Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Rupiah
Rupiah Terus Anjlok, Defisit Anggaran Melebar dan Kasus Corona Bertambah
2020-03-19 05:54:36
 

Ilustrasi.(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpuruk pada hari Rabu (18/3). Mengutip perdagangan Financial Times, Rabu (18/3), rupiah terpuruk di Rp 15.187,84. Sementara itu, perbankan tanah air sudah menjual dolar AS pada kisaran Rp 15.400 - Rp 15.500. Kinerja rupiah hari ini tercatat sebagai rekor terburuknya sejak Juli 1998.

Mengutip data Trading Economics, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai rekor terendahnya di posisi Rp 14.650 pada 1 Juni 1998. Sementara data bulanan di investing.com, posisi terburuk nilai tukar rupiah berada pada level Rp 16.950.

Posisi itu terjadi pada bulan Juni 1998. Kemudian pada bulan Juli 1998, rekor tertinggi kurs dolar AS berada di level Rp 15.650 dan rata-rata bulanan sebesar Rp 13.150. Kurs rupiah saat itu kemudian menguat setelah bulan Juli 1998.

Rupiah kala itu terpukul dari Rp 2.341 per dolar AS pada 2 Juni 1997, kemudian melemah tajam dalam tempo 1 tahun karena krisis ekonomi dan pergantian pemerintahan. Hari ini, rupiah terpuruk akibat sentimen global, yakni dampak virus corona.

Sementara, pelemahan terjadi setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar. Di satu sisi, kasus virus corona di Tanah Air bertambah menjadi 227 orang. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), mata uang Garuda juga tercatat anjlok 140 poin ke level Rp 15.223 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, data realisasi APBN 2020 menjadi sentimen negatif bagi pasar, sehingga rupiah melemah. "Kinerja pelaksanaan APBN 2020 relatif lambat," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Rabu (18/3). Pendapatan negara hanya Rp 216,6 triliun per bulan lalu atau turun 0,5% dibanding periode sama tahun lalu. Padahal, belanja negara mencapai Rp 279,4 triliun atau tumbuh 2,8% secara tahunan.

Alhasil, defisit anggaran meningkat 0,34% dibanding periode sama tahun lalu, dari Rp 54 triliun menjadi Rp 62,8 triliun pada Februari. Defisit anggaran itu setara dengan 0,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain merespons negatif realisasi APBN, investor mengkhawatirkan penyebaran virus corona di Tanah Air. Pemerintah baru saja melaporkan bahwa jumlah kasus positif covid-19 bertambah menjadi 227 orang.

Belum lagi, jumlah korban meninggal dunia akibat virus corona mencapai 19 orang. "Kemungkinan akan terus bertambah," kata Ibrahim.

Menurut dia, pasar melihat Indonesia masih berjuang melawan pandemi corona. Sedangkan, negara-negara lain sudah berhasil menahan virus. Hal ini membuktikan bahwa kesiapan pemerintah saat ini sedang di uji.

Pasar akan memantau upaya pemerintah menahan penyebaran virus corona. "Hal ini menyebabkan gelombang arus modal asing kembali keluar dari pasar baik saham maupun obligasi," kata dia.
Pada perdagangan besok, ia memperkirakan rupiah masih akan melemah menjadi di kisaran Rp 15.190-Rp 15.320 per dolar AS. Walaupun ada kemungkinan Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan besok.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia melemah. Dikutip dari Bloomberg, dolar Hong Kong turun 0,08%, dolar Singapura 0,57%, dolar Taiwan 0,12%, won Korea Selatan 0,16%, rupee India 0,16%, yuan Tiongkok 0,27%, ringgit Malaysia 0,51%, dan baht Thailand 0,98%.

Hanya yen Jepang dan peso Filipina yang menguat, masing-masing naik 0,28% dan 1,53%.(dbs/kumparan.com/bisnis.com/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Rupiah
 
  Rupiah Terus Anjlok, Defisit Anggaran Melebar dan Kasus Corona Bertambah
  Tekapar 127 Poin, Rupiah Menjadi Mata Uang Paling Lemah di Asia
  Kritik dan Tertawai Cetak Uang Braille, TKN Jokowi - Ma'ruf Sangat Below Standar Pengetahuan
  IPI: Ada 2 Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar
  Dampak Depresiasi Rupiah Berpotensi Besar Berujung PHK
 
ads1

  Berita Utama
HNW: Atasi Pandemi Covid-19 dengan Karantina Wilayah, Bukan dengan Rencana Darurat Sipil

Polda Metro Tangkap Pria Penipu yang Pakai Akun Facebook Palsu dengan Profil Wanita

Kasus Kematian Corona Covid-19 Indonesia Tertinggi di Dunia

Polisi Ungkap 3 Kasus Penyebaran Hoax terkait Wabah Virus Covid-19

 

ads2

  Berita Terkini
 
Hadiri Resepsi Kompol Fahrul Sudiana di Tengah Pencegahan Covid-19, Relawan Jokowi Ini Minta Wakapolri Dicopot

Langgar Maklumat Kapolri Pencegahan Covid-19, Kapolsek Metro Kembangan Kompol Fahrul Sudiana Dicopot dan Dimutasi

HNW: Atasi Pandemi Covid-19 dengan Karantina Wilayah, Bukan dengan Rencana Darurat Sipil

Hidayat Nur Wahid: Agar Pemerintah Perhatikam Saran MUI, Prioritaskan Penanganan Covid-19

Implementasi Keppres Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Masih Membingungkan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2