Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Film
'Prenjak' dari Yogyakarta Menang Festival De Cannes, Indonesia Catat Sejarah
2016-05-21 07:13:27
 

Wregas Bhanuteja tampil dengan baju Jawa dalam upacara penyerahan hadiah.(Foto: Istimewa)
 
PARIS, Berita HUKUM - Film 'Prenjak' (In the Year of Monkey) karya sutradara dari Yogyakarta, Wregas Bhanuteja, terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes.

Tim 'Prenjak' yang datang di Cannes berkekuatan lima orang termasuk sutradara dan penulis cerita Wregas Bhanuteja, sontak melonjak dan berpelukan ketika pembawa acara mengumumkan kemenangan mereka.

'"Sungguh tak disangka," kata Wregas, 22 tahun, kegirangan.

"Saya merasa bahwa ini adalah energi yang sangat besar sekali bagi saya. Saya berharap agar api ini tetap menyala. Dan ketika saya pulang ke indonesi, saya akan mulai membuat film lagi dan lagi," kata Wregas kepada BBC Indonesia.

'Prenjak memenangkan Le Prix Decouverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompetisi.

Ke 10 finalis itu disaring dari 1500 film pendek yang dikirim ke panitia festival.
Direktur Artistik, Charles Tesson, memuji Prenjak sedari awal.

"Sebuah film dengan kedalaman puitik yang mengejutkan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja, adalah film yang kelam dan bengal, tentang bagaimana mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api," pujinya.

Puisi gelap dan nakal -dan lebih dari itu: kurang ajar, yang dimaksudkan, adalah kisah yang bertumpu pada Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis di sebuah desa, yang dalam putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 perbatang, untuk dinyalakan dan digunakan mengintip vaginanya.

Film sepanjang 12 menit ini adalah film ketiga Wregas yang berlaga di festival internasional, setelah 'Lembusura' di Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016.

Prenjak mengalahkan sembilan film unggulan lain: Arnie karya Rina B. Tsou (Taiwan - Filipina), Ascensao (Pedro Peralta, Portugal), Campo de viboras (Cristele Alves Meira, Portugal), Delusion Is Redemption to Those in Distress (O Delirio e redencao dos aflitos, Fellipe Fernandes, Brasil), L'Enfance d'un chef (Antoine de Bary, Prancis), Limbo (Konstantina Kotzamani, Yunani) Oh what a wonderful feeling (Francois Jaros, KCanada), Le Soldat vierge (Erwan Le Duc, Prancis), dan Superbia (Luca Toth, Hungaria).

La Semaine de La Critique adalah salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei.
Film Indonesia yang pernah dipilih di sini adalah Tjut Nja' Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014).

Satunya lagi adalah Quinzaine des Realisateurs atau Directors Fortnight.
Pekan Kritikus mulai diselenggarakan tahun 1962 oleh serikat kritikus dan jurnalis Prancis, yang menganggap Festival Cannes sudah terlalu mapan dan berorientasi hanya pada nama-nama besar dan sudah mengabaikan pencapaian artistik. Beberapa tahun kemudian langkah ini diikuti oleh serikat sutradara Prancis yang menyelenggarakan Quinzaine des Realisateurs.

Kedua festival independen ini didedikasikan pada karya-karya inovatif, diselenggarakan berbarengan dengan dan bahkan cenderung diintegrasikan dengan Festival Film Internasional Cannes. Film-film yang berkompetisi di La Semaine dan Quinzaine juga berkompetisi untuk kategori-kategori tertentu Festival Cannes, seperti Camera d'or untuk film pertama terbaik.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Film
 
  Hayya 2: Dream, Hope & Reality, Film tentang Isu Kemanusiaan dan Kesehatan Mental
  Sinopsis Film Cita-citaku Setinggi Balon Karya LSBO PP Muhamadiyah Bersama NA, Malvocs, dan Mixpro
  Hiburan Jelang Lebaran, Nonton Bareng Film Jejak Langkah Dua Ulama
  Saksikan Gala Premiere Sisterlillah, Presiden PKS: Ini Kado Istimewa bagi Insan Film
  'Rekah' Film Karya Anak Muhammadiyah yang Jadi Juara Kompetisi Film Nasional
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2