JAKARTA, Berita HUKUM - Siapa sangka, di balik sosoknya yang anggun, muslimah berjilbab ini jago bela diri. Dialah Anaway Anaway Iriani Mansyur. Saat mengetahui keberanian dan kemampuan silatnya, orang yang berniat jahat kepadanya pun terbirit-birit melarikan diri.
Seperti diberitakan Warta Kota, Senin (12/5) lalu, ketika spion mobilnya akan dicuri penjahat di tengah kemacetan arus lalu lintas di Jakarta beberapa waktu lalu, istri Presiden PKS ini langsung bertindak. Tanpa rasa takut dia turun dari mobil menghajar penjahat sambil berteriak. Malingnya terkejut dan lari tunggang langgang menerobos kemacetan untuk menyelamatkan diri dari kejaran warga.
Di zaman sekarang, ketika kejahatan tidak semakin surut tapi justru terbuka dan terang-terangan, para muslimah perlu mempertimbangkan untuk mampu menjaga dirinya sendiri. Belajar dari Anaway, ketika muslimah menguasai bela diri, ancaman tindak kejahatan pun bisa diatasi, minimal diminimalisir.
Mungkin ada sebagian muslimah yang berpandangan, belajar bela diri adalah hal yang tabu. Sebab bela diri identik dengan kejantanan dan keperkasaan yang lebih cocok dimiliki para ikhwan, para lelaki muslim. Sedangkan muslimah seharusnya lembut dan feminim. Benarkah pandangan tersebut?
Sesungguhnya antara kelembutan –sebagai sitri atau ibu- dan kemampuan bela diri bukanlah dua hal yang dikotomis. Seorang muslimah adalah seorang yang lembut ketika menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Ia tampil feminim dan penuh cinta di hadapan suami. Ia tampil penuh kasih sayang di hadapan anak-anaknya. Namun jika kondisi menghendaki, ia mampu membela diri ketika ada orang yang hendak berbuat jahat kepada dirinya, mau merampas hartanya, atau menistakan keluarganya. Lebih-lebih, ketika panggilan agama datang dan membutuhkan pertolongan semua umatnya, seorang muslimah bisa berperan baik di front logistik maupun ketika perlu di medan peperangan.
Sirah nabawiyah dan sejarah Islam sesudahnya mengabadikan jejak-jejak peran muslimah di medan peperangan. Ketika diperlukan, mereka tampil membela Islam secara fisik, tidak kalah dari kaum laki-laki. Misalnya pada perang Ahzab atau perang Khandaq. Saat itu Madinah dalam kondisi genting. Dari luar datang sekitar 10 ribu pasukan sekutu kafir Quraisy dan Ghathafan. Hampir semua laki-laki Muslim Madinah sibuk bersiaga di garda terdepan parit Madinah yang baru saja selesai dibangun. Sementara di dalam Madinah, Yahudi Bani Quraizhah berkhianat. Mereka hendak membantu pasukan ahzab dan bersiap menyerang Madinah dari dalam.
Shafiyah binti Abdul Muthalib mengisahkan bahwa seorang laki-laki Yahudi mengelilingi benteng tempat persembunyian kaum muslimah dan anak-anak. Karena seluruh Muslim telah berada di garda depan, praktis benteng itu tidak ada yang melindungi, kecuali Hasan bin Tasbit yang menjaga anak-anak.
“Wahai Hassan,” kata Shafiyyah, “Demi Allah aku tidak merasa aman jika sampai titik lemah Madinah ini diketahui oleh kaum yahudi. Maka hampirilah dia dan bunuhlah”
“Engkau tahu, aku tidak mahir dalam urusan bunuh membunuh.” Mendengar jawaban Hassan ini, Shafiyyah kemudian turun tangan sendiri. Ia naik ke atap dengan membawa penyangga. Saat berhasil mendekati laki-laki yahudi tersebut, ia hantam kepalanya hingga roboh.
Mengetahui rekannya tewas, bani Quraizhah takut dan menyangka bahwa benteng itu dilindungi pasukan Muslim. Mereka pun urung menyerang Madinah.
Saat ini, di belahan bumi Islam sebagian kaum muslimah juga berjuang dan membantu perjuangan dengan kemampuan bela diri dan pertahanan mereka. Misalnya para muslimah di Palestina dan sebagian mujahidah di Suriah.
Bagaimana saudariku, masih ragu untuk belajar bela diri dan berani melindungi diri sendiri?.
Seni bela diri merupakan satu kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang mempertahankan /membela diri. Seni bela diri telah lama ada dan berkembang dari masa ke masa.
Pada dasarnya, manusia mempunyai insting untuk selalu melindungi diri dan hidupnya. Dalam tumbuh atau berkembang, manusia tidak dapat lepas dari kegiatan fisiknya, kapan pun dan dimanapun. Hal inilah yang akan memacu aktivitas fisiknya sepanjang waktu. Pada zaman kuno,tepatnya sebelum adanya persenjataan modern, manusia tidak memikirkan cara lain untuk mempertahankan dirinya selain dengan tangan kosong.
Pada saat itu, kemampuan bertarung dengan tangan kosong dikembangkan sebagai cara untuk menyerang dan bertahan, kemudian digunakan untuk meningkatkan kemampuan fisik / badan seseorang. Meskipun begitu, pada zaman-zaman selanjutnya, persenjataan pun mulai dikenal dan dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan diri.
Dapat dikatakan bahwa, seni bela diri tersebar di seluruh penjuru dunia ini dan hampir setiap negara mempunyai seni bela diri yang berkembang di daerah masing-masing, maupun merupakan sebuah serapan dari seni bela diri lain yang berkembang di daerah asalnya. Sebagai contoh seni silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara ASEAN dan terdapat di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei.(Webmuslimah.com/wikipedia/bhc/sya) |