KOREA SELATAN, Berita HUKUM – Bukti dari tayangan CCTV mengenai Insiden pembakaran seekor anjing menuai kemarahan publik Korea Selatan (Korsel). Bahkan sebuah kelompok aktivis hewan menawarkan imbalan 3 juta won atau setara Rp 27 juta, bagi mereka yang mampu menangkap pelaku pembakaran tersebut.
Sebelumnya aksi-aksi demonstrasi para aktivis pecinta hewan ini juga telah pernah ditayangkan di televisi nasional, puluhan aktivis tersebut mengecam tindakan kekerasan kepada hewan, dan mengutuk tindakan menjadikan anjing dan kucing sebagai menu makanan.
Selain itu aksi keji pembakaran anjing terekam dalam CCTV yang kemudian ditayangkan di sejumlah televisi nasional. Dalam tayangan tersebut, terlihat seekor anjing dalam kondisi terbakar tengah berlari di antara mobil-mobil yang terparkir.
Tayangan tersebut langsung memicu perdebatan publik dan kemarahan masyarakat, terutama melalui situs jejaring sosial. Demikian seperti dilansir AFP, Rabu (23/1).
Disebutkan juga bahwa anjing tersebut kemudian berlari ke sebuah garasi di lingkungan itu, hingga akhirnya menyulut kebakaran di salah satu rumah di kawasan Yongin, Seoul sebelah selatan, pada Minggu (20/1).
Aksi keji ini kemudian memicu kecaman dari kelompok aktivis hewas setempat, Coexistence of Animal Rights on Earth. Kelompok tersebut bahkan menawarkan uang sebesar 3 juta won bagi setiap informasi atas pelaku atau dalang di balik aksi pembakaran anjing tersebut.
"Apapun yang ingin mereka lakukan, apakah mereka ingin membunuhnya, memakannya atau menyiksa anjing tersebut, hal ini tidak bisa ditolerir dengan alasan apapun," tegas kelompok tersebut.
Di Korsel, daging anjing merupakan salah satu hidangan tradisional yang dinikmati warga setempat. Namun seiring berkembangnya zaman, semakin banyak warga Korsel yang menentang hidangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan Korsel di dunia internasional.
Sementara itu di China, parlemen sedang membahas undang-undang yang bakal memenjarakan atau mendenda konsumen maupun penjual masakan daging anjing dan kucing. Tingkat konsumsi masakan berbahan hewan kesayangan manusia itu memang tinggi di kawasan Asia Timur, terutama China dan Korea.(dbs/bhc/mdb) |