" /> BeritaHUKUM.com
Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
FAM
'Raja Penyair' Pinto Janir dan Leon Agusta Pukau Penonton
Wednesday 01 Jan 2014 23:48:32
 

Sejumlah penyair membaca puisi dalam Konser Puisi Akhir Tahun yang digelar FAM Wilayah Sumatera Barat, Selasa (31/12), malam di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Barat.(Foto: Istimewa)
 
PADANG, Berita HUKUM - Penampilan penyair Pinto Janir yang berjuluk "Si Raja Penyair" itu sukses memukau para penonton "Konser Puisi Akulah Sang Raja" yang digelar Forum Aktif Menulis (FAM) Wilayah Sumatera Barat di Gedung Utama Taman Budaya Padang persis di ujung tahun 2013, Selasa (31/12), malam.

Diiringi musik tradisi dari Indo Jati, “Sang Raja” yang “ditantang” oleh sejumlah penyair muda itu, juga disemarakkan oleh pembacaan puisi beberapa pemuka penyair nasional seperti Leon Agusta, mantan pembaca puisi terbaik Indonesia Harmen Suhasril, penyair “Si Maling Kondang” Syarifuddin Arifin, pemuka teater Rizal Tanjung, budayawan Emral Djamal, penyair Riau Surya Hadi “Murdok”, penyair Aceh Sulaiman Juned, dan Teuku Afifuddin.

Selain itu, dari FAM Wilayah Sumatera Barat ikut membaca puisi Denni Meilizon (Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat), Muhammad Fadli, Desri Erniza, Befaldo Angga, Refdinal Muzan, Amika AN, Hasan Asyhari, dan Irwan Hasan. Sementara Pegiat FAM Indonesia Muhammad Subhan didaulat membaca pidato akhir tahun yang mengawali konser puisi itu.

Acara yang diprotokoli oleh Andre dimulai dengan membacakan narasi tulisan Pinto janir tentang “Mengapa Aku Berpuisi” yang dibacakan bersama-sama oleh Pinto dan Syarifuddin Arifin dalam ilustrasi pantomim dari Komunitas Seni Nan Tumpah pimpinan Mahatma Muhammad.

Selanjutnya, Pinto Janir membawakan puisi “Akulah Sang Raja” yang diiringi musik tradisi dari Indojati pimpinan Papi Monon. Dalam “menghadang” belasan penyair, Pinto Janir membacakan kumpulan puisinya “Akulah Sang Raja” antara lain puisi “Keparat Berlagak Malaikat”, “Negeri Sarang Pelawak”, “Negeri Kata-Kata”, “Sim Salabim”, “PLN Bukan Matahari Ia Bulan”, dan beberapa lainnya.

“Pinto, puisi, musik, teater dan gerak menjadi satu. Saya suka dengan cara baru Pinto yang membawakan puisi dalam hentakan musik yang garang. Itu baru namanya konser puisi. Dalam blues ia berpuisi, dalam rock’n roll ia berpuisi. Gila. Ia selalu total dalam berpuisi. Ia membawa warna baru dalam pembacaan puisi di tanah air,” kata Armen Suhasril, pembaca puisi yang menghidupkan nilai teater di panggung puisi tanah air.

Konser puisi itu makin sempurna ketika penyair dan budayawan legendaris Leon Agusta tampil membacakan puisi “Huesca” karya penyair John S, terjemahan Chairil Anwar. Penyair Syarifuddin menghadang “Raja” dengan puisi “Maling Kondang”. Lalu Refdinal Muzan menghentak dalam puisi “Bacakanlah Kekasih”.

Denni Meilizon, penyair “Rembang Petang” menghadang “Raja” dengan puisi “Abal-Abal”. “Menulis adalah mainan orang cerdas. Puisi adalah lembaga pelatihan perasaan. Kedengkian, kekotoran tersikat oleh kekuatan puisi. Puisi adalah jiwa, puisi adalah hati, puisi adalah lapisan keindahan di ruang sebelah kanan dari otak kita. Bahwa, puisi adalah bahasa sastra yang paling jujur. Bilamana kedustaan dan kejahatan berserak di atas tanah kita, itu sebuah tanda bahwa puisi telah ditinggalkan dan para pujangga telah terlemparkan!” ujar Pinto Janir yang kini sedang gencar melakukan Gerakan Sastra “Ayo Menjadi Penyair” dengan berkeliling ke mana-mana untuk melakukan “kampanye” puisi di tengah kehidupan yang gelisah.

Mengapa Konser Puisi Akulah Sang Raja digelar di akhir tahun? Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat Denni Meilizon mengatakan, “Harapan kita, tahun 2014 bangsa ini lebih memperhatikan pembangunan bidang kebudayaan, khususnya seni dalam ruang sastra khususnya puisi. Bila pemerintah peka terhadap pembangunan kebudayaan, niscaya segala kebimbangan, kerisauan di tengah kehidupan sosial akan terjawab,” katanya.

Sementara menurut Pinto Janir, membangun kebudayaan, membangun kesenian, berarti para seniman (penyair) sedang berupaya melepaskan diri dari segala derita yang menjerat. “Kebudayaan menebarkan efek di berbagai rupa kehidupan kita!” tambahnya.

Kantong Sastra

Sementara, Pegiat FAM Indonesia Muhammad Subhan dalam pidatonya malam itu menyinggung soal bertumbuh-suburnya kantong-kantong sastra di Sumatera Barat. Dia mencermati, setidaknya sepuluh tahun terakhir, kantong-kantong sastra semakin banyak muncul di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan di tengah masyarakat umum lainnya.

“Pertumbuhan kantong-kantong sastra ini sangat luar biasa dan pantas diberikan apresiasi. Anggotanya, bukan saja aktif berkarya, tetapi juga berprestasi dan berkegiatan,” ujarnya.

Dengan banyaknya kantong-kantong sastra itu, jelas Muhammad Subhan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat lewat instansi terkait sebaiknya melakukan pemetaan (pendataan). Yang tak kalah penting dari itu, adalah memberikan perhatian dalam bentuk anggaran untuk operasional kegiatan para pegiat kantong-kantong sastra itu.

“Kita tahu, bahwa untuk pementasan teater atau musikalisasi puisi misalnya, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selama ini, teman-teman kita itu memproduksi karya mereka dengan ‘semangat 45’. Artinya, mereka merogoh isi kantong sendiri atau mengumpulkan dana secara swadaya. Tujuannya satu, agar seni dan berkesenian tetap tumbuh-membumi di negeri ini,” katanya.

Hidupnya kantong-kantong sastra tersebut, tambah Muhammad Subhan, dengan sendirinya membantu tugas-tugas pemerintah daerah, khususnya dalam rangka menumbuhkan minat membaca buku dan menulis di kalangan generasi muda, selain dapat membentuk karakter.

“Kantong-kantong sastra itu juga menjadi lembaga kaderisasi calon-calon sastrawan dan seniman, yang kelak, turut serta membangun kebudayaan dan menciptakan masyarakat berbudaya,” tambahnya.(rls/fam/nur/REL/bhc/sya)



 
   Berita Terkait > FAM
 
  Ratusan Siswa dan Guru Tonton Film 'Ampek Sen'
  Menggali Ide Novel Lewat Pengalaman Pribadi
  Rahimah Ib Pimpin Kepengurusan FAM Medan
  Dua Tahun Berkiprah, FAM Publishing Terbitkan Seratus Buku
  FAM Jabodetabek Gelar Antologi Cerpen Bertema Pariwisata
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2