Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Amerika Serikat
Akui Bertanggung Jawab, Tapi AS Enggan Minta Maaf
Friday 23 Dec 2011 00:24:08
 

Pasukan Nato menunggu sebuah helikopter mendarat yang akan digunakan untuk patroli dan serangan udara terhadap tempat-tempat persembunyian gerilyawan Talibat (Foto: Muslimdaily.com)
 
Washington (BeritaHUKUM.com) – Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengakui ikut bersalah dalam serangan udara di perbatasan Afghanistan-Pakistan pada November lalu, yang menewaskan 24 tentara Pakistan.

Penyelidikan militer AS menyimpulkan bahwa tindakan tentara AS bisa dibenarkan. Pasalnya, hal itu untuk membela diri. Tapi karena lemahnya koordinasi dengan militer Pakistan, insiden itu terjadi. Demikian pernyataan resmi Departemen Pertahanan AS, Kamis (22/12).

Mereka juga menyebutkan bahwa minimnya rasa saling percaya antara militer AS dan Pakistan memainkan peran penting atas insiden ini."Kesenjangan informasi tentang operasi dan penempatan unit-unit dari kedua pihak menyebabkan terjadinya kasus yang sangat tragis ini," kata pernyataan Dephan AS.

Namun, Dephan AS mengklaim tidak ada unsur kesengajaan sama sekali untuk menjadikan tentara atau fasilitas militer Pakistan sebagai sasaran dalam serangan udara. Hasil laporan yang didapatkan koran AS the Wall Street Journal menyebutkan, tentara AS melakukan sejumlah kesalahan dan memberi informasi yang tidak akurat kepada militer Pakistan.

Sumber-sumber militer mengatakan, sebelum operasi dilakukan para komandan AS dan Afghanistan mengambil kesimpulan yang keliru bahwa tidak ada tentara Pakistan di lokasi perbatasan yang akan diserang.

Sementara penyelidikan NATO yang juga diumumkan pada hari yang sama, menyatakan bahwa pasukan NATO dan militer sama-sama bersalah dan kedua pihak gagal melakukan koordinasi dengan rapi, sebelum, selama, dan sesudah operasi dilakukan.

Atas serangan ini, Islamabad marah dan menutup perbatasan dengan Afghanistan. Penutupan ini membuat pasok bagi tentara NATO melalui darat terganggu. Pemerintah Pakistan menuntut Presiden Obama meminta maaf. Tapi Obama yang menelepon Presiden Asif Ali Zardari, hanya menyampaikan duka cita, tapi tidak mau meminta maaf. AS hanya menyesalkan insiden tersebut.(bbc/sya)



 
   Berita Terkait > Amerika Serikat
 
  DPR AS Lakukan Pemungutan Suara untuk Makzulkan Biden
  Amerika Serikat Lacak 'Balon Pengintai' yang Diduga Milik China - Terbang di Mana Saja Balon Itu?
  Joe Biden akan Mengundang Para Pemimpin Indo-Pasifik ke Gedung Putih
  AS Uji Rudal Hipersonik Mach 5, Lima Kali Kecepatan Suara
  Sensus 2020: Masa Depan Populasi AS Bercorak Hispanik
 
ads1

  Berita Utama
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat

Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG

4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua

 

ads2

  Berita Terkini
 
Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)

Kapal induk pertama Indonesia segera dikirim dari Italia, persiapan dipercepat

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2