Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Demokrasi
Tutup Gelaran BDF, Meutya Hafid Dukung Indonesia Jadi Influencer Demokrasi
2019-12-13 09:54:05
 

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid.(Foto: Azka/mr)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar harus mampu menjadi influencer bagi negara-negara lain, untuk bisa terus melakukan ketahanan demokrasinya. Dalam gelaran Bali Democracy Forum (BDF) ke-12 yang ditutup pada akhir pekan lalu, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid berkesempatan menyampaikan pidato penutupannya yang mendorong peran bangsa dan negara Indonesia dalam kancah internasional.

"Kita tidak menjadi follower, tetapi kita menjadi negara terdepan dalam merangkul dan mengajak negara-negara lain untuk melakukan ketahanan demokrasi karena, demokrasi itu banyak tantangannya. Ada banyak negara-negara yang mengalami set back atau kemunduran dalam demokrasi, kita sebagai negara yang menjunjung demokrasi harus menjadi yang terdepan," ungkap politisi Partai Golkar ini kepada Parlementaria, baru baru ini.

Mengusng tema 'Demokrasi dan Inklusivitas', Meutya mendorong terciptanya demokrasi yang inklusif khususnya bagi perempuan dan anak muda. Menurutnya, perempuan baru bisa mendapatkan haknya untuk mendapat kesetaraan apabila negara memiliki pandangan bahwa demokrasi itu perlu melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan.

"Perempuan harus dilibatkan. Karena menurut studi-studi, bahwa pelibatan perempuan dalam demokrasi bisa menjadi resilience, atau pertahanan bagi demokrasi itu sendiri. Selain memang itu hak-nya perempuan, hak-nya anak-anak muda untuk memang diajak terlibat dalam demokrasi," imbuh legislator dapil Sumatera Utara I ini.

Keterlibatan perempuan dalam demokrasi tentu tidak bisa terlepas dari peran perempuan dan politik. Meutya mendorong bagaimana perempuan bisa mengisi ruang-ruang politik atau jabatan-jabatan politik. Dirinya mengapreasiasi, DPR RI dalam periode ini telah memiliki banyak peran perempuan sebagai upaya menjaga demokrasi di Indonesia berjalan secara inklusif dan merangkul semua kalangan.

"Tidak ada demokrasi yang bisa stand alone, tidak ada demokrasi yang ekslusif terhadap suatu kelompok kepentingan. Ke depannya kita mendorong lebih banyak lagi, makanya BDF kemarin bukan hanya membicarakan perempuan di politik tetapi juga bagaimana pendidikan bagi perempuan, dan bagaimana perempuan dilibatkan dalam keputusan penting dan dalam kebijakan publik," tutup Meutya.(alw/sf/DPR/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Demokrasi
 
  Indeks Demokrasi 2020: Indonesia Catat Skor Terendah pada 14 Tahun Terakhir
  Usai Baca Buku Bung Hatta Kritik Otoritarian Soekarno, Fadli Zon: Mirip Pemerintahan Sekarang
  Trend Asia: Kualitas Demokrasi Menurun, Pemerintah Antisains
  Pemidanaan Politik Yudi Syamhudi Suyuti dan Ujian Demokrasi di Indonesia
  Jika Kritik Terancam, Demokrasi Akan Tumbang
 
ads1

  Berita Utama
AHY Tempuh Jalur Hukum Terkait Penyelengaraan KLB Deliserdang

Varian Baru Covid-19 Masuk Indonesia, Pimpinan DPR Minta Pengawasan Ketat Bandara

Cetak Sejarah, Akhirnya Kyai Said Aqil PBNU Dapat Jatah Komisaris BUMN

Pembukaan Investasi Miras Ancam Kehidupan Rumah Tangga Keluarga Indonesia

 

ads2

  Berita Terkini
 
Suap Pajak Saat Pandemi, Anis: Rapor Merah dan Kerja Berat Pemerintah

Deteksi Dini Kejahatan Siber, Baintelkam Polri - XL Axiata Tingkatkan Sinergitas

PKS: Pak Jokowi Katanya Benci Produk Asing, Kok Impor Beras 1.5 Juta Ton?

Komisi III Dukung Pemerintah Segera Sahkan RUU KUHP

KY Gandeng KPK untuk Seleksi Calon Hakim Agung

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2