harus dipercaya," tulisnya.

"Tetapi jika kami harus memilih antara kompromi dan genosida rakyat kami, kami pasti akan memilih kehidupan untuk rakyat kami."

Kesepakatan itu diteken menyusul langkah mengejutkan Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk menarik puluhan tentara dari di timur laut Suriah, yang secara efektif membuka jalan bagi operasi Turki untuk menyerang tentara Kurdi.

Pada saat itu, SDF menyebut langkah tersebut "tikaman di belakang".


 


turki


Hak atas foto



GETTY IMAGES




Image caption


Turki telah mengerahkan pasukannya ke Suriah bagian utara.

Situasi yang 'tidak dapat dipertahankan'

Menteri Pertahanan AS Mark Esper sebelumnya mengumumkan bahwa Pentagon memindahkan hingga 1.000 tentara dari Suriah utara setelah mengetahui bahwa Turki merangsek lebih dalam ke Suriah daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Menggambarkan situasi di sana sebagai "tidak dapat dipertahankan", Esper mengatakan SDF telah "berusaha membuat kesepakatan" dengan pemerintah Suriah dan Rusia untuk menghadang serangan Turki.

Ini, lanjutnya, akan membuat pasukan AS terjebak di antara "dua pasukan yang saling bermusuhan".

Beberapa jam setelah komentar Esper, Suriah mengatakan pihaknya mengerahkan pasukan ke utara untuk "menghadapi agresi Turki.(BBC/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Suriah
 
  Konflik Suriah: Turki dan Rusia Sepakat Umumkan Gencatan Senjata 'Bersejarah'
  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Bersumpah Melanjutkan Operasi Militer di Suriah Utara
  Serangan Turki di Suriah, Jumlah Korban Meninggal dan Pengungsi Melonjak
  Erdogan: Pasukan Turki Lancarkan Serangan di Suriah untuk Dirikan 'Zona Aman'
  Ikatan Alumni Suriah Harap Pemilu Damai Tanpa Hoaks
 
ads1

  Berita Utama
Komisi IX Upayakan Iuran BPJS Kesehatan Peserta Mandiri Tidak Naik

Jelang Munas X Partai Golkar, Bamsoet Cooling Down agar Pendukungnya Tak Digeser dan Disingkirkan

Mafia Pangan Harus Diberantas

Ketum Anis Matta Sebut Partai Gelora Adalah Partai Islam dan Nasionalis

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bos LJ Hotel Ternyata DPO PoldaSu Kasus Penipuan, Diminta Segera Ditangkap

Pemohon Uji UU KPK di MK Sampaikan Perbaikan Permohonan

Kapolda Imbau Masyarakat Gorontalo Tidak Perlu Hawatir Pasca Bom Bunuh Diri di Medan

Wabah Sintingisme

Bamsoet: Negara Demokrasi Kuat Jika Partai Politiknya Kuat

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2